KABARBURSA.COM — Konflik di Timur Tengah belum juga menunjukkan tanda-tanda benar-benar reda. Di saat harapan soal perdamaian sempat muncul, Amerika Serikat dan Iran justru kembali saling melancarkan serangan baru. Dampaknya langsung terasa ke pasar keuangan global. Bursa saham Asia bergerak campur aduk pada Kamis, sementara harga minyak dunia malah terkoreksi setelah sempat melonjak tajam sehari sebelumnya.
Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat justru menguat, mencerminkan pelaku pasar masih berharap situasi tidak berkembang menjadi perang yang lebih luas.
Amerika Serikat kembali menggempur sejumlah target di Iran lewat serangan udara. Iran membalas dengan meluncurkan serangan ke Bahrain, Kuwait, dan Qatar. Eskalasi ini terjadi hanya sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata sementara telah berakhir.
Meski begitu, peluang menuju perdamaian belum sepenuhnya tertutup. Seorang pejabat intelijen kawasan yang terlibat dalam upaya mediasi, namun meminta identitasnya dirahasiakan karena pembicaraan berlangsung secara tertutup, mengatakan negosiasi tingkat tinggi masih berjalan demi menyelamatkan kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang.
Bursa Jepang menjadi salah satu yang berhasil bangkit setelah sempat tertekan di awal pekan. Dilansir dari AP, Kamis, 9 Juli 2026, Indeks Nikkei 225 menguat 1,4 persen ke level 67.743,85, ditopang kenaikan saham-saham teknologi.
Produsen peralatan chip Tokyo Electron melonjak 5,5 persen. Sementara itu, perusahaan investasi berbasis kecerdasan buatan SoftBank Group justru terkoreksi tipis 0,1 persen.
Pergerakan serupa juga terlihat di Korea Selatan. Setelah sempat berada di zona merah pada perdagangan pagi, indeks Kospi akhirnya ditutup menguat 0,6 persen ke level 7.291,91. Padahal sehari sebelumnya indeks ini anjlok 5,4 persen. Saham Samsung Electronics naik tipis 0,2 persen, sedangkan produsen chip memori SK Hynix melesat 5,3 persen.
Di China, indeks Shanghai Composite menguat 1,7 persen menjadi 4.036,59. Penguatan itu terjadi meski indeks harga produsen China pada Juni naik 4,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 3,9 persen pada Mei.
Sejumlah ekonom menilai lonjakan inflasi produsen dipicu meningkatnya biaya produksi akibat perang Iran yang membuat harga berbagai komoditas terdongkrak. Berbeda dengan Shanghai, indeks Hang Seng Hong Kong justru melemah 0,7 persen ke posisi 24.027,97.
Saham pemasok Apple, Luxshare, turun 2,5 persen pada hari pertama diperdagangkan di Bursa Hong Kong. Sebaliknya, perusahaan kecerdasan buatan asal China, Zhipu atau Z.ai, melesat 9,3 persen setelah mengumumkan sedang menghimpun dana sekitar USD 4 miliar (sekitar Rp68 triliun).
Australia juga ikut terseret pelemahan. Indeks S&P/ASX 200 turun 0,3 persen ke level 8.762,50. Sementara itu, indeks Taiex Taiwan melemah 0,8 persen. Di India, indeks Sensex justru menguat 0,7 persen.
Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat perang kini mulai kehilangan tenaga. Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional turun USD 1 (sekitar Rp17 ribu) menjadi USD 77 per barel (sekitar Rp1,309 juta). Sehari sebelumnya Brent sempat menembus level USD 80 per barel (sekitar Rp1,36 juta).
Sebelum perang Iran pecah, harga Brent berada di kisaran USD 72 per barel (sekitar Rp1,224 juta). Optimisme terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai sementara sempat membawa harga minyak kembali ke level sebelum perang.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat turun 83 sen atau sekitar USD 0,83 (sekitar Rp14.110) menjadi USD 72,69 per barel (sekitar Rp1,236 juta).
Di Wall Street, indeks acuan S&P 500 ditutup turun 0,3 persen ke level 7.482,71 pada Rabu. Bahkan indeks ini sempat anjlok hingga 1,1 persen sesaat setelah Trump mengumumkan bahwa kesepakatan gencatan senjata telah berakhir.
Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,1 persen ke level 52.348,39. Sementara itu, Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi justru mampu ditutup naik tipis 0,2 persen ke level 25.870,65 setelah sebelumnya sempat bergerak di zona negatif.
Saham produsen chip asal Amerika Serikat, Broadcom, melesat 4,8 persen setelah Apple memastikan kerja sama jangka panjang dengan perusahaan tersebut. Di pasar mata uang, dolar Amerika Serikat melemah terhadap yen Jepang menjadi 162,37 yen dari sebelumnya 162,59 yen. Sebaliknya, euro menguat menjadi USD 1,1438 (sekitar Rp19.445) dari posisi sebelumnya USD 1,1417 (sekitar Rp19.409).(*)