KABARBURSA.COM – Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia turun tajam ke level 46,9 pada periode Juni 2026, dari posisi netral di 50,0 pada bulan sebelumnya. Sesuai standar S&P Global, angka di bawah 50,0 tersebut menandakan bahwa aktivitas industri nasional kembali memasuki zona kontraksi setelah sempat bertahan di batas ekspansi.
Menanggapi ini, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Shinta Widjaja Kamdani, menilai pelemahan PMI manufaktur Indonesia menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperkuat daya saing investasi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.
Menurut dia, kontraksi aktivitas manufaktur dipicu melemahnya permintaan global akibat tensi geopolitik yang belum mereda. Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi kenaikan biaya produksi yang semakin membebani sektor industri.
"PMI manufaktur turun sampai 46,7. Ini kelihatan memang sinyal pelemahan kalau kita lihat dari segi demand. Dengan kondisi geopolitik yang ada, secara global memang demand mengalami penurunan karena masih ada ketidakpastian," kata Shinta di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa, 7 Juli 2026.
Berdasarkan data resmi S&P Global, pelemahan tersebut dipicu penurunan permintaan baru yang berdampak pada berkurangnya produksi, aktivitas pembelian bahan baku, serta penyerapan tenaga kerja.
Sebelumnya, pada Mei 2026, sektor manufaktur sempat menunjukkan stabilisasi setelah PMI naik ke level 50,0 dari 49,1 pada April. Saat itu, S&P Global mencatat kenaikan pesanan baru masih ditopang permintaan domestik.
Namun, ekspor telah mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut dengan laju penurunan terdalam sejak Agustus 2021 akibat melemahnya permintaan global dan dampak konflik geopolitik.
Shinta mengatakan, pelemahan permintaan global turut tercermin pada penurunan nilai ekspor Indonesia. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang menekan aktivitas manufaktur nasional.
"Kalau kita lihat, nilai ekspor juga menurun. Jadi, ini menjadi salah satu elemen kenapa PMI manufaktur kita juga menurun, karena kita melihat dari sisi demand," ujarnya.
Selain permintaan yang melemah, pelaku industri juga menghadapi tekanan dari meningkatnya biaya berusaha.
"Dari segi supply, kami juga melihat cost of business terus meningkat. Bahan baku, logistik, ini juga banyak mengalami peningkatan. Dengan demand yang lemah, tentunya bagi usaha manufaktur pasti ada pelemahan juga," kata Shinta.
Hasil Survei S&P Global dan Pendapat Ekonom
Pernyataan tersebut sejalan dengan hasil survei S&P Global pada Mei yang menunjukkan inflasi biaya input manufaktur mencapai level tertinggi sejak September 2013. Kenaikan harga bahan baku dan terbatasnya pasokan mendorong perusahaan menaikkan harga jual dengan laju tercepat sejak Oktober 2013.
Gangguan pasokan juga menyebabkan aktivitas pembelian menurun, sementara perusahaan memanfaatkan persediaan yang ada untuk memenuhi pesanan.
Ekonom S&P Global Market Intelligence Usamah Bhatti, mengatakan sektor manufaktur Indonesia masih menghadapi tekanan akibat kenaikan harga bahan baku dan keterbatasan pasokan yang menghambat produksi.
Menurut dia, perbaikan permintaan pada Mei hanya ditopang pasar domestik, sementara ekspor terus melemah. Meski demikian, pelaku usaha masih optimistis aktivitas manufaktur akan membaik dalam 12 bulan ke depan, walaupun tingkat keyakinannya masih berada di bawah rata-rata historis.
Selain tingginya biaya produksi, Shinta menilai volatilitas nilai tukar rupiah juga masih memberikan tekanan terhadap dunia usaha, terutama bagi industri yang mengandalkan bahan baku impor maupun perusahaan yang berorientasi ekspor.
Menanggapi anggapan bahwa investasi mulai berpindah ke Vietnam, Shinta menegaskan kondisi tersebut bukan fenomena baru. Menurut dia, Indonesia telah lama bersaing dengan Vietnam dalam menarik investasi asing langsung.
"Kalau dikatakan hari ini investasi pindah ke Vietnam itu tidak tepat. Dari dulu memang kita selalu berkompetisi dengan Vietnam," katanya.
Shinta menjelaskan, yang saat ini banyak terjadi adalah konsolidasi operasi perusahaan multinasional secara global, bukan relokasi seluruh fasilitas produksi dari Indonesia ke Vietnam. Meski demikian, ia mengakui Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan daya saing investasi, mulai dari penyederhanaan regulasi, kemudahan perizinan, hingga efisiensi biaya usaha.
Berkaca dari PMI Manufaktur Vietnam
Sementara itu, S&P Global mencatat PMI manufaktur Vietnam membaik menjadi 48,9 pada Juni 2026 dari 45,6 pada Mei. Meski masih berada di zona kontraksi, perbaikan tersebut menunjukkan aktivitas manufaktur Vietnam pulih lebih cepat dibandingkan Indonesia, terutama didorong membaiknya produksi dan permintaan baru.
Untuk meningkatkan daya saing, APINDO bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menyusun proyek percontohan reindustrialisasi.
Program tersebut akan melakukan benchmarking terhadap kebijakan Vietnam, termasuk insentif investasi, kemudahan berusaha, biaya energi, biaya tenaga kerja, dan biaya logistik.
"Kami sekarang membuat benchmarking. Apa yang dilakukan Vietnam, insentif seperti apa yang mendorong investor ke sana, bagaimana kemudahan berusahanya, bagaimana dengan cost-nya. Kenapa cost mereka lebih rendah dibandingkan Indonesia, apakah karena energy cost, labor cost, atau logistic cost. Ini semua harus kita perbandingkan supaya kita bisa melakukan perbaikan-perbaikan," ujar Shinta.
Ia menambahkan, proses ratifikasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing Indonesia.
Menurut dia, Vietnam selama ini lebih dahulu memiliki perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa yang menjadi salah satu faktor penarik investasi dari kawasan tersebut.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Shinta menilai optimisme dunia usaha masih terjaga. Hal itu tercermin dari masih adanya perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia sebagai upaya memperoleh pendanaan untuk ekspansi usaha.
"Perusahaan masih melantai di bursa, jadi menunjukkan masih ada optimisme bahwa bisa memanfaatkan bursa untuk pengembangan usahanya. Menurut kami ini sinyal yang positif bahwa perusahaan-perusahaan juga masih terus aktif melantai di bursa," kata Shinta.(*)