Market Watch

06 Jul 2026

KOKA 135 +35,00%
FUTR 220 +34,97%
ECII 153 +34,21%
RMKO 390 +25,00%
COCO 290 +25,00%
ASPI 414 +24,70%
DEPO 286 +24,35%
MDIA 71 +20,34%
CSMI 82 +18,84%
PADI 89 +12,66%
RGAS 188 +11,24%
VISI 950 +11,11%
TRUS 600 +10,09%
LUCY 715 +10,00%
PSDN 110 +10,00%
BTEK 11 +10,00%
BAPA 378 +9,88%
CASH 191 +9,77%
UDNG 1.410 +9,73%
NINE 79 +9,72%
PPGL 194 +9,60%
SAGE 23 +9,52%
IFSH 1.335 +9,43%
RCCC 93 +9,41%
KOKA 135 +35,00%
FUTR 220 +34,97%
ECII 153 +34,21%
RMKO 390 +25,00%
COCO 290 +25,00%
ASPI 414 +24,70%
DEPO 286 +24,35%
MDIA 71 +20,34%
CSMI 82 +18,84%
PADI 89 +12,66%
RGAS 188 +11,24%
VISI 950 +11,11%
TRUS 600 +10,09%
LUCY 715 +10,00%
PSDN 110 +10,00%
BTEK 11 +10,00%
BAPA 378 +9,88%
CASH 191 +9,77%
UDNG 1.410 +9,73%
NINE 79 +9,72%
PPGL 194 +9,60%
SAGE 23 +9,52%
IFSH 1.335 +9,43%
RCCC 93 +9,41%
Makro 07 Jul 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Moh. Alpin Pulungan

Microsoft Pangkas 4.800 Karyawan di Tengah Ledakan Belanja AI

Microsoft memangkas 4.800 karyawan saat belanja AI terus membengkak. Xbox jadi divisi paling terdampak dalam restrukturisasi terbaru.

Microsoft memangkas 4.800 karyawan atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerjanya di dunia sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis. Divisi Xbox menjadi yang paling terdampak dengan 3.200 posisi dipangkas. Langkah ini dilakukan di tengah lonjakan investasi AI yang diperkirakan mencapai lebih dari USD700 miliar se...

Microsoft PHK 4.800 karyawan di tengah lonjakan investasi AI. Divisi Xbox terdampak paling besar, namun perusahaan membantah AI menggantikan pekerja. Foto: Getty Images
Microsoft PHK 4.800 karyawan di tengah lonjakan investasi AI. Divisi Xbox terdampak paling besar, namun perusahaan membantah AI menggantikan pekerja. Foto: Getty Images

Daftar Isi

  1. 01 Belanja AI Makin Besar, Tekanan Efisiensi Ikut Meningkat

KABARBURSA.COM – Microsoft kembali memangkas jumlah karyawannya di tengah gelombang investasi besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perusahaan perangkat lunak tersebut mengumumkan akan menghapus sekitar 4.800 posisi kerja atau sekitar 2,1 persen dari total tenaga kerjanya di seluruh dunia sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis, termasuk divisi gim Xbox.

Dari total pemangkasan tersebut, sekitar 3.200 posisi berasal dari unit Xbox. Sebanyak 1.600 karyawan mulai diberhentikan pada Senin, 6 Juli 2026, waktu setempat. Selain memangkas tenaga kerja, Microsoft juga akan melepas hingga lima studio pengembang gim sebagai bagian dari penataan ulang bisnis Xbox setelah bertahun-tahun melakukan investasi besar di sektor tersebut.

Dilansir dari Reuters, Selasa, 7 Juli 2026, langkah tersebut diambil setelah Microsoft menggelontorkan dana puluhan miliar dolar Amerika Serikat untuk memperkuat Xbox, termasuk melalui akuisisi Activision Blizzard. Namun, investasi tersebut belum mampu memperkecil jarak persaingan dengan konsol PlayStation milik Sony maupun Nintendo sehingga perusahaan mulai mengevaluasi kembali strategi bisnis gimnya.

Sebagai bagian dari perubahan strategi, Microsoft kini lebih berfokus mendistribusikan gim ke berbagai platform dibandingkan mengandalkan judul eksklusif untuk mendongkrak penjualan konsol Xbox.

