KABARBURSA.COM – PT Nitrasanata Dharma Tbk resmi melantai di PT Bursa Efek Indonesia atau BEI dengan kode saham JECX pada paruh kedua tahun 2026. Emiten ketiga yang mencatatkan sahamnya pada tahun ini berkomitmen memanfaatkan momentum penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) untuk memperluas ekspansi layanan klinis sekaligus menekan angka kemiskinan akibat gangguan penglihatan dan kebutaan di Indonesia.
Manajemen JECX menilai masalah kebutaan di dalam negeri bukan sekadar persoalan medis semata, melainkan bom waktu yang berdampak langsung pada penurunan produktivitas ekonomi nasional secara makro.
Presiden Direktur PT Nitrasanata Dharma Tbk, Johan A M M Hutauruk menegaskan keberhasilan menembus ketatnya persyaratan melantai di pasar modal menjadi tonggak sejarah penting setelah 42 tahun JEC berdiri.
"Hari ini adalah momen yang akan kami ingat sepanjang perjalanan JEC. Menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, yang persyaratannya beratnya bukan main. Dan kami bangga bisa berhasil," kata Johan dalam seremoni pencatatan perdana saham di Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Johan menjabarkan korelasi kuat antara kesehatan panca indra dengan roda ekonomi rumah tangga masyarakat, khususnya pada kelompok pekerja rentan. Merujuk data Badan Pusat Statistik atau BPS, terdapat sekitar 87 juta masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor ekonomi informal tanpa adanya jaminan upah bulanan tetap.
Kondisi fisik yang prima menjadi aset satu-satunya bagi pekerja informal untuk menyambung hidup. Ketika mata pencaharian mereka terganggu akibat penurunan fungsi penglihatan, risiko kehilangan pekerjaan dan jatuh ke jurang kemiskinan menjadi tidak terhindarkan.
"Soal kebutaan ini saya rasa bukan soal medis, ada soal ekonomi, ada soal kemanusiaan. Kalau kita lihat penglihatannya buta, orang ini kesulitan bekerja, lama-lama kehilangan pekerjaan, dan akhirnya jatuh miskin. Saya melihat data BPS, 87 juta orang sektor informal itu enggak punya gaji. Jadi yang dibilang mata pencaharian, betul-betul mencari nafkah harian. Jadi kalau ini penglihatannya terganggu, ya tidak bisa lagi mencari nafkah," urai Johan.
Menurutnya, di samping sektor ketenagakerjaan, kesehatan mata memegang peranan krusial dalam membentuk kualitas sumber daya manusia sejak dini. Johan menyebut sekitar 92 persen arus informasi masuk melalui panca indra penglihatan.
Jika anak-anak generasi penerus bangsa mengalami gangguan mata tanpa adanya penanganan yang memadai, ketertinggalan informasi berpotensi merenggut masa depan mereka. Sepanjang tahun 2025 lalu, JEC mencatatkan rekam jejak operasional yang masif dengan melayani 564.000 pasien serta mengeksekusi 51.000 tindakan operasi mata.
Kendati demikian, manajemen merasa realisasi angka tersebut masih terlalu minim jika disandingkan dengan total data kasus gangguan penglihatan di Indonesia yang mencapai jutaan jiwa.
Melalui status baru sebagai perusahaan publik, emiten JECX bersiap mempercepat penetrasi pasar dan memperbanyak jaringan klinik untuk menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas. Langkah ini dibarengi dengan komitmen penguatan program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
"Jadi, IPO ini salah satu alasan kami untuk memperluas cakupan agar mereka itu bisa dijangkau. Kami juga melakukan operasi katarak gratis, operasi juling mata gratis, ada Lions Eye Bank, itu CSR kami. Kami berharap kiranya mencatatkan hari ini bukan mencatatkan saham juga, mencatatkan komitmen kami, JEC, akan bertumbuh sebagai perusahaan publik seiring dengan visi kami yang kami bikin 42 tahun yang lalu," katanya.
Pasar Layanan Mata Masih Terbuka Lebar
Kebutuhan layanan kesehatan mata di Indonesia masih tergolong besar dan menjadi salah satu faktor yang dapat menopang prospek ekspansi JECX setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia. Berbagai data dari organisasi kesehatan internasional menunjukkan jumlah penderita gangguan penglihatan di Indonesia masih mencapai jutaan orang, sementara kebutuhan tindakan operasi mata diperkirakan terus meningkat.
Berdasarkan data Vision Atlas yang disusun International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) dengan mengacu pada data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 8,7 juta penduduk Indonesia mengalami gangguan penglihatan kategori sedang hingga berat. Dari jumlah tersebut, sekitar 1 juta orang hidup dengan kondisi kebutaan.
Katarak masih menjadi penyebab utama kebutaan yang sebenarnya dapat ditangani melalui tindakan operasi. Karena itu, organisasi kesehatan global menilai peningkatan akses terhadap layanan operasi katarak menjadi salah satu strategi utama untuk menekan angka kebutaan.
WHO menjelaskan kemampuan suatu negara menangani kasus katarak umumnya diukur melalui indikator Cataract Surgical Rate (CSR), yaitu jumlah operasi katarak yang dilakukan setiap satu juta penduduk dalam satu tahun.
Menurut WHO, negara berkembang di kawasan Asia sedikitnya membutuhkan sekitar 3.000 operasi katarak per satu juta penduduk setiap tahun agar mampu memenuhi kebutuhan layanan yang terus muncul. Sementara untuk mengurangi akumulasi kasus atau backlog kebutaan akibat katarak, angka tersebut diperkirakan perlu ditingkatkan hingga sekitar 8.000 sampai 8.700 operasi per satu juta penduduk per tahun.
Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa, kebutuhan tindakan operasi katarak secara nasional diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari dua juta tindakan setiap tahun, bergantung pada target pengurangan kasus yang ingin dicapai.
Selain tingginya kebutuhan operasi, tantangan lain juga muncul dari sisi ketersediaan tenaga medis. WHO menyebut kepadatan dokter spesialis mata memiliki hubungan erat dengan tingkat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mata.
Di negara berpendapatan tinggi, rata-rata tersedia sekitar 76 dokter spesialis mata per satu juta penduduk. Sebaliknya, negara berpendapatan rendah hanya memiliki sekitar tiga hingga empat dokter spesialis mata per satu juta penduduk. Meski Indonesia tidak termasuk kelompok negara berpendapatan rendah, pemerataan dokter spesialis mata masih menjadi tantangan karena sebagian besar tenaga medis tersebut terkonsentrasi di kota-kota besar.
Kondisi tersebut membuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan mata belum merata di berbagai daerah. Situasi itu juga menjadi salah satu alasan mengapa pengembangan jaringan rumah sakit dan klinik mata masih dinilai memiliki ruang pertumbuhan.
Prospek industri kesehatan mata juga didukung oleh perubahan struktur demografi. WHO mencatat prevalensi penyakit mata degeneratif, termasuk katarak, cenderung meningkat seiring bertambahnya usia penduduk. Indonesia sendiri diproyeksikan memasuki fase ageing population sehingga jumlah masyarakat lanjut usia diperkirakan terus bertambah dalam beberapa dekade mendatang.
Peningkatan populasi lansia tersebut diperkirakan akan mendorong kebutuhan terhadap berbagai layanan kesehatan mata, mulai dari pemeriksaan rutin hingga tindakan operasi. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendasari ekspansi PT Nitrasanata Dharma Tbk setelah menjadi perusahaan terbuka.(*)