KABARBURSA.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Prediksi ini terjadi di tengah sentimen positif pengumuman S&P Global Ratings.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan secara teknikal, pergerakan IHSG telah menunjukkan kekuatan bullish momentum setelah berhasil rebound dari FR50 persen support sehingga berhasil breakout di atas MA20.
"Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume. Sejatinya sentimen IHSG hari Selasa ini bisa cenderung positif, namun pergerakan intraday berpotensi lebih moderat dibanding Senin kemarin," ujar dia dalam keterangannya.
Menurut Nafan, sentimen positif berasal dari S&P Global Ratings yang menegaskan peringkat kredit Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, dengan outlook tetap stabil.
"Di sinilah S&P mempertahankan status investment grade terhadap Indonesia," ungkapnya.
Nafan menilai Keputusan tersebut menunjukkan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat dan risiko fiskal maupun eksternal diperkirakan bersifat sementara.
Hal ini, lanjut dia, memberikan buffer yang kuat ketika pasar global dilanda kecemasan akibat eskalasi konflik AS-Iran dan koreksi sektor teknologi dunia.
"Kepercayaan investor asing pada saham blue-chip berpotensi terjaga. Sementara itu, hal ini juga stabilitas yield SBN agar tidak melonjak terlalu tinggi, sekaligus mempertahankan daya tarik aset pendapatan tetap Indonesia di mata investor global," jelasnya.
Di sisi lain, Nafan menambahkan kondisi tersebut memberikan sentimen positif untuk menahan tekanan pelemahan Rupiah terhadap Dolar AS yang sedang menguat dan saat ini berada di level Rp18.109 per USD akibat naiknya geopolitical risk premium.
Dari mancanegara, sentimen datang dari ketegangan di kawasan Timur Tengah yang masih memanas setelah runtuhnya gencatan senjata dan terjadi aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Apalagi, Presiden AS Donald Trump kembali memberlakukan blokade terhadap kapal Iran di Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak.
Para pelaku pasar sedang mencermati rilis data inflasi AS (CPI) kemudian pernyataan terbaru dari Gubernur The Fed Kevin Warsh terkait dengan ekspektasi inflasi dan Fed Rate. Para pelaku pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan Fed Rate_ lanjutan hingga akhir tahun.
Uji Resistance
Sementara itu BRI Danareksa menyampaikan, keberhasilan IHSG menembus 6.000 memperkuat momentum rebound dengan peluang menguji resistance 6.080–6.120.
"Selama bertahan di atas support 5.920, tren penguatan jangka pendek masih terjaga," tulis mereka.
Sebagai informasi, IHSG ditutup menguat sebesar 1,92 persen atau naik 6.037 pada perdagangan Senin, 13 Juli 2026.
Menurut BRI Danareksa, menguatnya Indeks per kemarin didorong respons positif terhadap keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia di BBB/A-2 dengan outlook Stable.
"Sentimen ini meredakan kekhawatiran downgrade dan mendorong penguatan saham perbankan serta komoditas, meski Rupiah masih melemah ke Rp18.109/USD," sebutnya.
Adapun, pasar hari ini akan mencermati rilis inflasi AS Juni, dengan inflasi utama diperkirakan melandai ke 3,9 persen Year on Year YoY dari 4,2 persen. Sementara Core CPI diproyeksikan tetap 2,9 persen YoY.
"Data di atas ekspektasi berpotensi memperkuat narasi higher for longer dan menekan Rupiah, sementara inflasi yang lebih rendah dapat mendukung sentimen risk-on," ungkap BRI Danareksa.
Sementara itu MNC Sekuritas menyampaikan, penguatan IHSG pada kemarin mampu menembus MA20. Menurut mereka, IHSG sedang berada pada bagian dari wave (c) dari wave [iv] pada pola triangle.
"Sehingga IHSG berpeluang menguat menguji 6.083-6.254," kata mereka.
MNC Sekuritas menyebut support IHSG hari ini akan berada di kisaran 5.839-5.607. Sementara area resistance bergerak di level 6.286-6,599.
Rekomendasi Saham Hari ini:
Mirae Asset: BRIS, CDIA, EMAS
BRI Danareksa: BUMI, BBNI, SUPA
MNC Sekuritas: ADMR, ANTM, ASII, BRMS
Prediksi IHSG Pekan ini, Waspadai Geopolitik Timur Tengah dan Data AS
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen pendapatan tetap untuk dicermati investor pada perdagangan 13–17 Juli 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS).
Equity Analyst IPOT, David Kurniawan, mengatakan fokus investor pada pekan ini akan tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS periode Juni yang dijadwalkan pada Selasa. Data tersebut dinilai menjadi indikator penting dalam mengukur arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).
Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati pidato para pejabat The Fed serta rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura. Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah dan pasar saham diperkirakan masih dibayangi dinamika konflik di Timur Tengah.
"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," ujar David dalam risetnya, Senin, 13 Juli 2026.
Sebelum memasuki perdagangan pekan ini, IHSG menutup perdagangan Jumat, 10 Juli 2026 di level 6.177 atau menguat 2,82 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Di balik penguatan tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp4,5 triliun di pasar reguler.
Pelaku pasar juga akan memperhatikan pidato sejumlah pejabat bank sentral AS serta rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura.
Sementara dari dalam negeri, David menilai kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam level yang terjaga. Pemerintah melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Secara regulasi, angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen.
Meski demikian, ia mengingatkan laju belanja negara yang lebih cepat dibandingkan penerimaan tetap perlu menjadi perhatian.
"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global," katanya. (*)