KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG masih mampu bertahan di zona hijau pada perdagangan sesi I, Jumat, 10 Juli 2026. Namun di balik kenaikan tipis indeks, tekanan jual justru menghantam sejumlah saham yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia.
Berdasarkan data perdagangan sesi pertama, IHSG berada di level 5.918,47 atau naik 6,03 poin setara 0,10 persen dari posisi sebelumnya 5.912,44. Indeks dibuka di 5.936,04, sempat naik hingga 5.949,99, kemudian turun ke level terendah 5.905,14 sebelum kembali bertahan tipis di zona positif.
Aktivitas perdagangan reguler mencatat volume sekitar 87,89 juta lot dengan nilai transaksi Rp4,31 triliun. Jika memperhitungkan seluruh pasar, volume mencapai 115,34 juta lot dengan nilai transaksi sekitar Rp4,71 triliun dan frekuensi 1,26 juta kali.
IHSG belum kehilangan zona hijau, tetapi kenaikannya jauh lebih terbatas dibandingkan posisi tertinggi intraday. Dari level puncak 5.949,99 menuju posisi 5.918,47 pada akhir sesi I, indeks telah memangkas sebagian penguatan yang sempat terbentuk pada pagi hari.
Di tengah gerak tipis IHSG, cerita berbeda muncul dari kelompok saham IPO. BACH, JECX, dan JELI sama-sama berada di zona merah. Ketiganya sebelumnya sempat mengalami lonjakan harga besar setelah pencatatan perdana, tetapi hari ini justru menghadapi tekanan jual yang jauh lebih kuat.
BACH: Setelah Lonjakan Perdana, Harga Berbalik Turun?
Saham Bach Multi Global Tbk (BACH) memperlihatkan perubahan arah yang tajam dalam tiga hari perdagangan. Pada 8 Juli 2026, saham ini ditutup di Rp550, naik Rp108 atau 24,43 persen. Hari itu harga pembukaan, tertinggi, terendah, dan rata-rata sama-sama berada di Rp550.
Volume transaksi masih relatif kecil, sekitar 36,07 ribu lot, dengan nilai Rp1,98 miliar dan frekuensi 3,33 ribu kali. Data asing menunjukkan net sell sekitar Rp49,06 juta.
Sehari kemudian, 9 Juli, situasinya berubah drastis. BACH tetap ditutup di Rp550 atau stagnan 0,00 persen, tetapi aktivitas transaksinya meledak. Nilai perdagangan mencapai Rp580,39 miliar dengan volume 9,74 juta lot dan frekuensi 426,60 ribu kali.
Di balik harga penutupan yang tidak berubah, rentang pergerakannya sangat lebar. BACH dibuka di Rp685 dan sempat berada pada level yang sama sebagai harga tertinggi, lalu jatuh hingga Rp535. Harga rata-ratanya berada di Rp596. Investor asing mencatat pembelian Rp2,70 miliar dan penjualan Rp2,96 miliar, menghasilkan net sell sekitar Rp258,63 juta.
Pada 10 Juli, tekanan berlanjut. BACH berada di Rp500, turun Rp50 atau 9,09 persen. Saham dibuka di Rp545, dengan level tertinggi Rp545 dan terendah Rp472. Harga rata-rata tercatat Rp502. Nilai transaksi mencapai Rp40,79 miliar dengan volume 813,18 ribu lot dan frekuensi 70,11 ribu kali.
BACH bergerak dari lonjakan 24,43 persen, kemudian mengalami volatilitas sangat tinggi dengan transaksi Rp580,39 miliar, lalu turun 9,09 persen.
JECX: Dua Hari Naik Tajam, Dua Hari Dihantam Tekanan Jual?
Perubahan arah lebih ekstrem terlihat pada JECX. Saham ini memulai perdagangan 7 Juli dengan penutupan Rp1.560, naik 24,80 persen. Pada 8 Juli, reli berlanjut 25 persen ke Rp1.950.

Pada 8 Juli, nilai transaksi JECX mencapai Rp67,24 miliar dengan volume 344,84 ribu lot. Investor asing mencatat net buy sekitar Rp9,75 miliar.
