KABARBURSA.COM - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) melanjutkan aktivitas eksplorasi sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan cadangan batu bara. Berdasarkan Laporan Kegiatan Eksplorasi Triwulan II 2026, perusahaan melaksanakan kegiatan eksplorasi di sejumlah wilayah operasi dengan total biaya sekitar Rp31,02 miliar selama periode April hingga Juni 2026.
Sebagian besar kegiatan dilakukan di Tanjung Enim Mining Site, Sumatera Selatan. Pada lokasi tersebut PTBA merealisasikan pengeboran sebanyak 95 titik dengan total kedalaman mencapai 15.514 meter.
Selain pengeboran, perusahaan juga melaksanakan logging geofisika pada 94 titik dengan panjang 14.718 meter untuk meningkatkan akurasi model geologi sekaligus memverifikasi sumber daya dan cadangan batubara.
Eksplorasi juga mencakup pengambilan 1.533 sampel batu bara untuk analisis kualitas, 308 sampel batuan untuk pengujian tingkat keasaman, serta 398 sampel batuan untuk uji mekanika.
Di sisi lain, monitoring Top of Coal dan Bottom of Coal dilakukan pada area seluas 661 hektare sebagai bagian dari pengendalian operasi tambang. Seluruh kegiatan tersebut direncanakan berlanjut pada Triwulan III 2026.
Di Ombilin Mining Site, Sumatera Barat, PTBA melakukan pengeboran pada 10 titik dengan total kedalaman 833,1 meter yang disertai logging geofisika. Aktivitas tersebut juga akan dilanjutkan pada kuartal berikutnya untuk mendukung verifikasi sumber daya dan cadangan batubara.
Transformasi Bisnis Apa Saja yang Dilakukan PTBA?
Di sisi lain, PTBA juga terus menjalankan transformasi bisnis menuju sektor energi yang lebih beragam. Perseroan baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman dengan PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) untuk mengembangkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kawasan lahan pascatambang milik perusahaan.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk memanfaatkan lahan reklamasi sebagai kawasan pengembangan energi terbarukan sekaligus mendukung pelaksanaan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.
PTBA menyebut total kapasitas PLTS yang telah dimiliki perusahaan saat ini mencapai 1,2 MWp dan masih memiliki potensi lahan reklamasi lebih dari 250 hektare yang dinilai siap dikembangkan menjadi kawasan energi surya.

Menurut perusahaan, pemanfaatan lahan pascatambang menjadi fasilitas energi bersih merupakan bagian dari transformasi bisnis yang dilakukan secara bertahap.
Selain mengembangkan proyek hilirisasi batu bara, PTBA juga memperluas portofolio energi baru dan terbarukan untuk menciptakan sumber pertumbuhan baru pada masa mendatang.
DMO untuk PLN, Seperti Apa?
Terbaru, Bukit Asam memastikan komitmennya untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga pasokan energi nasional melalui pemenuhan kebutuhan batu bara bagi PT PLN.
Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional, perusahaan menegaskan bahwa pasar domestik tetap menjadi prioritas utama melalui pelaksanaan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) sesuai ketentuan yang berlaku.
Corporate Secretary Division Head Bukit Asam Eko Prayitno, mengatakan pengiriman batu bara kepada PLN dilakukan berdasarkan kesepakatan komersial yang menyesuaikan kebutuhan operasional pembangkit listrik. Karena itu, volume pasokan dapat berubah mengikuti permintaan masing-masing pembangkit.
Menurut Eko, PTBA juga memiliki portofolio batu bara dengan spesifikasi yang beragam, sehingga mampu memenuhi kebutuhan PLTU yang memerlukan batu bara dengan nilai kalori berbeda. Perseroan mengandalkan sistem pencampuran atau blending batu bara agar kualitas produk sesuai dengan spesifikasi teknis yang diminta setiap pembangkit listrik.
Komitmen PTBA tersebut sejalan dengan langkah pemerintah yang memperketat pengawasan pelaksanaan Domestic Market Obligation sepanjang 2026.
Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah memberikan penugasan kepada badan usaha pertambangan dengan total volume mencapai 212 juta metrik ton untuk memenuhi kebutuhan batubara PLN yang diperkirakan mencapai 154 juta metrik ton tahun ini.
Hingga Mei 2026, sebanyak 144 juta metrik ton penugasan telah dikontrakkan, sementara estimasi realisasi pengiriman mencapai sekitar 130,5 juta metrik ton. Pemerintah terus mendorong percepatan kontrak antara PLN Energi Primer Indonesia dengan perusahaan tambang agar penugasan tersebut dapat segera direalisasikan menjadi pengiriman ke unit-unit pembangkit listrik.
Dengan menjalankan dua agenda secara bersamaan sepanjang 2026 perusahaan berkomitmen untuk tetap memperkuat perannya sebagai pemasok utama batubara bagi ketahanan energi nasional melalui pemenuhan kewajiban DMO.
Di sisi lain, perusahaan terus mengembangkan proyek energi terbarukan dan memperkuat aktivitas eksplorasi untuk menjaga kesinambungan bisnis jangka panjang.
Kedua strategi tersebut menjadi bagian dari upaya PTBA menjaga pasokan energi nasional sekaligus memperluas portofolio usaha di tengah perubahan lanskap industri energi.
Saham Bergerak Stagnan, Ada Apa?
Perdagangan saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada Selasa, 14 Juli 2026 bergerak stagnan dengan harga penutupan tetap di level Rp2.410 atau tidak berubah dari sesi sebelumnya. Saham dibuka di Rp2.430, sempat menyentuh level tertinggi Rp2.450, sebelum kembali turun ke level terendah sekaligus penutupan di Rp2.410.
Nilai transaksi tercatat sekitar Rp10,31 miliar dengan volume 42,45 juta saham dan frekuensi 3.130 kali, sementara belum terlihat aktivitas beli maupun jual investor asing pada perdagangan tersebut.(*)