Market Watch

08 Jul 2026

KOKA 135 +35,00%
FUTR 220 +34,97%
ECII 153 +34,21%
RMKO 390 +25,00%
COCO 290 +25,00%
ASPI 414 +24,70%
DEPO 286 +24,35%
MDIA 71 +20,34%
CSMI 82 +18,84%
PADI 89 +12,66%
RGAS 188 +11,24%
VISI 950 +11,11%
TRUS 600 +10,09%
LUCY 715 +10,00%
PSDN 110 +10,00%
BTEK 11 +10,00%
BAPA 378 +9,88%
CASH 191 +9,77%
UDNG 1.410 +9,73%
NINE 79 +9,72%
PPGL 194 +9,60%
SAGE 23 +9,52%
IFSH 1.335 +9,43%
RCCC 93 +9,41%
KOKA 135 +35,00%
FUTR 220 +34,97%
ECII 153 +34,21%
RMKO 390 +25,00%
COCO 290 +25,00%
ASPI 414 +24,70%
DEPO 286 +24,35%
MDIA 71 +20,34%
CSMI 82 +18,84%
PADI 89 +12,66%
RGAS 188 +11,24%
VISI 950 +11,11%
TRUS 600 +10,09%
LUCY 715 +10,00%
PSDN 110 +10,00%
BTEK 11 +10,00%
BAPA 378 +9,88%
CASH 191 +9,77%
UDNG 1.410 +9,73%
NINE 79 +9,72%
PPGL 194 +9,60%
SAGE 23 +9,52%
IFSH 1.335 +9,43%
RCCC 93 +9,41%
Market Hari Ini 08 Jul 2026 Penulis: Gusti Ridani Editor: Yunila Wati

EMMI Andalkan Yuan untuk Lindungi Ekspansi dari Risiko Kurs Dolar

EMMI mengunci harga bahan baku menggunakan yuan sejak awal 2026 untuk meredam risiko kurs dolar AS, sembari menyiapkan pabrik baru BMHP yang ditargetkan berproduksi pada 2027.

EMMI mengandalkan yuan untuk meredam risiko kurs dolar AS sambil menyiapkan pabrik baru BMHP dan membidik pertumbuhan dua digit pada 2026.

Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja di BEI saat IPO EMMI, Rabu, 8 Juli 2026. (Foto: Gusti Ridani/KabarBursa.com)
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja di BEI saat IPO EMMI, Rabu, 8 Juli 2026. (Foto: Gusti Ridani/KabarBursa.com)

Daftar Isi

  1. 01 Pabrik BMHP Seluas 3.000 Meter Persegi
  2. 02 Produksi Benang Operasi
  3. 03 Target Pendapatan 2026
  4. 04 Orderbook Tebal di Level 565

KABARBURSA.COM - PT Esa Medika Mandiri Tbk dengan kode emiten EMMI memasang strategi tameng kurs yang kokoh guna mengamankan rencana ekspansi pabrik baru mereka dari dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Emiten alat kesehatan yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia atau BEI ini memilih menggunakan mata uang Yuan atau RMB dalam mengunci harga bahan baku dengan prinsipal asal Tiongkok sejak awal 2026.

Langkah mitigasi risiko valuta asing tersebut berjalan beriringan dengan realisasi proyek pabrik baru seluas 3.000 meter persegi yang ditargetkan mulai memproduksi Bahan Medis Habis Pakai atau BMHP pada paruh kedua tahun 2027.

Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja, mengungkapkan bahwa gejolak nilai tukar dolar Amerika Serikat tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap pos pengeluaran perusahaan berkat strategi lindung nilai (hedging) berbasis mata uang non-dolar tersebut.

"Pelemahan rupiah paling besar terhadap US dolar. Kita kerja sama dengan kita punya prinsipal itu dari China dengan menggunakan RMB, dan kita sudah lock harganya dari awal tahun ini," kata Florian Chris Widjaja kepada media, Rabu, 8 Juli 2026.

Dana segar yang diperoleh dari lantai bursa akan langsung dialokasikan untuk memacu program kemandirian alat kesehatan nasional melalui pembangunan fasilitas produksi baru.

Pabrik BMHP Seluas 3.000 Meter Persegi

Pabrik yang direncanakan memiliki dua hingga tiga lantai tersebut akan difokuskan untuk menggarap pasar produk habis pakai medis yang permintaannya terus melonjak di rumah sakit domestik.

Florian menyebut, linimasa pengerjaan fisik bangunan akan dimulai pada akhir tahun ini, dengan estimasi waktu konstruksi memakan waktu sekitar satu tahun penuh sebelum mesin produksi siap diaktifkan secara komersial.

