KABARBURSA.COM – Dolar Amerika Serikat kembali kehilangan tenaga. Pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, greenback melemah untuk hari kedua berturut-turut. Konflik Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas serta arah kebijakan suku bunga Federal Reserve di tengah tekanan inflasi menjadi kunci tekanan.
Indeks Dolar AS atau DXY, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,15 persen ke posisi 100,87. Pelemahan itu memberi ruang bagi sejumlah mata uang utama untuk mengambil posisi.
Euro menguat 0,19 persen menjadi USD1,1436. Poundsterling naik 0,23 persen ke USD1,3415 setelah sempat menyentuh USD1,3430, level tertinggi dalam tiga pekan. Terhadap yen Jepang, dolar AS juga melemah 0,18 persen menjadi 162,30 yen.
Eskalasi Timteng Kembali Tinggi?
Pergerakan tersebut berlangsung ketika pasar global belum mendapatkan arah yang benar-benar jelas. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran menyerang infrastruktur militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.
Serangan itu dilakukan sebagai respons atas serangan udara AS ke wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran.
Eskalasi tersebut kembali menekan keberlangsungan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan. Namun reaksi pasar valuta asing tidak bergerak dalam satu arah sederhana. Konflik geopolitik memang meningkatkan ketidakpastian, tetapi investor juga harus memperhitungkan dampaknya terhadap energi, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebijakan bank sentral.
Director of FX and Precious Metals Risk Management Silver Gold Bull Erik Bregar, menggambarkan kondisi pasar saat ini sebagai situasi yang dipenuhi kebingungan. Pergerakan harga yang relatif datar menunjukkan investor masih mencoba memahami perkembangan yang berlangsung, sementara arah perdagangan dapat berubah mengikuti berita terbaru.
Gambaran itu terlihat jelas dari pasar minyak. Meski konflik AS-Iran kembali memanas, harga minyak justru berbalik turun. WTI merosot 2,65 persen menjadi USD71,57 per barel, sedangkan Brent anjlok 2,95 persen ke USD75,72 per barel.
Pelemahan minyak memperlihatkan perubahan fokus investor. Risiko gangguan pasokan belum hilang, tetapi pasar lebih mencemaskan kemungkinan inflasi yang tinggi akan menekan pertumbuhan ekonomi global.
Jika tekanan harga bertahan, bank sentral dapat mempertahankan suku bunga tinggi atau kembali menaikkannya. Dampaknya dapat menjalar ke konsumsi, investasi, aktivitas bisnis, dan permintaan energi.
Bagaimana Kemungkinan The Fed Naikkan Suku Bunga?
Di pasar valuta asing, persoalan menjadi lebih kompleks karena Amerika Serikat dinilai relatif lebih terlindungi dari guncangan pasokan energi dibandingkan sejumlah negara lain. Sejumlah analis menilai kondisi itu dapat membuat bank sentral di luar AS menghadapi kebutuhan menaikkan suku bunga lebih agresif untuk mengendalikan inflasi.
Perbedaan prospek kebijakan inilah yang ikut membentuk pergerakan euro, poundsterling, dan yen terhadap dolar.

Di Amerika Serikat, risalah rapat Federal Reserve pada 16–17 Juni menunjukkan kekhawatiran pejabat terhadap inflasi meningkat. Pertemuan tersebut menjadi rapat pertama di bawah kepemimpinan Chairman The Fed Kevin Warsh.
Beberapa anggota bahkan menilai terdapat alasan untuk segera menaikkan suku bunga, meski keputusan akhirnya adalah mempertahankan kebijakan.
Namun ekspektasi pasar kembali berubah setelah Presiden Federal Reserve New York John Williams mengatakan dirinya tidak memperkirakan harga energi akan terus meningkat secara berkelanjutan hingga akhir tahun, meski konflik Timur Tengah kembali memanas.
Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan 28–29 Juli turun menjadi 26,2 persen dari 31 persen pada sesi sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan 18,2 persen sepekan lalu.
