KABARBURSA.COM – Pemerintah mengklaim besaran potensi investasi yang akan masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dapat mencapai Rp846 triliun dalam beberapa tahun ke depan.
Prospek tersebut didorong oleh tingginya minat investor untuk memperluas aktivitas industri manufaktur di berbagai KEK yang kini telah beroperasi.
Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan, hingga kuartal I-2026 realisasi investasi kumulatif di seluruh KEK telah mencapai sekitar Rp353,3 triliun dan diklaim menyerap 266 ribu tenaga kerja.
Menurutnya, di tengah dinamika ekonomi global dan munculnya sejumlah catatan terkait kepercayaan investor terhadap Indonesia, perkembangan investasi di KEK justru menunjukkan tren yang berbeda, terutama pada sektor manufaktur.
"Kami meyakinkan bahwa di kawasan ekonomi khusus hampir semuanya, khususnya yang berbasis industri manufaktur, investasi terjadi peningkatan yang luar biasa," ujar Susiwijono kepada media di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini tengah memproses perluasan tiga KEK dari investor asing berbasis industri manufaktur, yakni KEK Gresik di Jawa Timur dengan rencana perluasan 1.200 hektare, KEK Kendal di Jawa Tengah dengan perluasan 1.000 hektare, dan KEK Galang Batang di Kepulauan Riau yang diminta diperluas hingga 2.600 hektare.
Ketiga kawasan tersebut mengajukan penambahan lahan dan pengembangan kawasan karena kapasitas yang ada saat ini telah terisi penuh.
"Ada permohonan perluasan lahan dan pengembangan kawasan rata-rata dua kali lipat yang ada sekarang. Kenapa? Karena yang ada sekarang sudah full utilize. Dan itu akhirnya beberapa investasi baru yang sudah antre di KEK itu, sekarang sedang kita siapkan area pengembangan, baik terkait dengan perluasan lahan maupun pengembangan kawasan KEK," kata Susiwijono.
Di samping itu masih ada KEK lainnya yang menarik bagi investor global, mulai dari KEK Sei Mangkei di Sumatra Utara yang akan menjadi supply chain hub Unilever Global.
Kemudian ada KEK Batam Aero Technic dan KEK Nongsa Digital Park di Kepulauan Riau yang dikenal sebagai pusat data center hingga fasilitas maintenance, repair dan overhaul (MRO) untuk sejumlah maskapai pesawat.
Lebih lanjut, tingginya permintaan perluasan di sejumlah KEK diklaim sebagai indikator yang menunjukkan kuatnya prospek investasi di sektor manufaktur Indonesia. Meski demikian, pemerintah mengingatkan bahwa prospek investasi di KEK tidak dapat disamakan dengan indikator aktivitas manufaktur bulanan.
Bagaimana Prospek Jangka Panjangnya?
Menurut Susiwijono, investasi merupakan proyek jangka panjang yang membutuhkan waktu mulai dari pembangunan kawasan, konstruksi pabrik hingga dimulainya kegiatan produksi. Karena itu, dampaknya terhadap aktivitas manufaktur baru akan terlihat secara bertahap dalam beberapa tahun setelah investasi direalisasikan.
Pemerintah telah menerima konfirmasi potensi investasi baru dalam jumlah besar yang akan direalisasikan secara bertahap.
"Itu membuktikan bahwa untuk investasi yang betul-betul real investasi di industri manufaktur masih sangat menjanjikan di Indonesia. Faktanya hampir semua KEK, khususnya yang industri manufaktur besar, mengajukan permohonan perluasan dan sudah mengonfirmasi potensi untuk investasi, kalau tidak salah kemarin, Rp846 triliun dalam beberapa tahun ke depan," terangnya.
Susiwijono menambahkan, sebagian besar investasi yang masuk ke KEK merupakan penanaman modal di sektor manufaktur berskala besar yang membutuhkan pengembangan kawasan baru. Hal tersebut menjadi alasan pemerintah mempercepat proses perluasan sejumlah KEK agar dapat mengakomodasi antrean investasi yang telah dikonfirmasi investor.
Susiwijono menilai, besarnya potensi investasi tersebut menunjukkan iklim investasi Indonesia masih kompetitif bagi investor global, khususnya untuk penanaman modal asing atau foreign direct investment (FDI) di sektor manufaktur.
"Artinya iklim investasi di Indonesia masih sangat kondusif dan masih sangat menarik bagi investasi secara langsung, foreign direct investment, khususnya di industri manufaktur," ujarnya.
Susiwijono menjelaskan, potensi investasi senilai Rp846 triliun tersebut tidak akan langsung tercermin dalam aktivitas industri dalam waktu dekat. Menurut dia, sebagian besar investasi yang masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus merupakan proyek manufaktur berskala besar yang membutuhkan proses panjang, mulai dari pembebasan lahan, pembangunan fasilitas produksi, hingga instalasi mesin sebelum memasuki tahap operasional.
Karena itu, realisasi investasi di KEK memiliki karakteristik yang berbeda dengan indikator aktivitas manufaktur bulanan. Dampak investasi baru umumnya baru akan terlihat setelah proyek memasuki tahap produksi, sehingga membutuhkan waktu antara dua hingga tiga tahun sejak pembangunan dimulai.
Pemerintah menilai kondisi tersebut justru menunjukkan bahwa antrean investasi di KEK masih terjaga. Permintaan perluasan kawasan oleh sejumlah investor dinilai menjadi sinyal bahwa kebutuhan lahan industri terus meningkat seiring rencana ekspansi perusahaan manufaktur di Indonesia.(*)