KABARBURSA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini memasuki fase yang lebih selektif setelah gagal mempertahankan penguatan hingga akhir perdagangan sebelumnya.
Meskipun sempat menguat hampir 1 persen dan menyentuh level 6.095, tekanan jual yang kembali muncul, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, membuat laju indeks tertahan sehingga hanya ditutup naik tipis 0,03 persen di level 6.039.
Pada dasarnya, minat beli masih mampu mendorong indeks ke area yang lebih tinggi. Namun, aksi ambil untung pada saham-saham unggulan membatasi ruang penguatan. Jadi, tidak heran jika kemudian pelaku pasar kini lebih mencermati apakah IHSG mampu mempertahankan tren kenaikan atau justru memasuki fase konsolidasi dalam jangka pendek.
Berapa Target Posisi IHSG?
Dari sisi teknikal, MNC Sekuritas menilai target penguatan awal di level 6.083 telah tercapai. Berdasarkan analisis gelombang Elliott, posisi IHSG diperkirakan masih berada pada bagian dari wave (c) dalam wave [iv] dengan pola triangle.
Skenario tersebut membuka peluang bagi indeks untuk kembali melanjutkan penguatan menuju area 6.137 hingga 6.254 apabila momentum beli tetap terjaga.
Meski demikian, ruang koreksi jangka pendek masih perlu diantisipasi. Area 5.974 hingga 6.020 diperkirakan menjadi zona koreksi terdekat yang akan menguji kekuatan tren naik saat ini.
Sementara itu, level support berada di 5.839 dan 5.607, sedangkan area resistance berikutnya berada pada 6.286 hingga 6.599.
Pandangan yang relatif sejalan juga disampaikan Phintraco Sekuritas. Berdasarkan indikator teknikal, histogram Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih menunjukkan sinyal positif yang menandakan momentum penguatan belum sepenuhnya hilang.
Namun, indikator stochastic Relative Strength Index (RSI) telah memasuki area overbought, yang mengindikasikan potensi terbatasnya ruang kenaikan dalam jangka sangat pendek.
Dengan kombinasi kedua indikator tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada rentang 5.950 hingga 6.125 sepanjang perdagangan Rabu, 15 Juli 2026.
Pasar Tunggu Rilis Data PPI AS
Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga tengah menunggu sejumlah sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi arah perdagangan. Fokus utama investor tertuju pada rilis data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat periode Juni 2026 yang diperkirakan melandai menjadi 6,2 persen secara tahunan dari sebelumnya 6,5 persen pada Mei.
Data tersebut akan menjadi indikator lanjutan setelah laporan inflasi konsumen Amerika Serikat menunjukkan perlambatan lebih besar dari perkiraan. Apabila inflasi produsen juga bergerak turun, ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli berpotensi semakin menguat.
Prospek tersebut dapat menjadi sentimen positif bagi pasar saham global, termasuk pasar modal Indonesia.
Namun, ruang optimisme tersebut masih dibayangi perkembangan geopolitik. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkat telah mendorong harga minyak dunia naik ke level tertinggi dalam sekitar satu bulan terakhir.
Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan biaya produksi global apabila berlangsung dalam periode yang lebih panjang.
Kondisi tersebut membuat pasar berada di antara dua sentimen yang saling berlawanan. Di satu sisi, perlambatan inflasi membuka peluang kebijakan moneter yang lebih akomodatif.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak berpotensi kembali mendorong tekanan inflasi sehingga dapat memengaruhi arah kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Saham-saham Apa Saja yang Direkomendasikan?
Di tengah kondisi tersebut, perhatian investor domestik juga tertuju pada sejumlah saham yang dinilai masih memiliki peluang teknikal.

MNC Sekuritas menempatkan saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) sebagai salah satu pilihan trading buy. Setelah terkoreksi ke level 635, saham ini masih mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20).
Selama harga tetap berada di atas level 605 sebagai batas stop loss, CDIA diperkirakan sedang memasuki awal wave [A]. Area akumulasi berada pada kisaran 620 hingga 630 dengan target harga 715 dan 755.
Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga masih menunjukkan struktur teknikal yang positif. Harga saham ditutup menguat 1,55 persen ke level 4.590 disertai peningkatan volume transaksi dan bertahan di atas MA200.
Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa saham ini diperkirakan sedang memasuki awal wave C dari wave (A). Area buy on weakness berada pada rentang 4.340 hingga 4.560 dengan target harga 4.880 dan 5.125 serta batas stop loss di bawah 3.920.
Pilihan berikutnya adalah saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR). Saham emiten pelayaran tersebut naik 0,71 persen ke level 282 dengan dukungan volume pembelian yang meningkat. Posisi harga yang masih berada di atas MA20 dinilai memperkuat indikasi awal wave [iii] dari wave 1.
Area trading buy berada pada kisaran 276 hingga 282 dengan target harga 296 dan 310 serta stop loss di bawah level 270.
Sementara itu, saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) menjadi salah satu emiten dengan penguatan paling tinggi setelah melonjak 9,58 persen ke level 1.830. Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan peningkatan volume pembelian yang signifikan.
Berdasarkan analisis teknikal, WIFI diperkirakan memasuki awal wave (C) dari wave [B]. Investor yang menerapkan strategi buy on weakness dapat mencermati area 1.610 hingga 1.775 dengan target harga 1.980 dan 2.160 serta stop loss di bawah 1.605.
Secara keseluruhan, pergerakan IHSG pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi kombinasi faktor teknikal dan sentimen global.
Setelah berhasil kembali menembus level psikologis 6.000, indeks kini menghadapi fase pengujian untuk menentukan apakah momentum kenaikan masih dapat berlanjut menuju area resistance berikutnya atau justru bergerak mendatar sambil menunggu kepastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan perkembangan konflik geopolitik yang memengaruhi pasar energi global.(*)