Untuk pertemuan 15–16 September, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 61,7 persen. Probabilitas itu turun dari 66,6 persen pada Rabu, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan 54,1 persen sepekan sebelumnya.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pelemahan dolar. Pasar belum menghapus kemungkinan kenaikan suku bunga, tetapi keyakinan terhadap waktu dan besarnya pengetatan terus berubah.
Mengapa Euro, Poundsterling dan Yen Menguat?
Di Eropa, euro mendapat ruang untuk menguat ketika risalah rapat Bank Sentral Eropa menunjukkan pembuat kebijakan menerima proyeksi bahwa inflasi masih akan bertahan di atas target hingga tahun depan, meskipun suku bunga telah dinaikkan. Kondisi itu membuat arah kebijakan moneter ECB tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Poundsterling juga mengambil posisi. Mata uang Inggris menguat 0,23 persen menjadi USD1,3415 dan sempat menyentuh USD1,3430. Kenaikan tersebut membawa pound ke level tertinggi dalam tiga pekan sebelum bergerak sedikit turun dari puncaknya.
Yen Jepang ikut menguat terhadap dolar. Pergerakan ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya perhatian terhadap kebijakan Bank of Japan. BOJ menyatakan perang Iran berpotensi mendorong lebih banyak perusahaan Jepang menaikkan harga pada paruh kedua 2026.
Risiko tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap inflasi dan dapat memperkuat alasan untuk kembali menaikkan suku bunga.
Pada saat yang sama, pemerintah Jepang dilaporkan berencana menegaskan prinsip independensi BOJ dalam cetak biru kebijakan ekonominya. Langkah itu muncul setelah kekhawatiran mengenai campur tangan politik terhadap kebijakan moneter sempat mendorong imbal hasil obligasi pemerintah ke level tertinggi dalam beberapa dekade.
Data Tenaga Kerja AS Melemah
Dari Amerika Serikat, data tenaga kerja belum menunjukkan pelemahan tajam. Klaim awal tunjangan pengangguran turun 2.000 menjadi 215.000 pada pekan lalu, lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom sebesar 218.000. Data tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih relatif stabil.
Di tengah perubahan peta mata uang global itu, rupiah menghadapi situasi yang berbeda. Ketika euro, poundsterling, dan yen memperoleh ruang penguatan saat dolar melemah, mata uang Indonesia masih harus bergulat dengan tekanan yang datang dari faktor global sekaligus domestik.
Pelemahan DXY tidak otomatis menghapus tekanan terhadap rupiah. Ketegangan Timur Tengah tetap meningkatkan ketidakpastian pasar, sementara risiko inflasi global dan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed dapat memengaruhi arus modal menuju aset negara berkembang.
Setiap perubahan pada imbal hasil aset dolar dan persepsi risiko global menjadi bagian dari perhitungan investor.
Seperti Apa Prediksi Rupiah Hari ini?
Dari dalam negeri, rupiah juga bergerak dalam lingkungan pasar yang masih membutuhkan pemulihan kepercayaan. Tekanan terhadap pasar keuangan domestik membuat pergerakan mata uang Indonesia tidak hanya bergantung pada arah dolar AS, tetapi juga pada respons investor terhadap aset rupiah dan kondisi pasar nasional.
Perdagangan Kamis akhirnya memperlihatkan perbedaan posisi di pasar valuta asing. DXY turun ke 100,87. Euro naik menjadi USD1,1436, poundsterling menguat ke USD1,3415, dan dolar melemah menjadi 162,30 yen.
Namun bagi rupiah, melemahnya dolar AS belum menjadi jalan keluar otomatis. Selama konflik Timur Tengah, risiko inflasi, prospek kenaikan suku bunga The Fed, dan tekanan domestik masih berlangsung bersamaan, mata uang Indonesia tetap harus menghadapi tekanan dari lebih dari satu arah.(*)