KABARBURSA.COM – Besok akan menjadi hari penting bagi investor PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA). Selasa, 7 Juli 2026, ERAA akan memasuki periode cum dividen di pasar reguler dan pasar negosiasi.
Sesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 Juni 2026 dan berdasarkan keterbukaan informasi perseroan, total dana yang disiapkan untuk pembayaran dividen mencapai Rp389,62 miliar.
Dividen itu akan dibagikan berdasarkan daftar pemegang saham yang berhak sesuai jadwal yang telah ditetapkan perusahaan.
Jadwalnya bergerak cepat. Setelah cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 7 Juli, saham ERAA akan memasuki ex dividen pada 8 Juli 2026. Cum dividen di pasar tunai berlangsung 9 Juli, bersamaan dengan recording date atau tanggal daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen pada pukul 16.00 WIB.
Ex dividen pasar tunai jatuh pada 10 Juli, sedangkan pembayaran dijadwalkan pada 31 Juli 2026.
Pembagian tersebut ditopang oleh kinerja keuangan 2025. Dalam dokumen resmi perseroan, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat Rp1,196 triliun. ERAA juga memiliki saldo laba ditahan yang tidak dibatasi penggunaannya sebesar Rp6,84 triliun dan total ekuitas Rp10,18 triliun.
Jika total dividen Rp389,62 miliar dibandingkan dengan laba bersih tersebut, rasio pembayaran dividennya berada di kisaran 32,6 persen.

Dari sisi nominal per saham, pembagian tahun ini juga berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Data historis yang disertakan menunjukkan dividen periode 2024 sebesar Rp16 per saham, sedangkan untuk tahun buku 2025 ditetapkan Rp25 per saham. Artinya, nilai dividen per saham meningkat Rp9 atau sekitar 56,25 persen.
Bagaimana Pergerakan Saham Jelang Cum Date?
Berdasarkan data perdagangan yang disampaikan, ERAA menutup perdagangan Senin, 6 Juli 2026 di harga rata-rata sekitar Rp366. Saham dibuka pada Rp372, sempat menyentuh level tertinggi Rp372, lalu turun hingga Rp362.
Pergerakan itu melanjutkan fase fluktuatif yang terlihat sejak pertengahan Juni. Pada 17 Juni, ERAA dibuka di Rp380 dan sempat menyentuh Rp384, tetapi ditutup pada rata-rata sekitar Rp377. Sehari kemudian, saham bergerak dengan rata-rata Rp372.
Pada 19 Juni, harga sempat mencapai Rp380 sebelum rata-rata perdagangan berada di Rp375.
Tekanan kemudian semakin terlihat menjelang akhir Juni. Pada 22 Juni, ERAA dibuka Rp378 dan turun hingga Rp366. Sehari setelahnya, harga rata-rata berada di Rp368. Pada 24 Juni, saham dibuka Rp372 tetapi menyentuh Rp360. Pergerakan berlanjut pada 25 Juni dengan rata-rata sekitar Rp362, lalu 26 Juni sekitar Rp357.
Memasuki pekan terakhir Juni, ERAA belum menunjukkan arah yang stabil. Pada 29 Juni, saham bergerak antara Rp352 hingga Rp360 dengan rata-rata sekitar Rp356. Pada 30 Juni, harga dibuka Rp362 dan turun hingga Rp348, menghasilkan rata-rata sekitar Rp353.
Awal Juli membawa volatilitas yang lebih lebar. Pada 1 Juli, ERAA dibuka Rp354, sempat naik ke Rp370, tetapi juga turun hingga Rp346. Rata-rata harga hari itu berada di sekitar Rp356. Pada 2 Juli, saham dibuka Rp370, menyentuh Rp370 sebagai level tertinggi, kemudian turun ke Rp356 dengan rata-rata Rp360.
Pada 3 Juli, saham sempat menunjukkan perbaikan. ERAA dibuka Rp358, naik hingga Rp368, dan mencatat rata-rata sekitar Rp365. Namun, menjelang cum dividen pada 6 Juli, harga kembali bergerak turun dari pembukaan Rp372 menuju level terendah Rp362, dengan rata-rata Rp366.
Jika ditarik dari pembukaan 17 Juni di Rp380 hingga rata-rata perdagangan 6 Juli di Rp366, saham ERAA berada sekitar 3,7 persen lebih rendah. Sementara bila menggunakan titik rata-rata Rp377 pada 17 Juni sebagai pembanding, penurunannya sekitar 2,9 persen.
Dengan demikian, kenaikan nilai dividen belum berjalan bersamaan dengan penguatan harga saham secara konsisten dalam periode tersebut.
Arus Keluar Dana Asing
Arus dana asing juga menjadi bagian penting dari pergerakan ERAA. Data perdagangan memperlihatkan net foreign sell terjadi pada sebagian besar hari yang ditampilkan.
Pada 22 Juni, jual bersih asing tercatat sekitar Rp1,38 miliar. Angkanya meningkat menjadi Rp2,62 miliar pada 24 Juni dan Rp2,79 miliar pada 25 Juni.
Tekanan berlanjut pada 29 Juni dengan net foreign sell sekitar Rp5,21 miliar, disusul Rp4,35 miliar pada 30 Juni. Memasuki Juli, pola itu sempat berbalik ketika 1 Juli mencatat net foreign buy sekitar Rp2,94 miliar.
Namun, pada 2 Juli asing kembali mencatat jual bersih Rp4,19 miliar, lalu sekitar Rp754,61 juta pada 3 Juli.
Pada perdagangan 6 Juli, sehari sebelum cum dividen, net foreign tercatat negatif sekitar Rp4,66 miliar. Nilai foreign buy hanya sekitar Rp254,87 juta, sementara foreign sell mencapai sekitar Rp4,91 miliar.
Dari sisi imbal hasil, dividen Rp25 per saham dapat dibandingkan dengan harga rata-rata ERAA sekitar Rp366 pada 6 Juli. Secara matematis, dividend yield bruto berada di kisaran 6,8 persen.
Perhitungan ini menggunakan harga pasar pada hari tersebut sebagai basis dan belum memperhitungkan pajak maupun perubahan harga saham.
Besok, 7 Juli 2026, ERAA memasuki cum dividen dengan situasi yang cukup jelas dari sisi data. Perseroan menyiapkan Rp389,62 miliar untuk dibagikan kepada pemegang saham, dividen per saham naik dari Rp16 menjadi Rp25, dan yield berdasarkan harga sekitar Rp366 berada di kisaran 6,8 persen.
Pada saat yang sama, perjalanan saham sejak pertengahan Juni masih fluktuatif, sementara arus asing lebih sering berada di sisi jual.
Setelah cum dividen, perhatian berikutnya beralih ke 8 Juli ketika ERAA memasuki ex dividen di pasar reguler dan negosiasi. Dari sana, rangkaian pembagian berlanjut menuju recording date 9 Juli dan pembayaran tunai pada 31 Juli 2026.(*)