Logo
>

Konsumsi Tumbuh 4,52 Persen, Industri TPT Justru Tertekan

Konsumsi pakaian dan alas kaki naik 4,52 persen pada 2025, namun industri pakaian jadi domestik justru kontraksi menurut data IKI Februari 2026.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Konsumsi Tumbuh 4,52 Persen, Industri TPT Justru Tertekan
Ilustrasi tekstil dan produk tekstil. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Peningkatan konsumsi rumah tangga terhadap produk pakaian dan alas kaki dalam beberapa tahun terakhir belum sepenuhnya diikuti oleh peningkatan kinerja industri pakaian jadi di dalam negeri.

Data pemerintah menunjukkan, konsumsi masyarakat untuk komoditas tersebut meningkat. Namun, industri yang berorientasi pada pasar domestik justru mengalami kontraksi.

Kementerian Perindustrian mencatat kinerja industri pengolahan nasional pada awal 2026 masih berada pada jalur ekspansi. Hal ini tercermin dari Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Februari 2026 yang mencapai 54,02.

Angka tersebut memang turun tipis 0,10 poin dibandingkan Januari 2026, namun naik 0,87 poin dibandingkan Februari 2025 dan menjadi level tertinggi kedua sejak IKI diluncurkan pada November 2022.

Berdasarkan survei tersebut, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, sebanyak 19 subsektor berada pada fase ekspansi dan empat subsektor berada pada fase kontraksi. Subsektor yang berada pada fase ekspansi memiliki kontribusi sebesar 92,9 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas.

“Dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah Industri Pencetakan dan Reproduksi Media Rekaman serta Industri Alat Angkutan Lainnya,” papar Juru Bicara Febri Hendri Antoni Arief dalam Rilis IKI Bulan Februari 2026 di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Menurut Febri, kedua subsektor tersebut mengalami ekspansi seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah sektor industri seperti makanan, minuman, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta alas kaki. Industri pencetakan berperan sebagai sektor pendukung aktivitas produksi di sektor-sektor tersebut.

Selain itu, industri alat angkutan juga terdorong oleh peningkatan penjualan sepeda motor pada Januari 2026 yang mencapai 577.763 unit. Angka ini meningkat 3,11 persen dibandingkan Januari 2025 secara tahunan.

Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi rumah tangga terhadap komoditas pakaian, alas kaki, serta jasa perawatannya mengalami peningkatan. Pada 2024, pertumbuhan konsumsi sektor tersebut tercatat sebesar 2,73 persen dan meningkat menjadi 4,52 persen pada 2025.

Namun, Kementerian Perindustrian mencermati bahwa peningkatan konsumsi tersebut tidak sepenuhnya tercermin pada kinerja industri pakaian jadi di dalam negeri.

Berdasarkan hasil pengamatan terhadap IKI pasar domestik tahun 2025, industri pakaian jadi yang berorientasi pada pasar dalam negeri justru mengalami kontraksi.

“Dengan demikian, terdapat indikasi kuat bahwa kenaikan permintaan tersebut lebih banyak dipenuhi oleh produk impor,” ungkap Febri.

Kementerian Perindustrian menilai momentum peningkatan konsumsi domestik seharusnya dapat dimanfaatkan oleh industri dalam negeri untuk memperkuat struktur manufaktur nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar domestik.

Sementara itu, empat subsektor industri yang tercatat mengalami kontraksi pada Februari 2026 adalah Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus (tidak termasuk furnitur dan barang anyaman dari bambu, rotan dan sejenisnya), Industri Barang Galian Non Logam, Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, serta Reparasi dan Pemasangan Mesin dan Peralatan.

Sekretaris Direktorat Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Sri Bimo Pratomo menjelaskan bahwa Industri Barang Galian Non Logam mengalami kontraksi pada variabel pesanan dan persediaan karena menurunnya permintaan dalam negeri yang berasal dari pengadaan pemerintah.

“Karena bulan ini masih memasuki awal tahun anggaran dan Bulan Ramadhan, sehingga banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan. Sehingga permintaan produk bahan bangunan (BGNL) juga ikut turun. Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tuturnya.

Pada variabel produksi, kontraksi pada Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus dipicu oleh ketidakpastian global serta kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak kesepakatan perdagangan global.

Sementara itu, Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Solehan menyampaikan bahwa subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik mengalami penurunan pada pesanan luar negeri.

“Subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri yang menyebabkan terjadinya kontraksi pada IKI Februari 2026. Selain itu, komponen elektronik berbahan baku semikonduktor saat ini tengah mengalami kelangkaan,” kata Solehan.

Meski demikian, kedua orientasi pasar IKI, baik ekspor maupun domestik, masih berada di zona ekspansi. IKI orientasi ekspor pada Februari 2026 berada di level 54,61 atau melambat 0,01 poin dibandingkan Januari 2026 yang berada di level 54,62. Sementara itu, IKI berorientasi pasar domestik berada di level 53,12, melambat 0,13 poin dibandingkan Januari 2026 yang berada di level 53,25.

Secara umum, kegiatan usaha industri pengolahan pada Februari 2026 masih tergolong baik. Sebanyak 77,6 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik dan stabil. Tingkat optimisme pelaku usaha juga meningkat menjadi 73,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 3,9 persen.

Seluruh variabel pembentuk IKI, yaitu pesanan, produksi, dan persediaan, juga masih berada pada zona ekspansi. Variabel produksi bahkan mencatat ekspansi tertinggi sejak Januari 2025 dan telah berada dalam fase ekspansi selama dua bulan berturut-turut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.