KABARBURSA.COM – Harga emas dunia mendadak kehilangan kilaunya setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan damai sementara dengan Iran telah berakhir. Pernyataan itu langsung memantik lonjakan harga minyak, memunculkan kembali kekhawatiran inflasi, sekaligus memperbesar peluang kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat.
Pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026 WIB, harga emas spot merosot 1,1 persen menjadi USD 4.061,32 per ons atau sekitar Rp69,04 juta. Angka itu menjadi level terendah sejak 2 Juli. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus anjlok hampir 2 persen menjadi USD 4.074,20 per ons atau sekitar Rp69,26 juta.
Tekanan terhadap emas datang bersamaan dengan melonjaknya harga minyak lebih dari 6 persen. Lonjakan itu terjadi setelah Trump menegaskan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik selama empat bulan pada Juni kini sudah tidak lagi berlaku. “Sudah berakhir,” kata Trump mengenai kesepakatan tersebut, dilansir dari Reuters, Kamis, 9 Juli 2026.
Trump juga menambahkan bahwa dirinya tidak ingin kembali membuka komunikasi dengan Teheran.
Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan lonjakan harga minyak kembali menghidupkan kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat dalam rapat-rapat mendatang.
“Lonjakan harga minyak kembali memunculkan kekhawatiran akan kenaikan inflasi yang dapat memengaruhi keputusan kebijakan The Fed pada pertemuan-pertemuan berikutnya,” ujar Staunovo.
Ia menambahkan perhatian pelaku pasar kini tertuju pada kemungkinan terganggunya pasokan minyak dalam beberapa pekan ke depan.
Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Serangan itu disebut sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap Iran sekaligus pencabutan izin yang sebelumnya memungkinkan negara tersebut menjual minyak.
Meski selama ini emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga justru menjadi kabar buruk bagi logam mulia tersebut. Bunga yang lebih tinggi membuat aset tanpa imbal hasil seperti emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen investasi lain.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat pada September mencapai 68 persen. Sehari sebelumnya, probabilitas tersebut masih berada di level 62 persen.
Koreksi atau Awal Tren?
Pelemahan harga emas kali ini bukan sekadar reaksi sesaat terhadap memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran. Data pasar menunjukkan logam mulia itu memang sedang berada dalam fase koreksi setelah sempat mencetak rekor harga tertinggi pada awal tahun.
Berdasarkan Trading Economics, harga emas telah terkoreksi sekitar 4,3 persen dalam sebulan terakhir. Meski begitu, nilainya masih lebih tinggi sekitar 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, pada Januari 2026, harga emas sempat menyentuh rekor sepanjang sejarah di kisaran USD5.608,35 per ons sebelum perlahan kehilangan tenaga.
Tekanan terhadap emas semakin besar karena pasar mulai memperhitungkan kemungkinan bank sentral Amerika Serikat kembali menaikkan suku bunga. Reuters melaporkan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini meningkat hingga sekitar 70 persen. Investor juga tengah menunggu risalah rapat Federal Open Market Committee sebagai petunjuk arah kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, harga minyak justru bergerak ke arah sebaliknya. Setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan kesepakatan damai dengan Iran telah berakhir, harga minyak dunia melonjak lebih dari 5 persen. Lonjakan ini memicu kekhawatiran inflasi kembali memanas karena biaya energi berpotensi naik dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Bukan Cuma Perang
Ketika konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memanas, investor justru tidak buru-buru memborong logam mulia. Sebaliknya, perhatian pasar beralih pada ancaman inflasi yang bisa memaksa bank sentral Amerika Serikat mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Salah satu sinyalnya terlihat dari penguatan Indeks Dolar Amerika Serikat atau DXY. Setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan, indeks dolar bertahan di kisaran 101. Nilai tukar dolar yang lebih kuat membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga permintaannya cenderung melemah. Di saat yang sama, kontrak emas berjangka ikut tertekan dan kembali bergerak mendekati level USD4.000 per ons.
Pasar obligasi juga mengirimkan sinyal yang sama. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,56 persen. Kenaikan yield membuat investor lebih tertarik memarkir dana di obligasi yang menawarkan imbal hasil tetap dibandingkan emas yang tidak memberikan bunga. Kondisi inilah yang semakin menekan harga logam mulia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Di sisi lain, indeks volatilitas CBOE atau VIX yang kerap dijuluki sebagai indikator ketakutan Wall Street juga ikut melonjak setelah sebelumnya bergerak relatif tenang. Namun menariknya, kenaikan VIX kali ini tidak diikuti reli emas sebagaimana lazim terjadi ketika risiko geopolitik meningkat. Pelaku pasar tampaknya lebih mengkhawatirkan dampak lonjakan harga energi terhadap inflasi dan arah kebijakan suku bunga dibandingkan risiko perang itu sendiri.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berada di kawasan Teluk.
Setiap ancaman terhadap jalur tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi global, mendorong harga minyak naik, memicu inflasi, lalu memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi. Rantai peristiwa itulah yang akhirnya membuat harga emas kehilangan momentum penguatannya meski tensi geopolitik sedang meningkat.(*)