KABARBURSA.COM - PT Elang Mahkota Teknologi Tbk atau Emtek (EMTK) mengukuhkan dominasi tunggalnya di PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) per akhir Juni 2026
Merujuk data keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 13 Juli 2026, Emtek terpantau menguasai posisi tunggal sebagai pengendali dengan catatan 55,05 miliar lembar saham.
Laporan juga menunjukkan jika Eddy K. Sariaatmadja sebagai penerima manfaat akhir atau ultimate beneficial ownership dari modal saham SCMA.
Kestabilan posisi investasi juga terlihat pada kuantitas lembar saham yang dikempit oleh jajaran manajemen tingkat atas perseroan.
Komisaris Utama SCMA, Adi W. Sariaatmadja, mempertahankan kepemilikan aset pribadi terbesardengan jumlah 241,81 juta lembar saham.
Anggota Dewan Komisaris lainnya, Jay Geoffrey Wacher, tercatat mengantongi kepemilikan modal sebanyak 8,75 juta lembar saham.
Dari jajaran eksekutif, Direktur Utama SCMA Sutanto Hartono memimpin kepemilikan saham individu di tingkat direksi dengan total 109,66 juta lembar saham.
Anggota direksi lainnya turut membukukan angka yang konstan, di mana Mutia Nandika memiliki 80,47 juta lembar saham dan Harsiwi Achmad menguasai 69,56 juta lembar saham.
Sementara itu, Direktur Rusmiyati Djajaseputra tercatat mengempit 51,81 juta lembar saham, disusul oleh David Setiawan Suwarto sebanyak 36,60 juta lembar saham, serta Imam Sudjarwo sebesar 32,71 juta lembar saham.
Secara akumulatif, manajemen memastikan operasional emiten media berkode saham SCMA ini sekarang didukung penuh oleh basis massa sebanyak 32.395 pemegang saham terdaftar.
Pergerakan Saham
SCMA dibuka menguat tipis sebesar 0,96 persen ke level Rp210 pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026. Namun, saham ini mengalami penurunan.
Mengutip data Stockbit, tren tersebutturut menyeret performa akumulasi dalam skala satu pekan terakhir ke zona merah dengan mencatatkan penurunan tipis minus 0,95 persen pada rentang area Rp204 hingga Rp218.
Kondisi berbeda terlihat pada indikator pertumbuhan waktu jangka menengah. Dalam basis satu bulan terakhir, nilai saham SCMA merangkak naik ke zona hijau dengan mencatatkan pertumbuhan positif 4,00 persen pada rentang area fluktuasi Rp192 hingga Rp234 per lembar.
Namun, tren pemulihan bulanan tersebut belum mampu membalikkan tekanan jual yang terjadi pada periode kumulatif di atasnya. Kinerja tiga bulan terakhir mencatatkan koreksi sebesar minus 28,28 persen pada rentang Rp165 menuju Rp312, serta penurunan sebesar minus 36,20 persen pada basis akumulasi enam bulan terakhir dengan sebaran pergerakan harga di Rp165 sampai Rp332.
Akumulasi koreksi pada paruh pertama tahun ini mengakibatkan performa tahun berjalan atau Year to Date (YtD) saham SCMA masih membukukan rapor minus sebesar 38,46 persen.
Sepanjang periode berjalan tahun ini, saham bergerak fluktuatif dari batas harga terendah Rp165 hingga batas puncak tertinggi di level Rp372 per lembar.
Kendati demikian, performa jangka panjang berbasis satu tahun dan tiga tahun menunjukkan pertumbuhan positif masing-masing sebesar 31,65 persen pada rentang Rp154 sampai Rp472, serta naik 20,93 persen pada rentang harga Rp117 hingga Rp472.
Sinyal pemulihan jangka panjang tersebut kembali berbalik tertekan secara signifikan apabila diukur dalam kurun waktu historis yang lebih lama.
Dalam jangka panjang lima tahun terakhir, saham SCMA terpantau amblas di zona merah dengan mencatatkan penurunan performa akumulatif sebesar minus 53,15 persen pada rentang area harga Rp117 hingga Rp472.
Tekanan jual terdalam tecermin secara nyata pada akumulasi kepemilikan periode 10 tahun terakhir di mana saham SCMA merosot drastis sebesar minus 68,39 persen dari batas atas historis lawasnya di level Rp666 merosot ke level terendahnya di level Rp117 per lembar saham.
Keuangan Kuartal I 2026
Merujuk laporan keuangan SCMA yang telah dipublikasikan per 31 Maret 2026, SCMA membukukan laba bersih sebesar Rp307,63 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp153,65 miliar
Akselerasi laba bersih bersih didukung oleh kinerja pendapatan usaha yang mencatatkan pertumbuhan positif. SCMA mencatat total penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp1,86 triliun. Angka ini naik 7,25 persen dibandingkan tiga bulan pertama tahun 2025 yang senilai Rp1,73 triliun.
Beban pokok penjualan dan pendapatan SCMA pada kuartal I 2026 sebesar Rp1,01 triliun. Angka ini menurun dari sebelumnya yang senilai Rp1,14 triliun.
Catatan tersebut mampu menaikan laba bruto SCMA yang menjadi Rp845,06 miliar dari sebelumnya yang senilai Rp595,30 miliar.
Sementara itu, nilai EPS dasar milik SCMA pada awal tahun 2026 bertengger di level Rp4,84 per lembar saham dari posisi periode tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp2,42 per lembar saham. (*)