KABARBURSA.COM – Harga emas dunia naik lagi usai data inflasi Amerika Serikat menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan. Emas spot ditutup naik 1,6 persen ke level USD4.063,78 per ons, sementara emas berjangka Amerika Serikat kontrak Agustus menguat dengan persentase yang sama ke posisi USD4.069,70 per ons.
Saat ini, pasar merespons perlambatan inflasi sebagai sinyal bahwa tekanan harga mulai mereda. Dengan begitu, ruang bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli semakin besar.
Perubahan sentimen tersebut menjadi faktor utama yang mengangkat harga emas. Selama beberapa pekan terakhir, pasar cenderung berhati-hati karena masih memperhitungkan kemungkinan bank sentral Amerika kembali memperketat kebijakan moneternya. Namun, data inflasi terbaru mengubah ekspektasi tersebut.
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) naik 3,5 persen secara tahunan pada Juni, melambat dibandingkan 4,2 persen pada Mei. Di saat yang sama, inflasi inti atau core CPI tercatat tidak berubah secara bulanan setelah pada bulan sebelumnya meningkat 0,2 persen.
Perlambatan inflasi segera tercermin pada ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve. Pelaku pasar hampir sepenuhnya menghapus spekulasi bahwa bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC), yang dijadwalkan berlangsung pada 28–29 Juli.
Perubahan ekspektasi suku bunga tersebut memiliki hubungan langsung dengan pergerakan emas. Ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, biaya peluang untuk memegang emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil ikut berkurang.
Kondisi inilah yang kemudian mendorong permintaan terhadap logam mulia kembali meningkat.
Indeks Dolar AS Turun 0,6 Persen
Selain dipengaruhi data inflasi, penguatan emas juga memperoleh tambahan dukungan dari pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat. Indeks Dolar AS (DXY) turun 0,6 persen pada perdagangan Selasa waktu setempat, sehingga membuat harga emas menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Pelemahan dolar tersebut memperluas daya tarik emas di pasar internasional dan memperkuat momentum kenaikan harga.
Namun, arah pergerakan emas belum sepenuhnya terbebas dari risiko. Fokus investor kini bergeser menuju data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat yang akan dirilis pada Rabu.
Data tersebut akan menjadi indikator lanjutan untuk melihat apakah tekanan inflasi di tingkat produsen juga mulai mereda atau justru kembali meningkat.
Di sisi lain, Chairman Federal Reserve Kevin Warsh, dalam kesaksiannya di hadapan House Financial Services Committee kembali menegaskan bahwa prioritas utama bank sentral tetap mengembalikan inflasi menuju target 2 persen.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa meskipun data inflasi memberikan ruang bagi kebijakan yang lebih longgar, arah kebijakan moneter masih akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi berikutnya.
Rudal Balistik Iran Tingkatkan Ketegangan
Faktor lain yang terus menjadi perhatian pasar adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania.
Sebagai aksi balasan, militer Amerika melakukan serangan terhadap sejumlah target Iran dalam konflik yang berkaitan dengan kawasan Selat Hormuz. Eskalasi tersebut mendorong harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam sekitar empat pekan.
Perkembangan ini menghadirkan dua pengaruh yang berbeda terhadap pasar emas. Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik biasanya memperkuat permintaan terhadap aset safe haven seperti emas.
Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi kembali mendorong inflasi sehingga dapat memperpanjang periode suku bunga tinggi apabila tekanan harga kembali meningkat.
Karena itu, pelaku pasar kini tidak hanya mencermati perkembangan inflasi, tetapi juga dinamika harga minyak dan situasi geopolitik yang dapat memengaruhi kebijakan bank sentral.

Harga Logam Mulia Lain Ikut Terkerek
Penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot naik 2 persen menjadi USD58,79 per ons. Platinum bertambah 1,6 persen ke level USD1.629,83 per ons, sedangkan paladium mencatat kenaikan paling tinggi dengan lonjakan 4,8 persen menjadi USD1.307,30 per ons.
Kenaikan yang berlangsung hampir merata pada kelompok logam mulia menunjukkan bahwa perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat memberikan dampak luas terhadap pasar komoditas.
Harga Emas dan Perak Antam Stabil
Sementara itu, pergerakan harga logam mulia di dalam negeri belum mengikuti lonjakan harga global. Harga emas Antam pada Rabu, 15 Juli 2026, tercatat bertahan di Rp2.615.000 per gram atau tidak berubah dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.
Stabilnya harga tersebut terjadi setelah emas Antam sempat mengalami penurunan sebesar Rp20.000 per gram pada awal pekan.
Harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga tidak mengalami perubahan dan tetap berada di level Rp2.352.000 per gram. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar domestik masih melakukan penyesuaian setelah koreksi yang terjadi sebelumnya, meskipun harga emas internasional telah kembali menguat.
Pergerakan serupa terlihat pada harga perak batangan Antam. Pada Rabu, harga perak tercatat tetap berada di Rp38.900 per gram, sama dengan posisi sehari sebelumnya. Sebelumnya, harga perak Antam sempat turun tajam sebesar Rp1.250 per gram pada awal pekan sebelum akhirnya bergerak stabil.
Perbedaan arah antara harga emas dunia yang melonjak dan harga logam mulia Antam yang masih stagnan menunjukkan bahwa pasar domestik belum sepenuhnya merefleksikan perubahan sentimen global.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data inflasi lanjutan di Amerika Serikat, perkembangan konflik di Timur Tengah, serta arah kebijakan Federal Reserve yang akan menjadi faktor utama dalam menentukan pergerakan harga emas di pasar internasional maupun domestik.(*)