"Luasnya kira-kira 2.000 sampai 3.000 meter persegi. Itu karena kita rencananya membangun dua atau drei lantai untuk pabriknya. Alat kesehatan juga, tapi lebih ke barang habis pakai, BMHP. Targetnya masih di tahun depan, sih. Karena, kan kita kalau rencana bangun di akhir tahun ini, mungkin satu tahunan untuk jadi ya. Perkiraan mulai bisa berproduksi kuartal tiga atau kuartal empat tahun 2027," urai Florian.

Produksi Benang Operasi

Sembari menunggu fasilitas baru rampung, EMMI mengandalkan lini produksi benang operasi yang baru saja berjalan optimal pada tahun ini.

Lini bisnis tersebut memiliki kapasitas terpasang yang sangat besar hingga mencapai 4 juta unit per tahun, meskipun manajemen menetapkan target moderat sebesar 1 hingga 1,5 juta unit untuk penjualan tahun pertama.

Target Pendapatan 2026

Mengenai performa keuangan, EMMI optimistis mampu membukukan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di level dua digit hingga akhir tahun 2026.

Strategi utama untuk mengamankan target tersebut bertumpu pada serapan belanja barang dari instansi pemerintah serta perluasan penetrasi ke sektor swasta.

Perusahaan saat ini mengandalkan kontrak-kontrak pengadaan yang didapatkan melalui jalur Kementerian Kesehatan maupun sistem penjualan digital e-katalog pemerintah, di samping mulai memasok benang operasi ke jaringan rumah sakit swasta dan kelompok klinik.

"Kita sih masih on track ya, untuk kita punya pertumbuhan untuk tahun ini, harusnya double digit untuk laba dan pendapatan. Strategi untuk mencapai itu salah satunya pengembangan usaha. Sama kita juga memang fokus ke pekerjaan-pekerjaan yang didapatkan dari Kementerian Kesehatan, maupun juga dari kita punya penjualan di e-katalog, kan kebanyakan ke pemerintah," jelas Florian.

Optimisme manajemen ini mendapat respons positif dari pelaku pasar modal. Pada debut perdana sahamnya di lantai bursa, transaksi saham EMMI langsung melesat ke posisi harga Rp545 per lembar atau mencatatkan kenaikan sebesar 14,89 persen dari harga perdana yang ditawarkan ke publik.

Orderbook Tebal di Level 565

Seperti diberitakan oleh KabarBursa.com sebelumnya, kinerja saham EMMI pada hari pertama perdagangan juga menunjukkan antusiasme investor terhadap emiten sektor kesehatan yang masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang. 

Respons positif ini juga disinyalir karena peningkatan kebutuhan alat kesehatan dalam negeri serta dorongan pemerintah untuk memperkuat industri manufaktur kesehatan nasional. 

Pelaku pasar menilai EMMI memiliki peluang memperluas pangsa pasar melalui pengembangan kapasitas produksi dan jaringan distribusi yang lebih luas setelah memperoleh tambahan modal dari penawaran saham perdana.

Respons investor terhadap pencatatan perdana saham EMMI terpantau cukup positif. Hingga pukul 09.46 WIB, saham EMMI diperdagangkan di level 565, melonjak 95 poin atau 20,21 persen dibandingkan harga penawaran perdana Rp470per saham.

Selama perdagangan, saham EMMI sempat menyentuh level tertinggi 585 atau batas Auto Rejection Atas (ARA), sementara level terendah berada di 474.

Minat beli investor juga terlihat dari aktivitas transaksi yang cukup tinggi. Volume perdagangan mencapai sekitar 279,62 juta saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp155,3 miliar.

Di sisi antrean perdagangan (order book), permintaan beli masih mendominasi pada kisaran harga Rp565, sedangkan antrean jual terbesar berada di level Rp585, menunjukkan minat investor terhadap saham emiten alat kesehatan tersebut masih cukup kuat pada awal perdagangan.

Secara fundamental, EMMI memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp985 miliar setelah melantai di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan data perdagangan, saham perseroan diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) tahunan 28,85 kali dengan price to book value (PBV) 7,28 kali.

Perseroan juga membukukan laba bersih sebesar Rp34 miliarsepanjang 2025, meningkat dibandingkan Rp11 miliar pada tahun sebelumnya, mencerminkan pertumbuhan kinerja menjelang pencatatan saham perdana.

Penguatan harga saham pada hari pertama perdagangan menunjukkan pasar memberikan respons positif terhadap prospek bisnis EMMI, terutama di tengah meningkatnya perhatian pemerintah terhadap penguatan industri alat kesehatan dalam negeri dan upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
GU
Jurnalis Madya

Gusti Ridani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait