KABARBURSA.COM — Wacana pemangkasan produksi batu bara kembali mengemuka di tengah upaya pemerintah menjaga penerimaan negara sekaligus stabilitas energi nasional. Namun sejumlah ekonom menilai langkah tersebut belum tentu efektif untuk mempengaruhi harga batu bara di pasar global.
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Ardyanto Fitrady, menilai posisi Indonesia di industri batu bara dunia tidak cukup kuat untuk mengendalikan harga internasional. Meski dikenal sebagai salah satu eksportir terbesar, cadangan batu bara Indonesia relatif kecil dibanding negara lain.
Menurut Ardyanto, keterbatasan cadangan itu menjadi alasan utama mengapa kebijakan memangkas produksi diperkirakan tidak akan memberi dampak berarti pada pasar global.
“Indonesia hanya memiliki sekitar 3 persen cadangan batu bara dunia, jauh di bawah Amerika Serikat yang menguasai sekitar 22 persen, disusul China, India, dan Australia. Ini berarti ekonomi kita sangat eksploitatif. Kita menambang sebanyak mungkin sekarang, sementara negara lain cenderung menyimpan cadangannya,” ujar Ardyanto dikutip dari laman UGM, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menambahkan, pengurangan produksi dari Indonesia tidak serta-merta mengubah keseimbangan pasar batu bara dunia. Ketika harga naik dan permintaan global tetap tinggi, kekurangan pasokan dapat dengan cepat dipenuhi oleh negara produsen lain.
Kondisi tersebut berbeda dengan komoditas seperti nikel. Dalam komoditas itu Indonesia memiliki posisi strategis baik dari sisi cadangan maupun produksi sehingga mampu mempengaruhi harga global.
“Kalau produksi nikel dikurangi, dampaknya langsung terasa pada harga dunia. Batu bara tidak memiliki karakteristik yang sama,” kata dia.
Ardyanto menilai wacana pemangkasan produksi batu bara kemungkinan hanya berdampak dalam jangka pendek. Dalam jangka menengah hingga panjang, kebijakan itu diperkirakan tidak akan memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar global.
Pasalnya ketika Indonesia menurunkan produksi, kekurangan pasokan akan segera ditutup oleh negara penghasil batu bara lainnya. Selain faktor pasokan, kualitas batu bara Indonesia juga menjadi perhatian di pasar internasional. Sebagian besar produksi batu bara nasional tergolong batu bara berkalori rendah, sementara tren permintaan global kini cenderung mengarah pada batu bara berkalori tinggi.
Batu bara berkalori rendah menghasilkan emisi yang lebih tinggi sehingga dinilai tidak sejalan dengan komitmen banyak negara dalam menurunkan emisi karbon. Kondisi itu membuat sejumlah negara mulai lebih selektif memilih jenis batu bara, bahkan sebagian mulai beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Ardyanto mengatakan batu bara pada dasarnya hanya satu dari sekian banyak sumber energi. Selain batu bara, terdapat gas alam yang emisinya lebih rendah serta berbagai energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin.
“Substitusi tidak hanya datang dari negara pemasok lain, tetapi juga dari jenis energi lain. Karena itu jika tujuan pemangkasan produksi adalah menaikkan harga batu bara, dampaknya tidak akan signifikan dan tidak bertahan lama. Mungkin ada kenaikan harga, tetapi terbatas dan sangat singkat,” jelasnya.
Dari sisi penerimaan negara, Ardyanto menilai kebijakan tersebut juga belum tentu memberikan hasil positif. Pendapatan negara pada akhirnya bergantung pada kombinasi harga dan volume produksi. Ketika harga naik namun volume produksi turun lebih besar, total penerimaan justru berpotensi menurun.
“Dari perspektif efektivitas untuk meningkatkan penerimaan negara, kebijakan ini perlu ditinjau kembali,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi dampak terhadap neraca perdagangan. Jika produksi batu bara dipangkas, volume ekspor otomatis ikut menurun sementara permintaan dari sejumlah pasar utama juga mulai melemah.
Menurutnya, ekspor batu bara Indonesia ke China dilaporkan turun sekitar 30 persen, sementara ekspor ke India menyusut sekitar 15 persen. Situasi ini membuat kontribusi batu bara terhadap surplus neraca perdagangan semakin terbatas.
Risiko terbesar, kata Ardyanto, justru akan dirasakan oleh perusahaan tambang. Pembatasan produksi berpotensi menekan volume penjualan sekaligus profitabilitas perusahaan.
