KABARBURSA.COM – Meskipun sepanjang Juli 2026 harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) begitu fluktuatif, namun aksi korporasi berupa pembelian saham kembali atau buyback menjadi katalis positif yang menjaga pergerakan harga agar tetap solid.
Pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026 hingga pukul 11.30 WIB, saham BBCA diperdagangkan di level Rp6.175 per saham. Angka ini naik sekitar 0,82 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp6.125.
Sepanjang sesi, harga bergerak dalam rentang Rp6.100 hingga Rp6.200 dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp750,56 triliun. Pada level tersebut, saham BBCA diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sekitar 13,04 kali dan dividend yield sebesar 5,49 persen.
Kenaikan ini terjadi setelah saham BBCA sempat berada dalam fase konsolidasi akibat aksi ambil untung investor asing di pasar reguler. Meski demikian, transaksi bernilai besar tetap tercatat di pasar negosiasi.
Sebanyak 1,4 juta lot saham BBCA berpindah tangan melalui transaksi negosiasi senilai Rp850,5 miliar pada harga Rp6.075 per saham. Ini menandakan bahwa aktivitas likuiditas tetap tinggi pada saham ini.
Keberlanjutan Program Buyback, Sudah Sejauh Mana?
Salah satu perhatian utama investor saat ini adalah kelanjutan program pembelian kembali atau buyback saham yang dijalankan perseroan. Program tersebut memiliki nilai maksimal Rp5 triliun dan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 28 April 2026 hingga 11 Maret 2027.
Dana yang digunakan berasal dari kas internal perusahaan dan telah memperhitungkan seluruh biaya transaksi.
Memasuki Juli 2026, program buyback telah berjalan sekitar tiga bulan. Setelah memulai pembelian pada akhir April, manajemen kembali melakukan eksekusi pembelian lanjutan pada 11 Juni 2026 ketika sektor perbankan mengalami tekanan harga.
Perseroan memilih melakukan pembelian secara bertahap mengikuti dinamika pasar dibandingkan merealisasikan seluruh anggaran sekaligus.
Strategi tersebut juga tetap memperhatikan ketentuan kepemilikan saham publik. Jumlah saham yang dibeli kembali dibatasi maksimal 10 persen dari modal disetor sehingga porsi free float tetap berada di atas ketentuan minimum bursa.
Selain program yang sedang berjalan, laporan kepada Otoritas Jasa Keuangan juga menunjukkan BCA masih memiliki 28,3 juta lembar saham treasury hasil buyback periode sebelumnya yang belum dialihkan kembali ke pasar.
Keberadaan program buyback menjadi salah satu faktor yang menopang stabilitas harga saham BBCA di tengah tekanan pasar. Saat IHSG mengalami fluktuasi akibat sentimen global, saham BBCA mampu bertahan di atas area psikologis Rp6.000.
Dividen, Fundamental hingga Transformasi Digital
Selain aksi korporasi, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan pembagian dividen. Dalam RUPS, perseroan telah menyiapkan skema pembagian dividen interim hingga tiga kali dalam satu tahun buku.
Kebijakan tersebut memberikan kepastian distribusi dividen secara berkala kepada pemegang saham di samping dividen final yang selama ini menjadi karakteristik emiten perbankan tersebut.
Dari sisi operasional, sejumlah indikator fundamental masih menjadi penopang utama. Pertumbuhan laba perseroan ditopang oleh peningkatan pendapatan non-bunga atau non-interest income serta efisiensi biaya operasional.
Di saat yang sama, biaya kredit atau cost of credit tercatat lebih rendah seiring pembalikan provisi, sehingga mendukung profitabilitas perusahaan.
Likuiditas juga tetap menjadi salah satu kekuatan utama BCA. Perseroan mempertahankan rasio dana murah atau current account saving account (CASA) di kisaran 84,7 persen, yang memberikan fleksibilitas dalam menjaga biaya dana di tengah lingkungan suku bunga yang masih relatif tinggi.
Transformasi digital turut menjadi bagian penting dari perkembangan bisnis BCA sepanjang tahun ini. Perseroan meraih enam penghargaan dalam ajang Digital CX Awards 2026 yang diselenggarakan The Digital Banker. Penghargaan tersebut diberikan atas inovasi layanan digital melalui aplikasi myBCA, myBCA Bisnis, dan Ocean by BCA.
Pertumbuhan ekosistem digital dipandang sebagai salah satu penggerak ekspansi layanan ritel BCA. Di sisi lain, kegiatan promosi seperti BCA Expoversary juga terus dimanfaatkan untuk meningkatkan penyaluran kredit, terutama pada segmen pembiayaan kendaraan bermotor dan kredit pemilikan rumah.
Kontribusi anak usaha juga memberikan tambahan kinerja. BCA Life membukukan pendapatan premi sebesar Rp1,38 triliun sepanjang semester pertama 2026 dengan pertumbuhan laba sekitar 53 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di luar aktivitas bisnis, perseroan tetap menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui Bakti BCA. Salah satunya diwujudkan melalui pelatihan gastronomi bagi pengelola desa wisata binaan di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, sebagai bagian dari pengembangan ekonomi berbasis pariwisata.
Bagaimana Rekomendasi Analis?
Dari sisi valuasi, mayoritas lembaga riset masih menempatkan BBCA sebagai salah satu saham pilihan di sektor perbankan.
Berdasarkan konsensus 24 analis, rata-rata target harga dalam 12 bulan berada di kisaran Rp8.358 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 34–36 persen dibandingkan harga saat ini.
Target yang lebih konservatif datang dari sejumlah sekuritas yang menempatkan kisaran valuasi antara Rp6.700 hingga Rp8.000. Penilaian tersebut didukung program buyback, stabilitas fundamental, serta kembali masuknya arus dana investor asing.
Sementara itu, target yang lebih tinggi berada pada rentang Rp9.200 hingga Rp10.000. Proyeksi tersebut didasarkan pada kemampuan perseroan mempertahankan rasio CASA yang tinggi, efisiensi operasional, tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) yang konsisten, serta proyeksi pertumbuhan laba bersih sepanjang 2026.
Meski demikian, sejumlah lembaga riset juga mencantumkan faktor yang dapat memengaruhi pencapaian target tersebut, di antaranya perlambatan pertumbuhan kredit nasional dan perubahan arus investasi asing yang dipengaruhi kebijakan suku bunga global.
Analisis Teknikal Saham BBCA
Secara teknikal, saham BBCA masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan membentuk basis kenaikan baru. Area support berada pada rentang Rp6.100 hingga Rp5.950, sedangkan resistance terdekat berada di kisaran Rp6.275 hingga Rp6.400.
Apabila mampu menembus area resistance tersebut dengan dukungan volume transaksi, target jangka menengah berada pada rentang Rp6.500 hingga Rp6.700.
Indikator Relative Strength Index (RSI) berada di level 46,4 atau masih dalam zona netral, sementara pergerakan harga mulai bergerak di sekitar MA20 dan MA50. Di sisi lain, indikator MACD masih berada di area negatif, namun menunjukkan pelemahan tekanan jual.
Dengan kombinasi aksi buyback yang masih berlangsung, transformasi digital, pertumbuhan bisnis anak usaha, serta stabilitas fundamental, BBCA tetap menjadi salah satu emiten perbankan yang terus menjadi perhatian pelaku pasar sepanjang paruh kedua 2026.(*)