Market Watch

09 Jul 2026

MMIX 785 +23,62%
JAST 94 +22,08%
ARTO 1.200 +18,23%
SOCI 354 +15,69%
NTBK 90 +15,38%
NSSS 710 +14,52%
AHAP 103 +13,19%
DEWA 332 +11,41%
RAJA 4.350 +10,97%
SOSS 1.105 +9,95%
TFCO 735 +9,70%
LMAX 102 +9,68%
PGLI 210 +9,38%
VKTR 545 +9,00%
ALII 745 +8,76%
YPAS 655 +8,26%
JARR 1.920 +7,87%
BMSR 304 +7,80%
YELO 74 +7,25%
ASMI 15 +7,14%
PJHB 166 +7,10%
BWPT 78 +6,85%
BRPT 1.600 +6,67%
NICK 1.040 +6,67%
MMIX 785 +23,62%
JAST 94 +22,08%
ARTO 1.200 +18,23%
SOCI 354 +15,69%
NTBK 90 +15,38%
NSSS 710 +14,52%
AHAP 103 +13,19%
DEWA 332 +11,41%
RAJA 4.350 +10,97%
SOSS 1.105 +9,95%
TFCO 735 +9,70%
LMAX 102 +9,68%
PGLI 210 +9,38%
VKTR 545 +9,00%
ALII 745 +8,76%
YPAS 655 +8,26%
JARR 1.920 +7,87%
BMSR 304 +7,80%
YELO 74 +7,25%
ASMI 15 +7,14%
PJHB 166 +7,10%
BWPT 78 +6,85%
BRPT 1.600 +6,67%
NICK 1.040 +6,67%
Makro 10 Jul 2026 Penulis: Yunila Wati Editor: Yunila Wati

Ketakutan Inflasi AS Seret Harga Minyak Jatuh Dua Persen

Brent dan WTI kembali terkoreksi meski konflik AS-Iran memanas dan pelayaran Selat Hormuz belum pulih penuh. Pasar lebih mencemaskan inflasi, suku bunga, dan pelemahan permintaan energi.

Harga minyak dunia jatuh 2 persen meski konflik AS-Iran memanas. Pasar lebih takut inflasi, suku bunga tinggi, dan perlambatan ekonomi.

Ketegangan politik antara AS-Iran belum juga reda, namun harga minyak mulai tertekan dalam. Ketakutan inflasi dan kekhawatiran akan suku bunga AS, menjadi salah satu alasan koreksi harga minyak dunia. (Foto: KabarBursa)
Ketegangan politik antara AS-Iran belum juga reda, namun harga minyak mulai tertekan dalam. Ketakutan inflasi dan kekhawatiran akan suku bunga AS, menjadi salah satu alasan koreksi harga minyak dunia. (Foto: KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Ketegangan Timur Tengah Belum Berakhir?
  2. 02 Pasokan Minyak Belum Memadai?
  3. 03 Pejabat AS Khawatirkan Hasil Rapat The Fed
  4. 04 Perkembangan China Ikut Tekan Harga Minyak?

KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia kembali terkoreksi tajam pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Namun, kali ini pemicunya bukan dari meredanya risiko geopolitik. Tekanan justru datang dari ketakutan bahwa inflasi yang lebih tinggi akan mendorong kebijakan suku bunga semakin ketat dan memperlambat ekonomi global.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup anjlok USD1,72 atau 2,2 persen menjadi USD76,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate atau WTI turun USD1,44 atau 2 persen ke posisi USD72,08 per barel.

Koreksi terjadi hanya sehari setelah kedua kontrak mencatat penguatan. Brent sebelumnya mencapai penutupan tertinggi sejak 19 Juni, sedangkan WTI menyentuh level tertinggi sejak 22 Juni. Perhatian pasar mulai bergeser dari kekhawatiran pasokan menuju risiko inflasi dan perlambatan permintaan.

Ketegangan Timur Tengah Belum Berakhir?

Padahal, ketegangan di Timur Tengah belum berakhir. Militer Iran pada Kamis melancarkan serangan terhadap infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. 

Serangan tersebut kembali menekan keberlangsungan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.

Situasi juga memanas di dalam wilayah Iran. Sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di berbagai lokasi, termasuk Bushehr, kawasan yang menjadi lokasi salah satu pembangkit listrik tenaga nuklir negara tersebut. 

Serangan berlangsung bertepatan dengan rangkaian pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di kompleks makam Mashhad.

Dalam kondisi normal, eskalasi seperti ini sebenarnya dapat mendorong harga minyak naik karena pasar memperhitungkan risiko gangguan pasokan. Namun pada perdagangan kali ini, kekhawatiran terhadap ekonomi justru mengambil alih perhatian investor.

Global Energy Strategist Macquarie Group Vikas Dwivedi, menilai Amerika Serikat dan Iran sama-sama menghadapi batasan ekonomi serta politik. Kondisi tersebut membuat peluang konflik berkepanjangan dinilai relatif kecil.

