KABARBURSA.COM – Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) menuju level psikologis 100 dinilai di DXY indeks disebut dapat memberikan tekanan tambahan bagi emiten yang memiliki utang dalam denominasi dolar. Selain menghadapi kenaikan nilai kewajiban akibat pelemahan rupiah, perusahaan juga berisiko mencatat kerugian kurs yang lebih besar dalam laporan keuangan.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo, Wahyu Tribowo Laksono, mengatakan perusahaan dengan eksposur utang valas menjadi salah satu kelompok yang paling cepat terdampak ketika dolar menguat bersamaan dengan kenaikan harga minyak dunia.
Menurut dia, kombinasi kedua faktor tersebut meningkatkan tekanan terhadap sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap pembiayaan dalam mata uang asing.
“Emiten atau perusahaan yang memiliki porsi utang jangka pendek dalam denominasi dolar AS tanpa adanya lindung nilai yang memadai akan menghadapi lonjakan beban pembayaran bunga dan pokok utang, serta menderita kerugian kurs yang signifikan pada laporan keuangan mereka,” ujar Wahyu kepada KabarBursa.com, Kamis, 28 Mei 2026.
Wahyu menjelaskan, penguatan dolar tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga langsung memengaruhi struktur biaya perusahaan. Ketika nilai tukar rupiah melemah, kewajiban pembayaran utang dalam dolar otomatis menjadi lebih mahal jika dikonversi ke mata uang domestik.
Kondisi tersebut berpotensi menekan profitabilitas perusahaan, terutama bagi emiten yang memiliki utang valas jangka pendek dan belum memiliki perlindungan nilai tukar yang memadai.
Dolar Tarik Investor Global
Menurut Wahyu, penguatan dolar saat ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor mengalihkan dana ke aset berdenominasi dolar AS.
Ia menilai fenomena tersebut membuat minat terhadap aset di negara berkembang mulai berkurang karena investor lebih memilih instrumen yang dianggap aman dan menawarkan imbal hasil menarik.
“Ketika investor institusional global memutuskan untuk beralih kembali ke aset berdenominasi dolar AS (flight to quality), minat investasi di emerging market seperti Indonesia dipastikan akan mendingin. Investor global cenderung menurunkan bobot alokasi aset mereka di negara berkembang demi memitigasi risiko volatilitas mata uang lokal,” katanya.
Menurut dia, kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan terhadap rupiah karena arus modal asing cenderung mengalir kembali ke aset berbasis dolar.
Risiko Meluas ke Kinerja Perusahaan
Wahyu menambahkan, tekanan akibat dolar yang menguat tidak hanya dirasakan perusahaan dengan utang valas. Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan kebutuhan operasional yang dibeli menggunakan mata uang asing.
Namun, perusahaan dengan utang dolar dinilai menghadapi risiko yang lebih langsung karena harus menanggung kenaikan nilai kewajiban sekaligus potensi kerugian selisih kurs.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati pelaku pasar apabila indeks dolar AS berhasil menembus dan bertahan di atas level psikologis 100 dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Meski demikian, besarnya dampak terhadap masing-masing emiten akan bergantung pada struktur utang, jatuh tempo kewajiban, serta strategi lindung nilai yang diterapkan perusahaan.(*)