KABARBURSA.COM – Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) Arief Kurnia Risdianto, secara mengejutkan melakukan transaksi pembelian saham dalam jumlah yang sangat besar. Berdasarkan keterbukaan informasi, Arief membeli 679.000 saham PGAS pada 10 Juli 2026 dengan harga rata-rata Rp1.470 per saham.
Harga tersebut merupakan harga tertinggi pada sesi I perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Jika ditotal, transaksi tersebut merogoh kocek senilai sekitar Rp1 miliar.
Dari transaksi ini, kepemilikan langsung Arief di PGAS meningkat dari nihil menjadi sekitar 0,003 persen.
Pada hari yang sama, aktivitas akumulasi juga terlihat dari broker summary. UBS Sekuritas Indonesia (AK) tercatat sebagai salah satu pembeli terbesar dengan nilai transaksi sekitar Rp9,6 miliar. Broker tersebut membukukan rata-rata pembelian di Rp1.444, sementara rata-rata penjualannya berada di Rp1.451.
Di atasnya terdapat CGS International Sekuritas Indonesia (YU) dengan nilai beli sekitar Rp10,3 miliar pada harga rata-rata Rp1.464. Disusul JP Morgan Sekuritas Indonesia (BK) yang mengoleksi sekitar Rp7,5 miliar pada harga rata-rata Rp1.456.
Masuknya beberapa broker besar pada perdagangan 10 Juli terjadi ketika PGAS ditutup menguat 4,64 persen ke level Rp1.465.
Momentum tersebut berlanjut pada perdagangan berikutnya. Hingga penutupan 13 Juli 2026, saham PGAS kembali naik 35 poin atau 2,39 persen ke level Rp1.500. Selama perdagangan, harga bergerak dalam rentang Rp1.470 hingga Rp1.505, dengan nilai transaksi sekitar Rp34,48 miliar dan volume mencapai 231.920 lot.
Aksi Beli Direktur Strategis, Borong Berapa Banyak?
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN (PGAS) Mirza Mahendra, menambah porsi kepemilikan sahamnya pada emiten infrastruktur gas bumi pelat merah tersebut.
Merujuk data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu, 12 Juli 2026, Mirza mengeksekusi aksi beli saham PGAS dengan volume transaksi sebanyak 20 ribu unit lembar saham di harga Rp1.450 pada 10 Juli 2026.
Aksi akumulasi beli secara berkala tersebut secara otomatis mengerek total kepemilikan saham Mirza pada emiten anak usaha Pertamina ini menjadi lebih tebal.
Sebelum melakukan transaksi harian tersebut, jumlah saham PGAS yang dikantongi oleh yang bersangkutan tercatat sebanyak 50 ribu unit lembar saham.
Setelah penyelesaian transaksi pembelian reguler ini, akumulasi kepemilikan Mirza merangkak naik menjadi total sebanyak 70 ribu unit lembar saham.
Meskipun mengalami peningkatan jumlah lembar secara nominal, persentase hak suara bersangkutan sebelum dan setelah transaksi tercatat masih berada di level 0,00 persen serta tidak mengubah status pengendali perseroan.
Antrean Beli Tebal di Level Berapa?
Dari sisi orderbook, keseimbangan permintaan dan penawaran masih cenderung berpihak kepada pembeli. Total antrean bid mencapai sekitar 158.395 lot, lebih dari dua kali lipat dibanding total antrean offer yang berada di kisaran 68.067 lot.
Permintaan terbesar berada di harga Rp1.475 sebanyak 7.185 lot, diikuti Rp1.470 sebanyak 5.747 lot, serta Rp1.495 sebanyak 5.394 lot. Di sisi penawaran, antrean terbesar berada di Rp1.500 sebanyak 7.487 lot, kemudian Rp1.535 sebanyak 7.249 lot, dan Rp1.505 sebanyak 5.862 lot.
Komposisi tersebut menunjukkan jumlah saham yang mengantre untuk dibeli masih lebih besar dibanding saham yang ditawarkan untuk dijual pada akhir perdagangan.
Data historis juga memperlihatkan adanya peningkatan minat beli sejak awal Juli. Dalam lima hari perdagangan terakhir sebelum 13 Juli, PGAS mencatat kenaikan pada empat sesi.
Pada 3 Juli saham naik 1,83 persen, disusul penguatan 1,08 persen pada 6 Juli, stagnan pada 7 Juli, kemudian naik 1,42 persen pada 8 Juli. Setelah terkoreksi 1,75 persen pada 9 Juli, saham kembali menguat 4,64 persen pada 10 Juli dan bertambah 2,39 persen pada 13 Juli.
Aktivitas investor asing juga masih menunjukkan akumulasi dalam beberapa hari terakhir. Pada 10 Juli, investor asing membukukan beli bersih sekitar Rp11,58 miliar, setelah sebelumnya juga mencatatkan beli bersih Rp8,59 miliar pada 9 Juli.
Sebelumnya lagi, investor asing sempat melakukan akumulasi Rp3 miliar pada 3 Juli dan sekitar Rp550 juta pada 25 Juni.
Tren Jangka Pendek Membaik, Tekanan Beli Tinggi?
Secara teknikal, PGAS mulai bergerak di atas rata-rata pergerakan jangka pendek. Harga telah berada di atas MA5, MA10, dan MA20, sementara posisi terhadap MA50, MA100, dan MA200 masih berada di bawah, yang menunjukkan tren jangka pendek membaik meski tren jangka panjang belum sepenuhnya berubah.
Berdasarkan pivot point klasik, area Rp1.496 menjadi resistance terdekat yang telah berhasil ditembus pada penutupan terakhir. Apabila mampu bertahan di atas level tersebut, area berikutnya berada di kisaran Rp1.528 hingga Rp1.576.
Sementara itu, area Rp1.448 menjadi pivot utama, dengan support berikutnya di Rp1.416.
Pergerakan harga juga menunjukkan bahwa level Rp1.470, yang menjadi harga pembelian Direktur Utama, masih berada di atas area pivot dan kini telah berubah menjadi salah satu zona yang akan menjadi perhatian pelaku pasar apabila terjadi koreksi.
Sementara itu, dominasi antrean beli pada orderbook dan akumulasi yang sempat dilakukan investor asing menjadi bagian dari dinamika perdagangan yang mengiringi penguatan saham PGAS dalam beberapa sesi terakhir.(*)