KABARBURSA.COM – PT Chandra Daya Investasi Tbk atau CDIA terus merealisasikan penggunaan dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Hingga 30 Juni 2026, perseroan telah menyerap Rp1,84 triliun atau sekitar 78 persen dari dana bersih IPO yang dihimpun saat melantai di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2025. Angka tersebut menunjukkan percepatan realisasi dibandingkan laporan sebelumnya, sekaligus menggambarkan arah ekspansi yang masih terkonsentrasi pada penguatan bisnis logistik dan infrastruktur pelabuhan.
Berdasarkan laporan realisasi penggunaan dana kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI), CDIA menghimpun dana sebesar Rp2,371 triliun dari IPO. Setelah dikurangi biaya emisi sebesar Rp19,42 miliar atau sekitar 0,82 persen dari total dana yang diperoleh, perseroan mengantongi hasil bersih sekitar Rp2,352 triliun yang seluruhnya dialokasikan untuk kebutuhan ekspansi usaha.
Laporan itu juga memperlihatkan perkembangan penggunaan dana dibandingkan laporan pertama. Pada laporan realisasi per 31 Desember 2025, CDIA tercatat baru menggunakan sekitar Rp1,21 triliun. Enam bulan kemudian, realisasi tersebut meningkat menjadi Rp1,84 triliun. Dengan kata lain, sepanjang semester pertama 2026 perseroan kembali menggelontorkan sekitar Rp635,24 miliar untuk mendukung ekspansi bisnis.
Jika dibandingkan dengan hasil bersih IPO, dana yang belum direalisasikan hingga akhir Juni 2026 tersisa sekitar Rp511,05 miliar. Dana tersebut masih ditempatkan pada rekening giro di Bank DBS Indonesia dengan tingkat imbal hasil sebesar 4,16 persen per tahun sambil menunggu realisasi penggunaan berikutnya.
Menariknya, seluruh dana yang telah digunakan sejauh ini masih berputar pada dua pilar bisnis utama. Pilar pertama adalah logistik melalui penyetoran modal kepada PT Chandra Shipping International (CSI) dan PT Marina Indah Maritim (MIM) dengan nilai total Rp871,76 miliar. Sesuai rencana penggunaan dana, dana tersebut akan dimanfaatkan untuk pembelian kapal serta pembiayaan operasional perusahaan.
“Seluruh dana yang diperoleh dari Penawaran Umum Perdana Saham oleh Perseroan setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham akan digunakan oleh Perseroan untuk penyetoran modal kepada Perusahaan Anak Perseroan,” demikian tertulis dalam laporan realisasi penggunaan dana IPO CDIA yang dilihat Selasa, 14 Juli 2026.
Pilar kedua adalah bisnis pelabuhan dan penyimpanan melalui penyetoran modal sebesar Rp969,53 miliar kepada PT Chandra Samudera Port (CSP). Dana tersebut selanjutnya akan digunakan untuk pembangunan tangki penyimpanan, jaringan pipa penyalur etilena, serta berbagai fasilitas pendukung lainnya yang menjadi bagian dari pengembangan infrastruktur pelabuhan.
Komposisi penggunaan dana tersebut memperlihatkan bahwa hingga pertengahan 2026, fokus ekspansi emiten Prajogo Pangestu ini masih diarahkan pada pembangunan ekosistem logistik yang menopang rantai pasok industri petrokimia. Alih-alih tersebar ke berbagai lini usaha, realisasi dana IPO masih terkonsentrasi pada penguatan armada logistik maritim serta infrastruktur pelabuhan yang menjadi fondasi distribusi bahan baku dan produk industri.

Laporan itu juga menunjukkan realisasi penggunaan dana masih sesuai dengan rencana yang disampaikan dalam prospektus IPO. Perseroan belum melaporkan adanya perubahan tujuan penggunaan dana maupun pengalihan alokasi investasi dari rencana awal.
Dalam laporan tersebut, perseroan menyatakan hingga 30 Juni 2026 realisasi penggunaan dana telah mencapai Rp1,84 triliun atau sekitar 78 persen dari hasil bersih penawaran umum.
