KABARBURSA.COM - Emiten anyar sektor alat kesehatan, PT Esa Medika Mandiri Tbk, dengan kode saham EMMI, resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia atau BEI pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026.
Melalui aksi korporasi penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) ini, perusahaan membidik pertumbuhan bisnis jangka panjang yang berkelanjutan sekaligus mempercepat misinya membangun ekosistem alat kesehatan (alkes) yang mandiri di dalam negeri.
Langkah melantai di pasar modal ini dinilai menjadi babak baru bagi perseroan untuk meningkatkan daya saing di industri medis nasional. Status sebagai perusahaan terbuka diyakini akan memperkuat struktur permodalan dan operasional perusahaan guna memperluas jangkauan pasar yang telah dibangun sejak tahun 2000 silam.
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja, menegaskan bahwa pencatatan saham ini merupakan komitmen besar manajemen untuk mentransformasi korporasi menjadi entitas publik yang profesional dan transparan.
"Pencatatan saham perdana ini merupakan momentum penting bagi perseroan, karena IPO ini bukan hanya menjadi pencapaian korporasi, tetapi juga awal dari babak baru untuk tumbuh sebagai perusahaan terbuka yang lebih transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pertumbuhan jangka Panjang,” kata Florian Chris saat pembukaan perdagangan saham di BEI, Rabu, 8 Juli 2026.
“Melalui IPO ini pula, perseroan memperoleh kesempatan untuk memperkuat fondasi bisnis, mendukung ekspansi usaha, memperkuat modal kerja, serta meningkatkan kapasitas kami dalam melayani pelanggan dan mitra di sektor kesehatan," lanjut Florian.
Sebagai generasi penerus, Florian menyatakan manajemen baru akan tetap memegang teguh nilai-nilai etos kerja keras dan kepercayaan yang diwariskan oleh para pendiri perusahaan.
Fondasi tersebut akan dikombinasikan dengan penerapan prinsip tata kelola perusahaan yang baik demi memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham baru.
Manajemen menyadari status sebagai perusahaan publik membawa tanggung jawab besar terhadap dana yang dititipkan oleh para investor. Oleh karena itu, transparansi informasi akan menjadi prioritas utama operasional perseroan ke depan.
"Status bursa terbuka akan mendorong kami untuk semakin memperkuat tata kelola, meningkatkan transparansi informasi, dan mempercepat langkah kami dalam membangun ekosistem alat kesehatan yang lebih mandiri di Indonesia. Akhir kata, pencatatan perdana saham EMMI ini bukanlah akhir, melainkan awal dari komitmen kami untuk terus bertumbuh secara berkelanjutan dan memberikan kontribusi yang nyata bagi sektor kesehatan di Indonesia," urai Florian.
Saham EMMI Terbang 20 Persen di Debut Perdana
Strategi ekspansi jangka panjang yang diusung oleh emiten alat kesehatan dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp985 miliar ini langsung direspons agresif oleh pelaku pasar modal.
Berdasarkan data perdagangan bursa pada hari pertama melantai, minat beli investor terpantau mendominasi papan perdagangan sejak bel pembukaan diketok.
Saham EMMI langsung melonjak 95 poin atau melesat sebesar 20,21 persen ke level Rp565 per lembar saham dari harga penawaran perdana yang dipatok sebesar Rp470 per saham.
Tingginya antusiasme pasar bahkan sempat mendorong harga saham berkode EMMI ini menyentuh level tertinggi di posisi Rp585 per lembar, alias membentur batas Auto Rejection Atas atau ARA.
Sisi likuiditas perdagangan perdana ini juga tercatat sangat gemuk, tecermin dari volume perdagangan yang menembus angka 279,62 juta lembar saham dengan nilai transaksi kumulatif mencapai Rp155,3 miliar.
Meskipun secara valuasi saham EMMI kini diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba Price to Earnings Ratio (PER) tahunan sebesar 28,85 kali dan rasio harga terhadap nilai buku Price to Book Value (PBV) sebesar 7,28 kali, antrean beli pada order book di kisaran harga Rp565 hingga Rp585 menunjukkan sentimen positif pasar terhadap prospek bisnis emiten produsen alkes ini masih sangat menebal.
Gunakan RMB untuk Kunci Bahan Baku
Emiten alat kesehatan yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia atau BEI ini memilih menggunakan mata uang Yuan atau RMB dalam mengunci harga bahan baku dengan prinsipal asal Tiongkok sejak awal 2026.
Langkah mitigasi risiko valuta asing tersebut berjalan beriringan dengan realisasi proyek pabrik baru seluas 3.000 meter persegi yang ditargetkan mulai memproduksi Bahan Medis Habis Pakai atau BMHP pada paruh kedua tahun 2027.
Direktur Utama PT Esa Medika Mandiri Tbk Florian Chris Widjaja, mengungkapkan bahwa gejolak nilai tukar dolar Amerika Serikat tidak memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap pos pengeluaran perusahaan berkat strategi lindung nilai (hedging) berbasis mata uang non-dolar tersebut.
"Pelemahan rupiah paling besar terhadap US dolar. Kita kerja sama dengan kita punya prinsipal itu dari China dengan menggunakan RMB, dan kita sudah lock harganya dari awal tahun ini," kata Florian Chris Widjaja kepada media, Rabu, 8 Juli 2026.
Dana segar yang diperoleh dari lantai bursa akan langsung dialokasikan untuk memacu program kemandirian alat kesehatan nasional melalui pembangunan fasilitas produksi baru.(*)