KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka di zona merah pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026. Berdasarkan data perdagangan hingga sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 5.858,47 atau turun 14,90 poin setara 0,25 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
IHSG sempat dibuka di level 5.865,77, bergerak ke level tertinggi 5.870,64 dan terendah 5.853,62. Hingga pukul 09.00 WIB, nilai transaksi pasar mencapai Rp276,79 miliar dengan volume perdagangan 4,53 juta lot dalam 72,31 ribu kali transaksi.
Aktivitas investor asing masih mencatatkan jual bersih. Nilai pembelian asing tercatat Rp3,45 triliun, sementara penjualan mencapai Rp4,14 triliun sehingga menghasilkan net foreign sell sebesar Rp689,33 miliar di seluruh pasar atau Rp674,26 miliar di pasar reguler.
Pergerakan sektor saham masih bervariasi. Sektor industrial menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,31 persen. Sementara sektor basic industry menguat 0,04 persen dan sektor energi naik tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, tekanan terjadi pada sejumlah sektor. Sektor kesehatan terkoreksi 0,52 persen, diikuti sektor keuangan 0,45 persen, infrastruktur 0,38 persen, consumer cyclical 0,32 persen, transportasi 0,32 persen, consumer non-cyclical 0,23 persen, properti 0,06 persen, dan teknologi 0,03 persen.
Dari daftar top gainers, saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) memimpin penguatan setelah melesat 35 persen ke level 162 pada hari pertama pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia. PRDL resmi melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) pada Kamis, 9 Juli 2026 dengab harga 120 per lembarnya.
Posisi berikutnya ditempati PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) yang menguat 28,75 persen ke level 206, disusul PT Niramas Utama Tbk (JELI) naik 24,91 persen ke level 1.755, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menguat 24,55 persen ke level 685, serta PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) yang naik 19,48 persen ke level 92.
Penguatan JELI masih berlanjut setelah emiten produsen makanan dan minuman tersebut resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada Selasa, 7 Juli 2026. Sementara itu, BACH yang bergerak di sektor perdagangan dan distribusi juga melanjutkan penguatan setelah resmi mencatatkan saham perdana pada Rabu, 8 Juli 2026.
Di sisi lain, daftar top losers dipimpin PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) yang turun 14,87 persen ke level 1.660. Emiten yang baru melaksanakan IPO pada Selasa, 7 Juli 2026 tersebut menjadi saham dengan pelemahan terdalam pada awal perdagangan.
Pelemahan juga dialami PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) yang turun 14,51 persen ke level 330, PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA) melemah 11,38 persen ke level 740, PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) terkoreksi 11,11 persen ke level 80, serta PT Graha Prima Mentari Tbk (GRPM) yang turun 9,63 persen ke level 244.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan secara teknikal IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi yang masih membayangi.
“Kami perkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave b dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam. Hal tersebut berarti, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji level 6.083 hingga 6.203, namun cermati area koreksi pada level 5.752 hingga 5.840,” ujar Herditya Wicaksana dalam riset hariannya, Kamis, 9 Juli 2026.
MNC Sekuritas mencatat level support IHSG berada di area 5.486 dan 5.317. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada di 6.007 dan 6.286. Di tengah proyeksi tersebut, terdapat sejumlah saham yang dinilai menarik untuk diperhatikan berdasarkan pergerakan teknikalnya.
Saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 1,93 persen ke level 1.320 disertai peningkatan volume pembelian. Menurut Herditya, posisi AKRA diperkirakan tengah berada pada bagian dari wave [c] dari wave B sehingga masih menunjukkan sinyal penguatan secara teknikal.
Sementara itu, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) terkoreksi 0,92 persen ke level 540 dengan tekanan jual yang masih terlihat sehingga pergerakannya masih berada dalam fase sideways. Meski demikian, MNC Sekuritas memperkirakan ESSA sedang berada pada bagian dari wave 3 dari wave (C).
Adapun saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatat kenaikan 4 persen ke level 1.170. Penguatan tersebut masih didukung meningkatnya volume pembelian.
“Kami perkirakan, posisi MEDC saat ini sedang berada pada bagian dari wave A dari wave (B),” kata Herditya.
Berbeda dengan ketiga saham tersebut, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) justru masih berada dalam tekanan. DEWA terkoreksi 3,87 persen ke level 298 dan masih didominasi aksi jual. Herditya menilai secara teknikal DEWA masih berpotensi melanjutkan pelemahannya.
“Kami memperkirakan, posisi DEWA saat ini sedang berada pada bagian dari wave 5 dari wave (C), sehingga DEWA masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 198 hingga 224,” katanya.
Bagaimana Kondisi Dana Asing saat ini?
Peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan secara teknikal masih terbuka. Namun, sejumlah indikator menunjukkan pergerakan pasar saham domestik masih dibayangi tekanan dari faktor eksternal, mulai dari arus dana asing yang belum stabil, memanasnya konflik geopolitik, hingga sentimen pasar global.
Data perdagangan BEI menunjukkan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp12,53 miliar di pasar reguler pada perdagangan 8 Juli 2026. Pada hari yang sama, nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp9,54 triliun dengan volume perdagangan sekitar 20,88 miliar saham. IHSG ditutup melemah 1,79 persen ke level 5.879,08. Data tersebut menunjukkan arus modal asing belum sepenuhnya kembali menopang pasar saham domestik.
Meski demikian, aktivitas investor asing belum sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia. Berdasarkan data Infovesta, saham-saham yang paling banyak dikoleksi investor asing berdasarkan volume pada 8 Juli antara lain GOTO, BNBR, BBRI, BRPT, dan ANTM. Kondisi ini mengindikasikan investor masih melakukan seleksi terhadap saham-saham tertentu di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Tekanan terhadap IHSG juga tidak terjadi secara terpisah dari dinamika global. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sentimen tersebut turut memengaruhi bursa saham di kawasan Asia yang bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan perlambatan aktivitas ekonomi global.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak Brent sempat bergerak dari sekitar USD71,99 per barel menjadi USD73,17 per barel sebelum kembali mendekati USD80 per barel setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,55 persen, sementara dolar Amerika Serikat tetap bertahan kuat karena investor memburu aset yang dianggap lebih aman. Kombinasi faktor tersebut biasanya memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski tekanan eksternal masih tinggi, valuasi pasar saham Indonesia dinilai mulai lebih menarik. Berdasarkan kajian BCA Wealth Management, forward price to earnings ratio (PER) IHSG berada di kisaran 14,22 kali, mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir.(*)