Logo
>

Analis Ungkap Skenario Ekstrem Harga Minyak Dunia

Harga minyak berpotensi jatuh ke USD68–72 jika konflik mereda, namun bisa melonjak di atas USD100 jika eskalasi Timur Tengah memburuk.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Analis Ungkap Skenario Ekstrem Harga Minyak Dunia
Ilustrasi penentu harga minyak dunia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM — Harga minyak dunia berada di persimpangan tajam, dengan potensi turun ke kisaran USD68–72 per barel jika ketegangan Timur Tengah mereda. Di sisi lain, jika perang masih berlanjut berisiko menaikkan lagi harga minyak hingga di atas USD100 per barel dalam waktu singkat jika konflik memburuk.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, pasar saat ini belum sepenuhnya mempercayai peluang kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, sehingga pergerakan harga masih akan ditentukan oleh bukti nyata di lapangan.

“Pasar minyak saat ini cenderung sangat skeptis dan kemungkinan besar tidak akan melakukan pricing in secara penuh dalam waktu singkat,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Rabu, 25 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pelaku pasar masih dibayangi trauma historis dari berbagai negosiasi yang gagal, sehingga reaksi terhadap kabar positif cenderung terbatas.

“Reaksi awal mungkin hanya berupa penurunan sekitar USD2–3 atau maksimal USD10 sebagai respons terhadap berita baik, namun penurunan total baru terjadi saat implementasi poin-poin krusial benar-benar dimulai,” katanya.

Menurut dia, harga minyak saat ini mengandung premi risiko geopolitik yang secara historis berkisar USD5-10 per barel. Jika risiko tersebut hilang, harga berpotensi kembali ke level fundamental.

“Jika Selat Hormuz dinyatakan aman secara konkret, Brent berpotensi terkoreksi ke kisaran USD68 hingga USD72,” ujarnya.

Namun di sisi lain, Wahyu menegaskan skenario sebaliknya juga sangat terbuka apabila gencatan senjata gagal dan konflik meningkat.

“Jika eskalasi terjadi dan diikuti gangguan di Selat Hormuz, harga minyak bisa melonjak sangat cepat. Dalam 24–48 jam bisa bergerak ke USD85 hingga USD100 karena kepanikan pasar dan lonjakan biaya logistik,” katanya.

Ia menambahkan, dalam jangka satu hingga dua minggu, harga bahkan berpotensi kembali menembus tiga digit apabila gangguan fisik terhadap pasokan benar-benar terjadi.

“Tidak ada kapasitas cadangan global yang bisa menggantikan kehilangan pasokan dalam skala besar secara instan,” ujar Wahyu.

Data global menunjukkan keterbatasan tersebut. Reuters mencatat spare capacity OPEC hanya sekitar 5,3 juta barel per hari, yang sebagian besar berada di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Namun, kapasitas ini tidak sepenuhnya dapat dimanfaatkan cepat, terutama jika jalur distribusi utama terganggu.

Selat Hormuz menjadi titik paling krusial. Jalur ini mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global, dan dalam skenario ekstrem, gangguan di kawasan ini dapat menghilangkan hingga 20 juta barel per hari dari pasar.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, mengatakan bahkan dengan jalur alternatif, dampak gangguan tetap signifikan.

“Bahkan dengan kemampuan ekspor melalui wilayah barat, tetap ada gangguan sekitar 350 juta barel yang akan hilang dari pasar,” ujarnya seperti dikutip Reuters.

Upaya mitigasi melalui cadangan strategis juga dinilai terbatas. Cadangan minyak strategis Amerika Serikat (SPR) saat ini berada di sekitar 415 juta barel, jauh di bawah kapasitas penuh, dan pelepasan terkoordinasi oleh negara-negara IEA disebut belum cukup untuk menggantikan potensi gangguan pasokan besar.

CEO Kuwait Petroleum Corp, Sheikh Nawaf Al-Sabah, bahkan menyebut langkah tersebut belum memadai. “Ini bahkan belum bisa disebut langkah penahan sementara,” katanya.

Sementara itu, pergerakan harga minyak terbaru menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perkembangan geopolitik. Berdasarkan laporan Reuters, harga Brent turun ke USD98,28 per barel, melemah hampir 6 persen, setelah muncul harapan gencatan senjata di Timur Tengah.

Sementara itu, Analis Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, mengatakan penurunan tersebut dipicu oleh meningkatnya ekspektasi de-eskalasi. “Ekspektasi gencatan senjata sedikit meningkat dan aksi ambil untung sedang memimpin arah pasar,” ujarnya dikutip dari Reuters, Rabu, 25 Maret 2026.

Namun, analis J.P. Morgan Asset Management, Kerry Craig, menilai pasar saat ini masih sangat bergantung pada arus informasi. “Pasar saat ini memperdagangkan headline berita,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, arah harga minyak dalam jangka pendek dinilai sepenuhnya bergantung pada perkembangan geopolitik, bukan pada keseimbangan fundamental pasar, menjadikan volatilitas tetap tinggi dalam waktu dekat. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.