Selama cadangan masih tersedia, prospek keuntungan batu bara sebenarnya masih cukup jelas. Namun kebijakan pembatasan produksi berisiko mengganggu kepastian usaha bagi perusahaan yang bergantung pada perencanaan jangka panjang. Jika kebijakan serupa diterapkan pada komoditas lain seperti nikel, dampaknya akan jauh lebih besar.
Dalam pasar nikel global, Indonesia memiliki posisi dominan baik dari sisi cadangan maupun produksi sehingga pembatasan produksi dapat langsung mempengaruhi harga internasional. “Hal ini berbeda dengan batu bara yang pasarnya lebih mudah digantikan oleh negara lain,” ujar dia.
Ardyanto juga mengingatkan kebijakan pemangkasan produksi membawa sejumlah risiko yang harus diantisipasi pelaku industri. Dalam industri pertambangan, perencanaan bisnis biasanya dilakukan dalam jangka panjang, mulai dari estimasi cadangan hingga proyeksi investasi dan keuntungan.
“Dari perspektif keuangan, batu bara sebenarnya sangat menguntungkan dan prospek keuntungannya cukup jelas selama cadangan masih ada. Saya khawatir kebijakan ini justru bisa mengganggu kepastian tersebut,” kata dia.
Di sisi lain, Indonesia sebenarnya telah memiliki mekanisme Domestic Market Obligation atau DMO yang mewajibkan 25 persen produksi batu bara dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri dengan harga maksimal USD70 per ton atau sekitar Rp1.183.000 per ton.
Melalui mekanisme ini, pemangkasan produksi dinilai tidak akan terlalu mengganggu pasokan listrik nasional. Namun dari perspektif transisi energi, kebijakan DMO dan harga batu bara domestik yang murah justru dinilai berpotensi menghambat pengembangan energi terbarukan.
“Harga batu bara untuk listrik di Indonesia terlihat sangat murah dibanding energi terbarukan. Kondisi ini membuat energi terbarukan sulit bersaing,” katanya.
Produksi Besar, Pangsa Global Kecil
Indonesia memang dikenal sebagai salah satu raksasa batu bara dunia. Produksinya terus menanjak dalam beberapa tahun terakhir. Namun bila dilihat dari porsi global, pengaruh Indonesia terhadap pasar internasional ternyata tidak sebesar yang dibayangkan.
Data Kementerian ESDM menunjukkan produksi batu bara nasional mencapai sekitar 836 juta ton pada 2024, melampaui target pemerintah yang ditetapkan sebesar 710 juta ton. Angka itu juga meningkat dibandingkan produksi 775 juta ton pada 2023.
Meski besar, produksi tersebut hanya menyumbang sebagian kecil dari total produksi batu bara dunia. Mengacu pada Energy Institute Statistical Review of World Energy 2024, produksi batu bara global pada 2023 mencapai sekitar 9,09 miliar ton. Dengan angka tersebut, porsi produksi Indonesia berada di kisaran 8,5 persen dari total produksi global.
Dalam peta produsen dunia, Indonesia memang masuk tiga besar. Namun jaraknya masih jauh dari China yang mendominasi pasar batu bara global.
China memproduksi sekitar 4,71 miliar ton atau sekitar 51,8 persen produksi dunia. Di posisi kedua ada India dengan 1,01 miliar ton atau sekitar 11,1 persen. Indonesia berada di urutan ketiga dengan produksi sekitar 775 juta ton. Setelah itu disusul Amerika Serikat sekitar 526 juta ton dan Australia sekitar 455 juta ton.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa meski menjadi salah satu eksportir utama, posisi Indonesia di pasar global masih jauh dari dominan. Artinya, ruang Indonesia untuk mempengaruhi harga batu bara dunia relatif terbatas.
Di sisi lain, batu bara tetap menjadi salah satu penopang penting perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik yang diolah Katadata mencatat nilai ekspor batu bara Indonesia pada 2024 mencapai USD30,48 miliar atau sekitar Rp515,1 triliun. Volume ekspornya juga sangat besar. Sepanjang 2024, Indonesia mengekspor sekitar 555 juta ton batu bara ke berbagai negara.
Nilai perdagangan yang mencapai puluhan miliar dolar itu membuat batu bara masuk dalam daftar komoditas ekspor utama Indonesia, bersama minyak kelapa sawit, nikel, dan produk besi baja. Besarnya nilai ekspor tersebut juga menjadikan batu bara sebagai salah satu penopang utama surplus neraca perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.