Sinyal diplomasi juga mulai muncul. Qatar, yang selama ini berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran, mengecam serangan terhadap kapal-kapal komersial dan menyerukan kembalinya jalur diplomasi. 

Menteri luar negeri Turki dan Oman turut menghubungi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi untuk mendorong agar eskalasi militer tidak berlanjut.

Director of Energy Futures Mizuho Bob Yawger, menilai Iran mulai membuka kemungkinan meredakan konflik dan kembali ke meja perundingan setelah dua hari serangan berlangsung.

Pasokan Minyak Belum Memadai?

Meski demikian, persoalan pasokan belum sepenuhnya selesai. Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan serangan Amerika Serikat serta intervensi terhadap pengalihan jalur pelayaran telah menghambat pembukaan kembali Selat Hormuz.

Jalur ini memiliki posisi penting dalam perdagangan energi global. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz. Karena itu, setiap gangguan terhadap kapal tanker dapat langsung memengaruhi perhitungan pasokan internasional.

Goldman Sachs memperkirakan arus minyak dari Teluk Persia sempat pulih hingga lebih dari 80 persen dibandingkan kondisi sebelum perang dalam 10 hari pertama setelah selat dibuka kembali. Namun setelah serangan terbaru terhadap kapal tanker, volume pengiriman kembali turun ke sekitar 70 persen dari tingkat normal.

Artinya, risiko pasokan masih ada. Tetapi harga Brent dan WTI tetap turun sekitar 2 persen. Fokus pasar kini lebih kuat tertuju pada kemungkinan bahwa kenaikan harga energi akan memperburuk inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan kebijakan moneter ketat.

Pejabat AS Khawatirkan Hasil Rapat The Fed

Dari Amerika Serikat, risalah rapat Federal Reserve pada 16–17 Juni memperlihatkan meningkatnya kekhawatiran pejabat terhadap tekanan harga. Meski pasar tenaga kerja diperkirakan tetap relatif stabil, persoalan inflasi kembali menjadi bagian penting dalam pembahasan kebijakan moneter.

Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan dirinya tidak memperkirakan kenaikan harga energi akan berlangsung lama meski konflik Timur Tengah kembali memanas. Namun, ia tidak memberikan petunjuk mengenai sikap yang akan diambil pada rapat kebijakan moneter akhir bulan ini.

Di sinilah tekanan terhadap minyak terbentuk. Jika inflasi bertahan tinggi, suku bunga dapat tetap berada pada level tinggi atau kembali dinaikkan. Biaya pinjaman yang lebih mahal dapat menekan konsumsi, investasi, aktivitas industri, dan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi permintaan energi.

Perkembangan China Ikut Tekan Harga Minyak?

Kekhawatiran serupa muncul dari China. Inflasi harga produsen atau PPI sepanjang Juni melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun. Kenaikan biaya di tingkat produsen terjadi ketika permintaan domestik masih lemah, sehingga kemampuan perusahaan untuk meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen menjadi terbatas.

Bagi pasar minyak, perkembangan China memiliki bobot besar karena negara tersebut merupakan salah satu pusat permintaan energi dunia. Tekanan terhadap aktivitas manufaktur dan margin perusahaan menjadi bagian dari perhitungan investor terhadap prospek konsumsi minyak global.

Pada saat yang sama, perang Rusia-Ukraina tetap menambah ketidakpastian pasokan. Militer Ukraina mengklaim drone mereka menyerang belasan kapal tanker Rusia di Laut Azov untuk mengganggu pasokan bahan bakar bagi pasukan Rusia dan mengisolasi wilayah Krimea yang diduduki Moskow.

Sehari sebelumnya, kontrak berjangka solar AS mencatat lonjakan harian terbesar dalam empat tahun setelah Rusia mengumumkan larangan ekspor bahan bakar diesel. Keputusan tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai ketersediaan produk energi global.

Pasar juga mempertimbangkan skenario berbeda. Jika terdapat kemajuan menuju penyelesaian perang Ukraina, sebagian sanksi terhadap Rusia berpotensi dilonggarkan. Kondisi itu dapat membuka ruang bagi peningkatan ekspor minyak Rusia, yang pada 2025 tercatat sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga dunia setelah Amerika Serikat dan Arab Saudi.

Perdagangan Kamis memperlihatkan perubahan fokus di pasar energi. Konflik AS-Iran tetap memanas, Selat Hormuz belum kembali normal, dan perang Rusia-Ukraina masih mengganggu rantai pasokan. Namun semua itu belum cukup menahan Brent dan WTI dari koreksi sekitar 2 persen.

Brent turun ke USD76,30 per barel dan WTI melemah menjadi USD72,08 per barel. Di tengah risiko perang yang belum selesai, pasar justru lebih mencemaskan rangkaian dampak berikutnya, yaitu harga energi yang tinggi, inflasi yang bertahan, suku bunga yang lebih ketat, ekonomi yang melambat, dan pada akhirnya permintaan minyak yang melemah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait