KABARBURSA.COM – Emiten properti PT Indonesian Paradise Property Tbk atau INPP melanjutkan ekspansi bisnis di luar Jakarta melalui pembukaan 23 Semarang Shopping Center dan peluncuran kawasan komersial 88 Plaza Balikpapan. Perseroan menyatakan langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan pendapatan berulang (recurring income).
Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, 23 Semarang Shopping Center mencatat lebih dari 30.000 pengunjung pada hari pertama beroperasi. Sementara itu, sekitar 40 persen unit ruko di 88 Plaza Balikpapan telah terjual pada tahap awal pemasaran.
Presiden Direktur PT Indonesian Paradise Property Tbk, Andri Hadi, mengatakan pengembangan kedua proyek tersebut merupakan bagian dari strategi ekspansi perusahaan di sejumlah kota.
“Kehadiran 23 Semarang Shopping Center dan peluncuran komersial 88 Plaza Balikpapan merupakan bagian dari strategi Paradise Indonesia menghadirkan destinasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat di setiap kota tempat kami berinvestasi," ujar Andri dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu, 15 Juli 2026.
Wakil Presiden Direktur PT Indonesian Paradise Property Tbk, Surina mengatakan perseroan menargetkan porsi pendapatan berulang tetap berada di kisaran 70 persen.
"Kami menargetkan recurring income tetap berada di kisaran 70 persen, dan proyek-proyek ini akan menjadi pendorong utama pencapaian target tersebut ke depan," katanya.
Perseroan menyebut kontribusi 23 Semarang Shopping Center mulai tercermin pada kinerja tahun ini. Adapun 88 Plaza Balikpapan diproyeksikan mulai memberikan kontribusi setelah proyek memasuki tahap operasional.
Pada kuartal I 2026, INPP membukukan pendapatan sebesar Rp326,90 miliar atau naik 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menyebut pertumbuhan tersebut ditopang oleh seluruh segmen usaha, dengan segmen komersial menjadi kontributor terbesar.
Selain mengembangkan proyek baru, perusahaan juga melakukan revitalisasi sejumlah hotel dan pusat perbelanjaan yang telah beroperasi. Untuk tahun ini, INPP menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5 hingga 10 persen yang akan didukung oleh kontribusi proyek-proyek baru dan optimalisasi aset yang telah dimiliki.
Berdasarkan data perdagangan, PT Indonesian Paradise Property Tbk memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp7,83 triliun dengan jumlah saham beredar 11,18 miliar lembar. Porsi saham yang beredar di publik tercatat sebesar 8,24 persen.
Angka tersebut masih berada di bawah ketentuan minimum 15 persen sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-A Tahun 2026 untuk perusahaan tercatat dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun.
Fundamental INPP Mulai Pulih
Di balik strategi ekspansi INPP, laporan keuangan mereka menunjukkan perusahaan mulai memasuki fase pemulihan. Sejumlah indikator operasional membaik, namun profitabilitas secara keseluruhan masih menghadapi tantangan setelah mencatat rugi bersih sepanjang 2025.
Berdasarkan laporan keuangan kuartal I 2026, INPP membukukan laba bersih sebesar Rp6,1 miliar. Capaian tersebut berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mencatat rugi Rp159,1 miliar.
Meski demikian, margin laba bersih perseroan masih relatif tipis, yakni 1,9 persen, sementara margin laba kotor mencapai 64,8 persen dan EBITDA margin sebesar 26,1 persen. Kondisi ini menunjukkan bisnis inti perusahaan masih mampu menghasilkan margin yang kuat, namun laba bersih tetap tertekan oleh beban di luar operasional.
Dari sisi struktur permodalan, kondisi neraca INPP relatif terjaga. Berdasarkan data fundamental perusahaan, rasio lancar (current ratio) berada di level 3,50 kali dengan quick ratio sebesar 2,10 kali. Sementara debt to equity ratio tercatat sekitar 0,39 kali, yang mengindikasikan penggunaan utang masih berada pada level yang relatif konservatif untuk sektor properti.
Likuiditas tersebut memberi ruang bagi perseroan untuk melanjutkan pengembangan proyek tanpa tekanan utang jangka pendek yang besar. Dalam laporan keuangan kuartal I 2026, total aset INPP tercatat mencapai Rp10,25 triliun dengan total ekuitas sebesar Rp6,78 triliun.
Di sisi lain, indikator profitabilitas berbasis trailing twelve months (TTM) masih menunjukkan tekanan. Return on Asset (ROA) dan Return on Equity (ROE) masih berada di area negatif karena perhitungan tersebut masih dipengaruhi kinerja sepanjang 2025, ketika perseroan membukukan rugi bersih Rp98,6 miliar.
Pada tahun tersebut, pendapatan memang tumbuh 32,9 persen menjadi Rp1,74 triliun, namun laba bersih berbalik menjadi negatif setelah pada 2024 masih mencatat keuntungan Rp334,9 miliar.
Dari sisi valuasi, saham INPP diperdagangkan dengan price to book value (PBV) sekitar 1,35 kali berdasarkan data perdagangan terkini. Rasio tersebut menunjukkan pasar menghargai nilai perusahaan sedikit di atas nilai buku asetnya.
Sementara itu, rasio enterprise value terhadap EBITDA (EV/EBITDA) berada di kisaran 19 kali, mencerminkan ekspektasi investor terhadap potensi pertumbuhan kinerja operasional perseroan.
Sebaliknya, rasio price to earnings (PER) belum menjadi acuan yang representatif. Laba yang masih relatif tipis setelah periode rugi membuat PER tahunan berada pada level tinggi, sedangkan PER berbasis trailing twelve months masih berada di wilayah negatif akibat akumulasi rugi pada tahun sebelumnya.
Selain valuasi, struktur kepemilikan saham juga menjadi perhatian. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp7,66 triliun dan jumlah saham beredar 11,18 miliar lembar, porsi saham publik atau free float INPP tercatat sebesar 8,24 persen. Angka tersebut masih berada di bawah ketentuan minimum 15 persen bagi emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp5 triliun sebagaimana diatur dalam Peraturan Bursa Nomor I-A Tahun 2026.(*)