KABARBURSA.COM - Reli penguatan mata uang dan saham emerging markets Asia mulai kehilangan tenaga setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Tekanan terbaru datang setelah serangan baru AS ke Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak dan ancaman inflasi kawasan.
Di tengah kondisi tersebut, rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling tertekan di Asia Tenggara. Menjelang penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, rupiah menyentuh level terendah baru di kisaran Rp17.796 per dolar Amerika Serikat.
Pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan koreksi pasar saham domestik. IHSG dilaporkan turun lebih dari 1 persen di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap tekanan eksternal dan arus keluar modal asing.
Tarik Ulur Negosiasi Damai AS-Iran
Tekanan terhadap mata uang Asia muncul setelah harapan tercapainya perdamaian cepat antara AS dan Iran mulai memudar. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan proses negosiasi dengan Iran masih bisa berlangsung beberapa hari lagi.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi normalisasi geopolitik dalam waktu dekat. Investor kemudian beralih melakukan aksi ambil untung dan kembali masuk ke aset lindung nilai.
Kondisi ini langsung mendorong kenaikan harga minyak dunia. Negara-negara Asia yang masih bergantung besar terhadap impor energi mulai terkena tekanan ganda berupa pelemahan mata uang dan ancaman inflasi impor.
Dari Bath hingga Ringgit Terpukul
Di Asia Tenggara, baht Thailand ikut melemah sekitar 0,4 persen ke area 32,6 per dolar AS. Meski demikian, pasar saham Thailand masih mampu bertahan positif setelah ditopang data ekspor dan optimisme sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Peso Filipina dan ringgit Malaysia juga bergerak melemah seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap arus keluar modal. Investor global mulai kembali berhati-hati terhadap aset emerging markets setelah harga energi naik dalam dua bulan terakhir.
Menurut Chief Investment Officer Asia ex-Japan BNP Paribas Asset Management, Ecaterina Bigos, lonjakan harga minyak berisiko menggagalkan proses penurunan inflasi di Asia. Akibatnya, bank sentral kemungkinan harus mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Tekanan tersebut mulai tercermin pada kebijakan moneter kawasan. Bank sentral Indonesia, Filipina, dan India disebut telah memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar, termasuk melalui kebijakan suku bunga.
Potensi Kenaikan Suku Bunga BoK
Pasar kini juga menyoroti arah kebijakan Bank of Korea yang dijadwalkan menggelar pertemuan pada 28 Mei mendatang. Mayoritas analis dalam survei Reuters memperkirakan Korea Selatan masih berpotensi menaikkan suku bunga setidaknya sekali hingga akhir 2026.
Menariknya, di tengah tekanan mata uang Asia, pasar saham Korea Selatan justru mencatat sejarah baru. Indeks Kospi ditutup di rekor tertinggi sepanjang masa setelah saham teknologi melonjak tajam.
Saham Samsung Electronics naik sekitar 3,3 persen sementara SK Hynix terbang 7,5 persen ke level tertinggi baru. Reli saham chip tersebut ikut mendorong indeks MSCI saham emerging markets Asia sempat menyentuh rekor baru sebelum akhirnya memangkas penguatan.
Sementara itu, Sri Lanka justru mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin. Kebijakan tersebut langsung mendorong rupee Sri Lanka menguat sekitar 0,7 persen dan mencatat penguatan hampir 6 persen dalam tiga hari terakhir.
Di Taiwan, booming sektor AI terus menarik aliran dana asing besar-besaran. Indeks TAIEX melonjak dan kini menjadikan pasar saham Taiwan sebagai salah satu yang terbesar di dunia dengan aliran dana masuk mencapai sekitar USD25 miliar sepanjang tahun ini.
Pasar Asia kini bergerak dalam dua arus besar berbeda. Di satu sisi, tekanan geopolitik dan lonjakan minyak mulai menekan mata uang kawasan. Namun di sisi lain, euforia AI dan saham teknologi masih menjadi penopang utama arus dana global ke Asia.(*)