“Realisasi untuk penggunaan sebagaimana dimaksud dalam rencana tersebut di atas adalah sebesar Rp1.841.291.135.217 atau 78 persen dari hasil bersih,” tulis manajemen CDIA.
Dengan masih tersisanya sekitar Rp511,05 miliar dana IPO yang belum digunakan, ruang ekspansi CDIA pada paruh kedua 2026 masih terbuka. Namun, berdasarkan pola realisasi hingga pertengahan tahun, arah belanja modal perseroan sejauh ini tetap terkonsentrasi pada pengembangan logistik maritim dan infrastruktur pelabuhan sebagai dua sektor utama yang menopang strategi pertumbuhan perusahaan.
Sudah Sejauh Mana Dana IPO CDIA Berubah Jadi Aset?
Laporan realisasi penggunaan dana hasil IPO CDIA hingga 30 Juni 2026 menunjukkan sekitar 78 persen dana bersih telah direalisasikan. Di luar angka tersebut, perkembangan sejumlah proyek mengindikasikan dana yang telah disalurkan mulai diterjemahkan menjadi aset operasional pada bisnis logistik dan kepelabuhanan.
Salah satu proyek yang menunjukkan perkembangan adalah pembangunan fasilitas tangki bitumen milik PT Redeco Petrolin Utama (RPU), anak usaha CDIA di bidang pelabuhan dan penyimpanan. Perusahaan melaporkan progres konstruksi fasilitas tersebut telah mencapai sekitar 75 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III 2026.
Fasilitas yang berlokasi di Merak, Banten, itu terdiri atas tiga tangki penyimpanan berkapasitas total 12.000 meter kubik. Setelah proyek rampung, RPU akan mengoperasikan 75 tangki penyimpanan untuk berbagai produk, mulai dari petrokimia, minyak bumi, pelumas hingga bitumen.
Di sisi logistik maritim, penguatan armada juga terus berjalan. Sepanjang 2026, CDIA melalui PT Chandra Shipping International (CSI) memperkenalkan kapal angkut kimia cair Boreas berkapasitas 9.000 deadweight tonnage (DWT) yang disiapkan melayani rute domestik maupun internasional.
Perusahaan juga meresmikan sandar perdana kapal Novah dengan kapasitas serupa sebagai bagian dari pengembangan jaringan distribusi logistik kimia di kawasan regional.
Penambahan armada tersebut melanjutkan strategi yang telah dimulai sejak akhir 2025 ketika CDIA meluncurkan kapal logistik kimia baru untuk memperkuat rantai pasok industri. Dengan demikian, ekspansi yang didanai melalui hasil IPO tidak hanya tercermin dalam laporan penggunaan dana, tetapi juga mulai terlihat melalui penambahan aset operasional di lapangan.
Jika dikaitkan dengan arah pengembangan bisnis perseroan, realisasi investasi tersebut masih terkonsentrasi pada dua pilar utama, yakni logistik serta pelabuhan dan penyimpanan. Padahal, secara keseluruhan CDIA memiliki empat pilar usaha yang meliputi energi, air, pelabuhan dan penyimpanan, serta logistik.
Hingga pertengahan 2026, proyek-proyek yang diumumkan perusahaan masih didominasi pengembangan armada logistik, fasilitas penyimpanan, dan infrastruktur pendukung rantai pasok.
Dalam laporan tahunannya, CDIA menyebut fasilitas tangki bitumen berkapasitas 12.000 meter kubik, penambahan armada logistik laut, armada logistik darat, serta fasilitas pergudangan menjadi bagian dari sumber pertumbuhan baru yang diharapkan mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perseroan pada 2026.
Perusahaan juga menargetkan integrasi yang lebih kuat dengan ekosistem Chandra Asri Group untuk meningkatkan kebutuhan terhadap layanan infrastruktur yang dikelolanya.
Sejalan dengan strategi tersebut, pada Juni 2026 CDIA juga mengumumkan kerja sama strategis antara PT SCG Barito Logistics dan PT Krakatau Bandar Samudera guna mengeksplorasi penguatan ekosistem logistik terpadu. Kolaborasi itu menjadi salah satu langkah yang melengkapi pengembangan armada dan infrastruktur penyimpanan yang tengah dibangun perusahaan.