KABARBURSA.COM - Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan P Roeslani, mengklaim minat investor internasional terhadap Danantara terus meningkat.
Rosan mengatakan, peningkatan kepercayaan ini merupakan modal untuk memperkuat kepercayaan dunia terhadap prospek perekonomian Indonesia. Menurutnya, kepercayaan investor juga dapat mempercepat transformasi badan usaha milik negara (BUMN).
“Danantara menjadi mitra strategis yang dicari oleh banyak investor asing. Kami memiliki portofolio dan proyek yang sangat menarik bagi modal asing,” kata Rosan, Jumat, 10 Juli 2026.
Ia berharap kerja sama ini mampu meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap iklim investasi dan prospek ekonomi Indonesia.
Lembaga negara ini menilai, penguatan jejaring internasional dapat membuka peluang investasi yang lebih luas. Selain itu, kerja sama lintas negara diyakini mempercepat transfer pengetahuan dan teknologi serta mendukung pengembangan sektor-sektor strategis yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Melalui kolaborasi tersebut, Danantara ingin meningkatkan daya saing BUMN di tingkat global. Penguatan kapasitas bisnis dan penerapan tata kelola perusahaan yang lebih baik menjadi bagian dari strategi menghadapi persaingan internasional.
Komitmen memperluas kemitraan internasional juga diwujudkan melalui pertemuan yang dihadiri Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pelaksana (BP) BUMN Dony Oskaria bersama Presiden Prabowo Subianto dan eks Perdana Menteri Thailand yang juga Dewan Penasihat BPI Danantara, Thaksin Shinawatra.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Rosan, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir, serta Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit Puji Santosa.
Dalam pertemuan itu, Prabowo membahas berbagai peluang kerja sama strategis untuk mendukung transformasi BUMN dan pembangunan nasional.
Fokus pembahasan mencakup pengembangan sektor prioritas, percepatan hilirisasi industri, penguatan tata kelola perusahaan, serta transformasi digital melalui pemanfaatan jejaring dan pengalaman global.
Bangun Ekosistem Investasi yang Kredibel
Melalui sinergi dengan berbagai mitra internasional, Danantara terus berupaya membangun ekosistem investasi yang semakin kredibel. Langkah tersebut diarahkan untuk memperluas akses terhadap teknologi dan praktik terbaik di tingkat global.
Upaya itu juga bertujuan meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Danantara berharap kolaborasi internasional dapat mempercepat transformasi BUMN menjadi perusahaan yang lebih kompetitif, adaptif, dan berdaya saing global.
Strategi tersebut sekaligus diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Jalin Kerja Sama di Sektor Energi Bersih
Komitmen Danantara membangun jejaring investasi internasional sebelumnya juga tercermin melalui kerja sama di sektor energi bersih dengan Singapura. Pemerintah menunjuk Danantara Indonesia sebagai lembaga yang memimpin pengembangan Cross-Border Electricity Trade (CBET) antara Indonesia dan Singapura sebagai bagian dari penguatan kerja sama energi kawasan.
Sebagai tindak lanjut, Danantara melalui Danantara Investment Management (DIM) menandatangani tiga Memorandum of Understanding (MoU) dengan sejumlah perusahaan energi asal Singapura. Kesepakatan tersebut mencakup penjajakan perdagangan listrik rendah karbon, pengembangan interkoneksi kelistrikan lintas negara, hingga pertukaran informasi teknis dan komersial.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia dan Singapura menargetkan pembangunan proyek perdagangan listrik lintas negara dengan kapasitas sedikitnya 3,4 gigawatt (GW) pada 2035. Pemerintah menilai proyek ini tidak hanya memperkuat konektivitas energi regional, tetapi juga mendukung upaya dekarbonisasi, menarik investasi baru, serta membuka peluang penciptaan lapangan kerja di sektor energi bersih.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu contoh pengembangan kemitraan internasional yang tengah dijalankan Danantara. Selain memperluas akses investasi, kolaborasi lintas negara juga diharapkan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai ekonomi regional, khususnya pada sektor energi berkelanjutan.
“Saya sepenuhnya sependapat dengan keyakinan Menteri Tan. Kemauan politik adalah fondasinya, tetapi pelaksanaanlah yang menghasilkan hasil nyata. Indonesia berkomitmen penuh untuk menyelesaikan berbagai prioritas regulasi dan infrastruktur agar proyek ini dapat berjalan sebelum dekade ini berakhir,” kata Rosan.
Ia menegaskan pasokan listrik yang akan digunakan berasal dari kapasitas pembangkit baru sehingga tidak akan mengurangi kebutuhan listrik dalam negeri. Menurut Rosan, proyek tersebut menjadi bagian dari strategi mendorong industrialisasi hijau sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan jaringan listrik kawasan ASEAN.
“Yang terpenting, ini merupakan kapasitas pembangkit baru yang berbeda dari pasokan listrik domestik kita. Pada intinya, proyek ini menjadi katalis bagi industrialisasi hijau Indonesia. Interkoneksi dengan Singapura hanyalah salah satu wujud dari transformasi strategis yang jauh lebih besar,” ujarnya.
Pemerintah berharap kolaborasi tersebut menjadi pintu masuk bagi investasi baru yang mampu memperkuat transformasi BUMN sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global.(*)