KABARBURSA.COM – Harga emas dunia sempat tertekan pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian. Pelemahan itu tertahan setelah data inflasi tingkat produsen Amerika Serikat menunjukkan penurunan tak terduga pada Juni. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih membuat pelaku pasar waspada terhadap risiko inflasi dan peluang suku bunga tetap tinggi.
Dilansir dari Reuters, Kamis, harga emas spot bergerak relatif stabil di level USD4.057,34 per ounce atau sekitar Rp72,63 juta per ounce pada pukul 13.40 waktu setempat. Sebelumnya, logam mulia ini sempat merosot hampir 1 persen. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,4 persen ke posisi USD4.051,80 per ounce atau sekitar Rp72,53 juta per ounce.
Kepala Strategi Pasar Blue Line Futures Phillip Streible menilai pelemahan harga emas mulai mereda setelah data inflasi produsen memberikan sinyal yang lebih baik dibanding perkiraan pasar.
“Harga emas berhasil memangkas pelemahan yang terjadi sejak pagi karena data indeks harga produsen lebih rendah dari perkiraan sehingga mengurangi sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga beberapa kali pada tahun ini,” ujar Streible.
Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan Indeks Harga Produsen atau Producer Price Index (PPI) untuk permintaan akhir turun 0,3 persen pada Juni. Sebelumnya, data Mei direvisi menjadi kenaikan 0,6 persen dari laporan awal.
Angka tersebut lebih rendah dibanding proyeksi ekonom yang dihimpun Reuters. Sebelumnya, para analis memperkirakan PPI tidak berubah pada Juni setelah laporan awal Mei menunjukkan kenaikan 1,1 persen.
Data CME FedWatch Tool juga memperlihatkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve bulan Juli turun menjadi sekitar 10,2 persen setelah data PPI dirilis. Sebelum laporan tersebut dipublikasikan, peluang kenaikan suku bunga masih berada di kisaran 16,6 persen.
Sehari sebelumnya, inflasi konsumen Amerika Serikat juga dilaporkan melambat lebih besar dari ekspektasi pasar. Kondisi itu memperkuat pandangan bahwa tekanan harga mulai mereda meski belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik kembali menjadi perhatian investor. Amerika Serikat mengumumkan dimulainya gelombang baru serangan terhadap Iran setelah memberlakukan kembali blokade laut di sejumlah pelabuhan negara tersebut. Sebagai respons, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan. Situasi tersebut mendorong harga minyak kembali menguat.
Analis Riset Senior FXTM Lukman Otunuga mengatakan meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi.
“Perkembangan terbaru di sekitar Selat Hormuz kembali menghidupkan kekhawatiran terhadap tekanan harga yang sulit dikendalikan. Jika ketegangan terus meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi, kondisi ini justru dapat membuka risiko pelemahan harga emas,” katanya.
Menurut Otunuga, level USD4.000 per ounce atau sekitar Rp71,60 juta menjadi area penting yang akan menentukan arah pergerakan emas berikutnya.
“Jika harga menembus kuat di bawah level tersebut, peluang penurunan menuju USD3.950 per ounce atau sekitar Rp70,71 juta bahkan USD3.000 per ounce atau sekitar Rp53,70 juta akan semakin terbuka. Namun apabila level USD4.000 mampu bertahan sebagai area penopang, harga berpotensi kembali menguat menuju USD4.100 per ounce atau sekitar Rp73,39 juta,” ujarnya.
Kenaikan harga energi dinilai dapat mempertahankan tekanan inflasi sehingga bank sentral berpotensi menahan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak bervariasi. Harga perak spot turun 1,8 persen menjadi USD57,55 per ounce atau sekitar Rp1,03 juta per ounce. Di sisi lain, platinum naik 0,9 persen ke level USD1.646,47 per ounce atau sekitar Rp29,47 juta per ounce, sedangkan paladium melemah 0,9 persen menjadi USD1.293,58 per ounce atau sekitar Rp23,15 juta per ounce.
Bank Sentral Masih Borong Emas, Harga Sulit Jatuh?
Pelemahan harga emas dalam beberapa hari terakhir belum sepenuhnya mengubah pandangan terhadap prospek logam mulia. Di tengah ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat, permintaan dari bank sentral dan investor masih menjadi faktor yang menopang pergerakan emas dalam jangka menengah.
Laporan Gold Demand Trends Q1 2026 yang dirilis World Gold Council (WGC) mencatat pembelian bersih emas oleh bank sentral mencapai 244 ton pada kuartal I 2026. Angka tersebut naik 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meski aktivitas penjualan emas oleh beberapa bank sentral juga meningkat selama kuartal tersebut.
World Gold Council menilai risiko geopolitik masih menjadi faktor utama yang mendukung permintaan emas sepanjang 2026. Organisasi tersebut memperkirakan pembelian dari bank sentral serta permintaan investasi akan tetap bertahan di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Selain pembelian bank sentral, minat investor terhadap instrumen berbasis emas juga masih terjaga. World Gold Council mencatat dana kelolaan berbasis emas atau gold-backed exchange traded funds (ETF) membukukan arus masuk sebesar 62 ton pada kuartal I 2026. Meski lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu, capaian tersebut menunjukkan investor masih mempertahankan eksposur terhadap aset lindung nilai di tengah tingginya volatilitas pasar.
Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan global mulai menyesuaikan proyeksi harga emas setelah sikap Federal Reserve dinilai semakin agresif dalam menjaga suku bunga. HSBC, misalnya, memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 dari USD4.864 per ounce menjadi USD4.560 per ounce. Bank tersebut menilai penguatan dolar Amerika Serikat dan ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang membatasi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.
Meski memangkas proyeksi, HSBC menilai pembelian emas oleh bank sentral masih akan menjadi penyangga penting bagi harga logam mulia dalam jangka panjang. Bank itu juga memperkirakan arus keluar dana dari ETF emas yang sempat terjadi pada awal tahun berpotensi mereda pada paruh kedua 2026 seiring investor kembali mencari aset aman di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Pandangan serupa disampaikan World Gold Council dalam laporan Gold Mid-Year Outlook 2026. WGC memperkirakan harga emas bergerak dalam kisaran yang relatif terbatas pada paruh kedua tahun ini. Namun, organisasi tersebut menilai peluang penguatan tetap terbuka apabila muncul katalis baru seperti memburuknya kondisi ekonomi global, meningkatnya ketegangan geopolitik, atau berubahnya ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral.(*)