KABARBURSA.COM – Emiten pertambangan logam mulia swasta nasional, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), mencatatkan progres operasional yang sangat agresif di wilayah konsesi mereka.
Berdasarkan dokumen keterbukaan informasi Laporan Bulanan Aktivitas Eksplorasi yang berakhir pada periode Juni 2026, perseroan dilaporkan telah merogoh kocek hingga USD5,6 juta (sekitar Rp91,5 miliar) hanya untuk mendanai aktivitas pemburuan cadangan emas baru sepanjang paruh pertama tahun ini.
Langkah taktis investasi hulu ini diambil demi memperpanjang umur produktif (mine life) tambang milik perseroan.
Corporate Secretary Archi Indonesia, Hidayat Dwiputro Sulaksono, dalam laporan resminya menyatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan eksplorasi berkala tersebut difokuskan secara penuh pada pengembangan sumber daya emas di Tambang Emas Toka Tindung, Sulawesi Utara.
“Area-area Eksplorasi ditetapkan secara selektif berdasarkan hasil kegiatan eksplorasi historis yang telah dilakukan sebelumnya, yang mengindikasikan adanya potensi mineralisasi yang prospektif. Penentuan area tersebut mempertimbangkan data dan interpretasi geologi yang tersedia, dengan tujuan untuk mengoptimalkan peluang penemuan sumber daya mineral yang bernilai,” ujar Hidayat, dikutip Sabtu, 11 Juli 2026.
Gencar Garap Ratusan Titik Bor Lewat Maxidrill
Untuk mengeksekusi target perluasan cadangan secara masif di lapangan, ARCI memercayakan operasional teknis kepada PT Maxidrill Indonesia sebagai mitra kontraktor pengeboran pihak ketiga.
Kerja sama ini membuahkan volume kerja yang tergolong jumbo di sepanjang semester I 2026.
Yang pertama, tim operasional di lapangan sukses mengeksekusi pengeboran di 157 titik bor dengan akumulasi kedalaman kumulatif menembus 44.989 meter (atau setara dengan 44,9 kilometer).
Perseroan merampungkan pengeboran di 69 titik bor dengan total kedalaman mencapai 24.592 meter.
Guna mempercepat pemetaan sebaran, dieksekusi pula pengeboran di 88 titik bor sejauh 20.397 meter.
Pengeboran difokuskan secara selektif pada area koridor timur dan barat (Eastern Corridor & Western Corridor) yang secara historis mengindikasikan sebaran mineralisasi bernilai tinggi.
Operasional tambang raksasa Toka Tindung ini dikelola langsung melalui dua entitas anak usaha yang dimiliki 100 persen oleh ARCI, yakni PT Meares Soputan Mining (MSM) dan PT Tambang Tondano Nusajaya (TTN).
Kedua entitas ini memegang total luas konsesi Kontrak Karya sebesar 39.817 hektar yang terbentang di wilayah Kabupaten Minahasa Utara dan Kota Bitung.
Temuan Kadar Emas Jumbo Siap Diuji
Investasi senilai USD5,6 juta tersebut langsung membuahkan hasil yang sangat menjanjikan bagi portofolio cadangan perusahaan.
Berdasarkan pembaruan model geologi yang dihimpun oleh tim ahli, ARCI mendeteksi sebaran urat emas berkadar (grade) tinggi di berbagai kedalaman yang bervariasi.
Langkah perseroan kini berfokus penuh melakukan pengujian kandungan emas (g/t) secara mendalam atas sampel-sampel batuan yang berhasil diangkat ke permukaan dari koridor eksplorasi tersebut.
Data riil di lapangan merekam lompatan kadar emas fantastis yang menembus angka 25,18 g/t pada interval 3,10 meter di kedalaman 285,80 hingga 288,90 meter.
Masih di area kedalaman yang berdekatan, tim Geomin juga menemukan deposit berkadar 7,22 g/t pada interval batuan tebal 11,30 meter di kedalaman 285,80 sampai 297,10 meter.
Sementara itu, pada pengeboran yang menembus area lebih dalam, terekam kadar emas murni sebesar 10,20 g/t pada interval 4,60 meter di posisi kedalaman 342,30 hingga 346,90 meter, disusul temuan kadar 2,10 g/t sepanjang interval 3,35 meter di kedalaman 359,65 sampai 363,00 meter.
Saham ARCI Terbang Menuju Level Rp1.000
Publikasi data eksplorasi yang solid serta temuan kadar emas bernilai tinggi ini langsung menjadi pemantik gairah beli para pelaku pasar modal.
Pada perdagangan akhir pekan, Jumat, 10 Juli 2026, pergerakan instrumen saham ARCI mencatatkan performa yang sangat impresif.
Saham ARCI ditutup meroket sebesar +45 poin atau melesat 4,71 persen untuk parkir tepat di level psikologis Rp1.000 per lembar saham.
Sepanjang jam perdagangan harian, ARCI dibuka di zona hijau pada level Rp960 dan sempat tertekan tipis ke area terendah di Rp950 per lembar saham.
Tekanan tersebut langsung direspons oleh aksi akumulasi beli yang kuat hingga sempat menerbangkan harga ke level tertinggi harian di Rp1.020 sebelum akhirnya terkonsolidasi menjelang bel penutupan bursa.
Ketebalan likuiditas transaksi saham ARCI juga terpantau sangat sehat, mencatatkan volume perdagangan harian menembus 486,71 ribu lot dengan total nilai perputaran pasar (value) keseluruhan mencapai Rp48,41 miliar yang diselesaikan melalui frekuensi perdagangan sebanyak 9,37 ribu kali transaksi.
Pergerakan atraktif saham barang baku syariah ini turut disokong oleh derasnya arus modal, di mana catatan transaksi pasar mencatat nilai beli bersih (foreign buy) dominan di angka Rp21,43 miliar, berbanding terbalik dengan posisi jual (foreign sell) yang hanya sebesar Rp6,52 miliar.(*)