KABARBURSA.COM – Pergerakan saham top gainers pada perdagangan Jumat, 10 April 2026, diwarnai lonjakan signifikan sejumlah emiten hingga menyentuh Auto Reject Atas (ARA).
Namun di balik penguatan tersebut, aliran dana asing menunjukkan pola yang tidak merata di beberapa saham.
Data perdagangan yang dihimpun Kabarbursa.com, menunjukkan empat saham mencatatkan kenaikan tertinggi menyentuh batas ARA, yakni CITY yang naik 34,72 persen ke level 194, WBSA menguat 34,52 persen ke 226, DIVA naik 34,51 persen ke 191, serta OPMS melonjak 34,43 persen ke 164.
Kenaikan ini menempatkan keempat saham tersebut sebagai pemimpin penguatan harian tersebut.
Pada saham CITY, kenaikan harga disertai net foreign buy sebesar Rp5,94 miliar. Aktivitas ini terjadi dengan nilai transaksi Rp1,54 miliar dan frekuensi 2,09 ribu kali. Volume perdagangan tercatat 86,83 ribu saham.
Sementara itu, WBSA juga mencatat kenaikan signifikan ke level 226. Namun, pergerakan ini diikuti net foreign sell sebesar 1,72 juta. Nilai transaksi saham ini mencapai Rp462,87 juta dengan frekuensi 7,82 ribu kali.
Berbeda dengan dua saham sebelumnya, DIVA mencatat aktivitas transaksi yang jauh lebih besar. Nilai transaksi mencapai Rp15,93 miliar dengan volume 901,82 ribu saham dan frekuensi 10,37 ribu kali. Di sisi lain, saham ini mencatat net foreign sell sebesar 518,11 juta.
Pada saham OPMS, penguatan harga juga diiringi aktivitas perdagangan tinggi. Nilai transaksi tercatat Rp55,99 miliar dengan volume 3,63 juta saham dan frekuensi 11,09 ribu kali. Saham ini mencatat net foreign sell sebesar 1,24 miliar.
Selain empat saham tersebut, sejumlah emiten lain juga masuk dalam daftar top gainers. PADI naik 29 persen ke level 129 dengan net foreign buy sebesar 9,50 miliar.
FITT menguat 24,82 persen ke 342 dengan net foreign buy 88,97 juta.
Saham ASPI mencatat kenaikan 24,74 persen ke 474 dengan net foreign buy sebesar 321,63 juta.
Sementara TRUK naik 24,73 persen ke 454 dan PNSE menguat 24,32 persen ke 690 dengan net foreign buy 2,22 juta.
Pergerakan saham-saham ini menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak selalu diiringi akumulasi asing. Sebagian saham justru mengalami tekanan jual asing meski mencatatkan kenaikan harga signifikan.
Data tersebut mencerminkan dinamika perdagangan di mana pergerakan harga dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk aktivitas domestik dan distribusi asing.
Aktivitas ini tercermin dari variasi net foreign buy dan sell di masing-masing saham.(*)