Namun arah berbalik pada 9 Juli. JECX turun 14,87 persen ke Rp1.660. Foreign buy hanya sekitar Rp85,16 juta, sedangkan foreign sell mencapai Rp5,81 miliar. Net foreign sell tercatat Rp5,72 miliar.
Tekanan berlanjut pada 10 Juli. JECX berada di Rp1.425, turun Rp235 atau 14,16 persen. Saham dibuka di Rp1.415, sempat naik ke Rp1.545, lalu menyentuh Rp1.415 sebagai level terendah. Nilai transaksi mencapai sekitar Rp233,63 miliar dengan volume 1,62 juta lot.
Orderbook memperlihatkan ketimpangan. Total bid yang terlihat sekitar 33.753 lot, sedangkan total offer mencapai 135.758 lot. Pada level Rp1.415 terdapat bid 28.214 lot, tetapi antrean jual secara keseluruhan jauh lebih besar.
Artinya, JECX naik 24,80 persen dan 25 persen dalam dua hari pertama, kemudian turun 14,87 persen dan kembali melemah 14,16 persen.
JELI: Tekanan Jual Menumpuk di ARB?
JELI mencatat pola paling tajam. Pada 7 Juli, saham ditutup di Rp1.125 atau naik 25 persen. Sehari kemudian, harga kembali melonjak 24,89 persen menjadi Rp1.405. Pada 9 Juli, JELI naik lagi 24,91 persen ke Rp1.755.
Dalam tiga hari tersebut, harga bergerak dari Rp1.125 menjadi Rp1.755. Namun pada 10 Juli, arah berubah keras.
JELI berada di Rp1.495, turun Rp260 atau 14,81 persen. Saham sempat dibuka di Rp2.190 dan menyentuh level tertinggi yang sama, sebelum jatuh ke Rp1.495. Harga rata-ratanya berada di Rp1.739, dengan nilai transaksi sekitar Rp85,63 miliar dan volume 492,32 ribu lot.
Orderbook memberikan gambaran tekanan yang lebih jelas. Sisi bid tidak menunjukkan antrean yang terlihat, sedangkan offer di Rp1.495 mencapai 253.058 lot. Total offer yang terlihat mencapai 300.346 lot.
Kondisi tersebut menunjukkan dominasi antrean jual pada saat snapshot diambil. JELI yang sebelumnya naik hampir 25 persen selama tiga hari berturut-turut kemudian berbalik turun 14,81 persen dan berada di batas bawah harian.
Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Ada pola yang sama yang ditunjukkan oleh ketiga saham ini, yaitu kenaikan sangat cepat setelah IPO yang diikuti peningkatan volatilitas dan tekanan jual. JELI dan JECX sempat menyentuh batas kenaikan harian pada fase awal perdagangan, sementara BACH termasuk kelompok saham IPO yang menguat kuat pada 8 Juli.
Pada BACH, lonjakan nilai transaksi menjadi Rp580,39 miliar pada 9 Juli terjadi bersamaan dengan rentang harga Rp535–Rp685 sebelum tekanan berlanjut sehari kemudian. Pada JECX, pembelian bersih asing Rp9,75 miliar pada 8 Juli berubah menjadi penjualan bersih asing Rp5,72 miliar pada 9 Juli.
Pada JELI, tiga hari kenaikan hampir 25 persen beruntun berakhir dengan antrean offer 253.058 lot di Rp1.495 pada snapshot 10 Juli.
Jadi, sesi I Jumat memperlihatkan dua wajah pasar. IHSG masih hijau tipis di 5.918,47, tetapi euforia pada sebagian saham IPO mulai berhadapan dengan tekanan jual. BACH turun 9,09 persen, JECX melemah 14,16 persen, dan JELI jatuh 14,81 persen.
Bukan seluruh pasar yang melemah, dan bukan pula seluruh saham IPO kehilangan tenaga. Yang terjadi adalah pemisahan momentum: indeks bertahan positif, beberapa IPO baru masih melaju, sementara saham yang sebelumnya melonjak tajam mulai memasuki fase volatilitas tinggi dan tekanan jual.(*)