KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Selasa, 14 Juli 2026. Hingga sekitar pukul 09.06 WIB, IHSG berada di level 6.006,11 atau turun 31,73 poin setara 0,53 persen.
Pada awal perdagangan, IHSG sempat dibuka di level 6.057,76, menyentuh level tertinggi 6.065,40, dan terendah 6.002,90.
Aktivitas perdagangan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp2,34 triliun dengan volume mencapai 30,46 juta lot dan frekuensi sebanyak 377,41 ribu kali transaksi.
Investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp437,66 miliar di seluruh pasar. Nilai pembelian asing tercatat Rp3,59 triliun, sedangkan penjualan mencapai Rp4,02 triliun.
Secara sektoral, pelemahan terdalam terjadi pada sektor industri yang turun 0,83 persen, disusul sektor keuangan melemah 0,68 persen, bahan baku terkoreksi 0,51 persen, sektor barang konsumsi primer turun 0,30 persen.
Baca Juga
Sementara itu, sektor energi menguat 0,60 persen, infrastruktur naik 0,46 persen, sektor siklikal bertambah 0,42 persen, teknologi menguat 0,38 persen, kesehatan naik 0,14 persen, properti menguat 0,11 persen, dan transportasi naik 0,06 persen.
Dari jajaran top gainers, saham PT Berlina Tbk (BRNA) memimpin kenaikan setelah melonjak 24,78 persen ke level 705. Disusul PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) yang naik 20,19 persen ke level 250, PT Trimitra Prawara Goldland Tbk (ATAP) menguat 19,82 persen ke level 665, PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) naik 19,12 persen ke level 324, serta PT Argha Karya Prima Industry Tbk (AKPI) yang menguat 15 persen ke level 575.
Di sisi lain, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI) menjadi top losers setelah turun 9,80 persen ke level 1.150. Pelemahan juga dialami PT IMC Pelita Logistik Tbk (PSSI) yang turun 7,74 persen ke level 286, PT Artha Mahiya Investama Tbk (AIMS) melemah 7,14 persen ke level 416, PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) turun 6,86 persen ke level 190, dan PT Kentanix Supra International Tbk (KSIX) terkoreksi 6,38 persen ke level 264.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan. Dalam risetnya, IHSG pada perdagangan sebelumnya menguat 1,92 persen ke level 6.037 dengan didukung peningkatan volume beli sehingga berhasil menguat di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20).
MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini merupakan bagian dari gelombang (c) pada pola segitiga, sehingga berpeluang menguji area 6.083 hingga 6.254. Adapun level support berada di 5.839 dan 5.607, sedangkan resistance berada di 6.286 dan 6.599.
Mengapa Asing Masih Ramai Jual Saham RI?
Pelemahan IHSG pada awal perdagangan Selasa, 14 Juli 2026, tidak terjadi di tengah kondisi pasar global yang kondusif. Di saat investor asing kembali membukukan jual bersih Rp437,66 miliar di seluruh pasar, sentimen eksternal justru masih dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Tekanan tersebut tercermin dari pergerakan pasar global pada perdagangan sebelumnya. Wall Street ditutup melemah dengan indeks S&P 500 turun 0,8 persen, sedangkan Nasdaq terkoreksi 1,6 persen. Pada saat yang sama, harga minyak Brent naik sekitar 2,6 persen menjadi USD85,50 atau sekitar Rp1.530.450 per barel setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait Selat Hormuz. Kenaikan harga energi kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global. (Reuters)
Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga meningkat hingga sekitar 4,63 persen. Kenaikan yield mencerminkan ekspektasi investor bahwa suku bunga acuan di Amerika Serikat berpotensi bertahan lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, terutama setelah sejumlah pejabat Federal Reserve menyampaikan pandangan yang masih cenderung hawkish. Kondisi tersebut umumnya membuat aset berisiko di negara berkembang, termasuk pasar saham Indonesia, menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen dolar AS.
Di dalam negeri, aksi jual investor asing pada perdagangan Selasa juga memperpanjang tren arus keluar modal dari pasar saham Indonesia. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia yang dikutip Jakarta Globe, investor asing telah mencatatkan jual bersih sekitar Rp68,25 triliun sepanjang 2026. Dengan demikian, nilai jual bersih Rp437,66 miliar pada awal perdagangan hari ini lebih mencerminkan kelanjutan tren outflow dibandingkan pergerakan yang bersifat insidental.
Kombinasi meningkatnya harga minyak, kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat, dan berlanjutnya arus keluar dana asing menjadi faktor yang masih membayangi pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Di sisi lain, pelaku pasar juga tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat yang dinilai akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan moneter Federal Reserve pada pertemuan berikutnya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah analis menilai volatilitas pasar masih berpotensi bertahan selama ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga global belum menunjukkan arah yang lebih jelas. Oleh karena itu, perhatian investor tidak hanya tertuju pada faktor domestik, tetapi juga pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta kebijakan moneter Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.(*)