KABARBURSA.COM – Rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Tekanan datang dari penguatan dolar AS, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika, serta meningkatnya kembali ketegangan geopolitik antara Washington dan Teheran.
Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke level Rp18.014 per dolar AS pada pukul 15.00 WIB. Sehari sebelumnya, mata uang Indonesia masih berada di posisi Rp17.980 per dolar AS.
Koreksi ini melanjutkan tekanan yang telah terlihat sejak perdagangan pagi. Berdasarkan data pasar yang dikutip BRI Danareksa Sekuritas, rupiah sempat kembali menyentuh area Rp18.000 per dolar AS ketika indeks dolar AS atau DXY bergerak menguat.
BRI Danareksa Sekuritas mencatat, DXY naik ke level 101,126. Penguatan greenback berlangsung ketika pasar masih menghadapi ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi.
Sekuritas tersebut juga menempatkan eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran sebagai salah satu tekanan eksternal terhadap rupiah. Ketegangan di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan perhatian pasar terhadap risiko inflasi global.
Kondisi ini membuat rupiah kembali berada di bawah tekanan meskipun cadangan devisa Indonesia meningkat pada Juni 2026.
Pengamat Soroti Konflik AS-Iran
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, melihat pelemahan rupiah berlangsung seiring penguatan indeks dolar AS setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
Komando Pusat AS atau Centcom menyatakan telah memulai serangkaian serangan terhadap Iran. Operasi tersebut disebut bertujuan memberikan “biaya berat” atas serangan Teheran terhadap pelayaran komersial.
Menurut Ibrahim, kembalinya permusuhan dan munculnya persoalan yang lebih besar terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.
Perkembangan itu menjadi perhatian pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi global. Iran juga dilaporkan menyerang kapal-kapal yang mencoba melintasi kawasan tersebut pada pekan ini.
Tekanan bertambah setelah Amerika Serikat menarik konsesi penting yang sebelumnya memungkinkan Iran menjual minyak secara internasional. Perubahan tersebut meningkatkan perhatian terhadap kondisi pasokan minyak dalam beberapa pekan mendatang.
Ibrahim mengatakan, babak baru ketegangan berpotensi memengaruhi kesepakatan yang sebelumnya terbentuk, sementara kelanjutan pembicaraan antara kedua negara kini kembali menjadi perhatian.
Yield Treasury Ikut Menekan
Selain geopolitik, pengamat juga menyoroti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik 5,5 basis poin menjadi 4,525 persen.
Kenaikan yield menjadi salah satu faktor yang berjalan beriringan dengan penguatan dolar AS. Pada saat yang sama, pasar menunggu petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Menurut Ibrahim, perhatian pelaku pasar beralih ke risalah rapat Federal Open Market Committee atau FOMC periode Juni. Dokumen tersebut dijadwalkan menjadi bahan pembacaan pasar terhadap pandangan pembuat kebijakan mengenai suku bunga dan arah komunikasi The Fed.
BRI Danareksa Sekuritas juga menempatkan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang tetap tinggi sebagai salah satu faktor di balik tekanan terhadap rupiah. Dengan DXY berada di level 101,126, pergerakan mata uang Indonesia masih berhadapan dengan penguatan dolar di pasar global.
Cadangan Devisa Naik, Tekanan Belum Hilang
Dari dalam negeri, posisi cadangan devisa Indonesia sebenarnya mencatat kenaikan. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa pada akhir Juni 2026 mencapai USD145,6 miliar, naik dari USD144,9 miliar pada akhir Mei.
Kenaikan tersebut dipengaruhi terutama oleh penerimaan pajak dan jasa. Perkembangannya terjadi di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah oleh Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.
Namun, BRI Danareksa Sekuritas mencatat pasar masih mencermati tingginya tekanan terhadap rupiah. Pelaku pasar juga menunggu langkah lanjutan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar ketika volatilitas pasar global meningkat.
Ibrahim turut menempatkan cadangan devisa sebagai salah satu faktor domestik yang menjadi perhatian. Meski meningkat secara bulanan, posisi tersebut masih berada dekat level terendah dalam dua tahun terakhir.
Dengan demikian, kenaikan cadangan devisa belum menghilangkan tekanan eksternal yang datang dari penguatan dolar AS, kenaikan yield Treasury, dan ketegangan geopolitik.
APBN Ikut Menjadi Perhatian
Tekanan terhadap rupiah juga berlangsung ketika pasar mencermati perkembangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Hingga semester I-2026, APBN mencatat defisit Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap Produk Domestik Bruto.
Pendapatan negara tercatat Rp1.459,4 triliun, sedangkan belanja negara mencapai Rp1.656 triliun. Defisit tersebut meningkat dibandingkan posisi Mei 2026 sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB.
Secara tahunan, defisit semester pertama masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 0,84 persen terhadap PDB. Namun, perkembangan fiskal tetap masuk dalam rangkaian faktor domestik yang dipantau pasar.
Dalam struktur APBN, perubahan nilai tukar berkaitan dengan sejumlah komponen penerimaan dan belanja negara. Karena itu, pergerakan rupiah kembali menjadi perhatian ketika kurs menembus Rp18.000 per dolar AS.
Pandangan pengamat dan sekuritas pada perdagangan hari ini mengarah pada tekanan yang sama. Ibrahim Assuaibi menyoroti eskalasi AS-Iran, risiko gangguan pelayaran di Hormuz, penguatan dolar, serta kenaikan yield Treasury. BRI Danareksa Sekuritas menempatkan penguatan DXY, ekspektasi suku bunga AS yang tinggi, dan eskalasi geopolitik sebagai faktor yang menekan rupiah.
Perdagangan akhirnya ditutup dengan rupiah di Rp18.014 per dolar AS. Posisi tersebut membawa mata uang Indonesia kembali ke atas level psikologis Rp18.000, meskipun cadangan devisa Juni meningkat menjadi USD145,6 miliar.
Pasar berikutnya akan mencermati risalah FOMC, pergerakan indeks dolar AS, yield Treasury, perkembangan konflik AS-Iran, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah volatilitas global.(*)