Kepala baru Xbox, Asha Sharma, mengatakan restrukturisasi itu juga mencakup pelepasan empat studio gim. Compulsion Games, pengembang South of Midnight, dan Double Fine Productions, kreator Psychonauts, akan menjadi studio independen. Sementara Ninja Theory dan Undead Labs akan dipisahkan agar dapat mengembangkan waralaba Senua dan State of Decay 3 secara mandiri.

Di Prancis, manajemen Arkane Studios yang dikenal melalui gim Dishonored dan saat ini tengah mengembangkan gim Blade berdasarkan karakter Marvel, juga mulai berkonsultasi dengan serikat pekerja untuk meninjau berbagai opsi terkait restrukturisasi.

Belanja AI Makin Besar, Tekanan Efisiensi Ikut Meningkat

Restrukturisasi Microsoft berlangsung ketika perusahaan-perusahaan teknologi global berlomba memperbesar investasi di bidang AI. Reuters mencatat belanja AI perusahaan teknologi besar diperkirakan melampaui USD700 miliar atau sekitar Rp12.460 triliun tahun ini.

Besarnya investasi tersebut membuat investor mulai menuntut perusahaan menunjukkan hasil nyata dari pengembangan AI sekaligus menutup biaya implementasi teknologi tersebut. Amazon dan Meta Platforms juga telah memangkas ribuan karyawan sepanjang tahun ini sebagai bagian dari upaya efisiensi.

Meski demikian, Microsoft menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja kali ini bukan karena posisi para pegawai digantikan AI. Chief People Officer Microsoft Amy Coleman mengatakan, “Posisi yang dihapus hari ini tidak digantikan oleh AI.”

Namun, ia juga mengakui perkembangan AI mulai mengubah cara pekerjaan dilakukan di dalam perusahaan. “Pada saat yang sama, memang benar AI sedang mengubah cara pekerjaan dilakukan,” ujarnya.

Analis Equisights Research, Parth Talsania, menilai langkah Microsoft lebih mencerminkan realokasi portofolio bisnis dan disiplin operasional dibandingkan menjadi katalis baru bagi pergerakan saham perusahaan.

“Dalam jangka pendek, pasar kemungkinan akan lebih menghargai Microsoft apabila monetisasi AI tumbuh lebih cepat dibandingkan kenaikan biaya AI, bukan semata-mata karena pengurangan jumlah karyawan,” kata Talsania.

Pada perdagangan Senin, saham Microsoft turun sekitar 1,4 persen. Sepanjang enam bulan pertama 2026, harga saham perusahaan telah terkoreksi hampir 23 persen, menjadi penurunan semester pertama terdalam sejak 2022.

Sebelumnya, Microsoft juga menawarkan program pengunduran diri sukarela kepada sekitar 7 persen tenaga kerjanya di Amerika Serikat atau sekitar 9.000 karyawan. Perusahaan memang kerap melakukan penyesuaian jumlah pegawai menjelang berakhirnya tahun fiskal pada Juni sebagai bagian dari penyusunan anggaran tahun berikutnya.

Managing Director D.A. Davidson, Gil Luria, menilai pengendalian jumlah tenaga kerja menjadi salah satu cara Microsoft membiayai ekspansi AI.

“Microsoft mengelola jumlah tenaga kerjanya agar dapat membiayai investasi AI. Dengan menjaga jumlah karyawan tetap rendah, mereka mampu mempercepat pertumbuhan pendapatan sekaligus mempertahankan tingkat margin yang sama,” ujarnya.

Di sisi lain, lonjakan permintaan AI terus mendorong pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure. Namun, pembangunan pusat data untuk mendukung layanan AI membutuhkan belanja modal yang semakin besar sehingga mulai menekan arus kas perusahaan.

Pada April lalu, Microsoft memperkirakan pendapatan Azure kuartalan melampaui ekspektasi pasar. Di saat yang sama, perusahaan juga mengumumkan proyeksi belanja modal sebesar USD190 miliar atau sekitar Rp3.382 triliun pada 2026, jauh di atas perkiraan analis.

Selain itu, perkembangan AI yang semakin mampu mengotomatisasi pekerjaan rutin juga mulai menekan bisnis perangkat lunak Microsoft. Di sisi lain, kenaikan harga chip memori akibat tingginya permintaan pusat data mendorong perusahaan menaikkan harga konsol Xbox ketika permintaan perangkat tersebut justru sedang melemah.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait