KABARBURSA.COM - Ketua Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Yudianto Tri, mendorong koperasi pedagang pasar di seluruh Indonesia mengambil peran lebih besar dalam mengelola berbagai aset bisnis di kawasan pasar. Langkah tersebut dinilai mampu memperkuat kemandirian koperasi sekaligus meningkatkan kesejahteraan pedagang sebagai anggota.
Yudianto mengatakan koperasi pasar tidak semata berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam atau organisasi pedagang. Menurutnya, koperasi memiliki peluang besar mengembangkan berbagai unit usaha produktif yang berkaitan langsung dengan aktivitas perdagangan di pasar tradisional.
Ia menilai potensi ekonomi di kawasan pasar masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal oleh koperasi. Karena itu, pengelolaan berbagai layanan penunjang pasar perlu dipercayakan kepada koperasi agar manfaat ekonominya kembali kepada para anggota.
“Khususnya untuk koperasi-koperasi pasar di bawah naungan Inkoppas dan Puskoppas perlu didayagunakan," kata Yudianto kepada Kabarbursa.com, Rabu, 9 Juli 2026.
Menurut Yudianto, koperasi dapat mengelola berbagai aset maupun layanan operasional pasar sebagai sumber pendapatan baru yang berkelanjutan.
Ia menyebut sejumlah sektor yang berpotensi dikelola koperasi, antara lain jasa perparkiran, keamanan, kebersihan, serta berbagai layanan pendukung aktivitas perdagangan di pasar.
“Misalnya bisnis jasa perparkiran, jasa keamanan, jasa pengelola kebersihan dan bisnis-bisnis lainnya yang menunjang kegiatan perpasaran di masing-masing pasar tersebut,” ujarnya.
Yudianto meyakini keterlibatan koperasi dalam pengelolaan aset bisnis akan menciptakan nilai tambah bagi organisasi sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota.
Pendapatan dari unit-unit usaha tersebut, lanjutnya, dapat dimanfaatkan untuk memperkuat permodalan koperasi, meningkatkan kualitas pelayanan, serta mendukung berbagai program pemberdayaan pedagang.
Ia menilai model tersebut sejalan dengan prinsip koperasi sebagai badan usaha milik anggota yang dikelola secara bersama. Semakin banyak unit usaha yang dikelola, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dinikmati anggota.
Selain pengembangan usaha, Yudianto meminta pemerintah memperkuat dukungan terhadap gerakan koperasi nasional. Menurutnya, koperasi masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan daya saing di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan teknologi.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menghadirkan regulasi yang mendukung, tetapi juga memperluas akses permodalan, pelatihan, peluang usaha, digitalisasi, serta pengembangan sumber daya manusia.
“Inkoppas mengharapkan Kemenkop agar lebih memperhatikan perkembangan gerakan koperasi ke depan, terutama dukungan terhadap akses permodalan, pelatihan, peluang berusaha, digitalisasi dan regenerasi yang menjadi tantangan untuk meraih peluang berusaha bagi koperasi-koperasi di Indonesia,” katanya.
Yudianto menambahkan digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda agar koperasi mampu bersaing di era modern. Pemanfaatan teknologi dinilai dapat meningkatkan efisiensi pengelolaan sekaligus memperluas layanan kepada anggota.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi kepengurusan koperasi. Keterlibatan generasi muda diyakini akan menghadirkan inovasi dan memastikan keberlanjutan gerakan koperasi di masa mendatang.
Inkoppas berharap koperasi pasar ke depan tidak hanya menjadi wadah berhimpunnya pedagang, tetapi juga berkembang sebagai badan usaha yang mampu mengelola aset produktif, menciptakan nilai ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan anggota secara berkelanjutan.
Gandeng BTN Percepat Digitalisasi dan Akses Pembiayaan
Yudi melanjutkan, Inkoppas telah menjalin kerja sama dengan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) untuk mempercepat digitalisasi pasar tradisional dan memperluas akses pembiayaan bagi pedagang.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang mencakup pengembangan sistem pembayaran digital, peningkatan literasi keuangan, serta penyediaan berbagai layanan perbankan bagi pedagang pasar.
Yudianto Tri mengatakan, kerja sama itu menjadi langkah penting dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang melalui pemanfaatan teknologi digital dan akses pembiayaan yang lebih mudah.
“Ke depan kita akan berkolaborasi terutama dalam hal digitalisasi pasar, kemudian juga bantuan literasi keuangan ataupun kredit yang mungkin diperlukan oleh pedagang pasar, baik untuk kegiatan usaha, kepemilikan rumah, maupun kepemilikan kios usaha," ujar Yudianto.
Menurut Yudianto, digitalisasi akan menghasilkan data usaha pedagang yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penilaian kelayakan kredit. Dengan sistem big data dan credit scoring, bank dapat menawarkan produk pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing pedagang.
“Melalui data yang dikumpulkan, kita bisa mengetahui credit scoring dari masing-masing pedagang dan fasilitas apa yang bisa diberikan BTN. Tujuannya menciptakan pedagang pasar yang lebih sejahtera, melek digital, serta mampu mengelola keuangan dan bisnisnya dengan lebih baik,” katanya.
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menilai digitalisasi pedagang pasar merupakan langkah strategis untuk memperluas inklusi keuangan di sektor perdagangan tradisional.
“Kita berusaha secara bertahap mendigitalisasi sistem pembayaran dan sistem keuangan para pedagang pasar. Ini sektor yang paling tradisional, tetapi justru punya potensi besar untuk dikembangkan melalui digitalisasi,” ujar Nixon.
Ia menjelaskan, digitalisasi memungkinkan perbankan memperoleh data transaksi dan arus kas pedagang secara lebih akurat. Data tersebut menjadi dasar dalam menentukan kapasitas usaha sekaligus menawarkan produk pembiayaan yang tepat.
“Kalau datanya sudah diketahui, pedagang tidak perlu mencari kredit, justru bank yang akan menawarkan. Kita bisa melihat kapasitas usaha, cashflow, dan kemudian memberikan produk yang sesuai, termasuk KPR subsidi, KUR perumahan, hingga KUR produktif,” jelasnya.
Sebagai tahap awal, BTN akan memprioritaskan implementasi digitalisasi di pasar-pasar yang berada di sekitar jaringan operasional perseroan. Langkah ini diharapkan mempercepat penerapan program sekaligus memberikan manfaat langsung bagi pedagang.
Sementara itu, Sekretaris Deputi Bidang Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Nuryanto, menyambut positif kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi Inkoppas dan BTN akan memperkuat tata kelola koperasi sekaligus meningkatkan kapasitas digital anggotanya.
“Kami berharap kerja sama ini dapat meningkatkan literasi digital di kalangan Inkoppas hingga anggota perorangan. Digitalisasi sangat berkaitan dengan peningkatan kinerja koperasi, termasuk tata kelola yang selama ini masih menjadi tantangan,” kata Rully.
Ia menambahkan digitalisasi juga akan memperkuat posisi Inkoppas sebagai apex koperasi pedagang pasar di Indonesia.
“Ke depan, kerja sama ini diharapkan mendukung peningkatan peran Inkoppas sebagai apex koperasi, khususnya bagi koperasi-koperasi pedagang pasar, sekaligus mempercepat peningkatan kinerja koperasi secara keseluruhan," ujarnya.
Melalui sinergi tersebut, Inkoppas dan BTN berharap dapat mempercepat transformasi pasar tradisional menuju ekosistem digital yang lebih modern, memperluas akses pembiayaan, meningkatkan literasi keuangan, serta memperkuat daya saing pedagang di era ekonomi digital. (*)