KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,89 persen ke level 5.873 pada perdagangan Rabu, 8 Juli 2026. Pelemahan tersebut diikuti meningkatnya tekanan jual yang membuat pergerakan indeks kembali berada di bawah rata-rata pergerakan 20 hari atau MA20.
Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan secara teknikal IHSG masih memiliki peluang melanjutkan penguatan dalam jangka pendek. Namun, investor tetap perlu mencermati potensi koreksi yang masih membayangi.
“Kami perkirakan, posisi IHSG saat ini sedang berada pada bagian dari wave b dari wave (b) dari wave [iv] pada skenario hitam. Hal tersebut berarti, IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatannya untuk menguji level 6.083 hingga 6.203, namun cermati area koreksi pada level 5.752 hingga 5.840,” ujar Herditya Wicaksana dalam riset hariannya, Kamis, 9 Juli 2026.
MNC Sekuritas mencatat level support IHSG berada di area 5.486 dan 5.317. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada di 6.007 dan 6.286. Di tengah proyeksi tersebut, terdapat sejumlah saham yang dinilai menarik untuk diperhatikan berdasarkan pergerakan teknikalnya.
Saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 1,93 persen ke level 1.320 disertai peningkatan volume pembelian. Menurut Herditya, posisi AKRA diperkirakan tengah berada pada bagian dari wave [c] dari wave B sehingga masih menunjukkan sinyal penguatan secara teknikal.
Sementara itu, saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) terkoreksi 0,92 persen ke level 540 dengan tekanan jual yang masih terlihat sehingga pergerakannya masih berada dalam fase sideways. Meski demikian, MNC Sekuritas memperkirakan ESSA sedang berada pada bagian dari wave 3 dari wave (C).
Adapun saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) mencatat kenaikan 4 persen ke level 1.170. Penguatan tersebut masih didukung meningkatnya volume pembelian.
“Kami perkirakan, posisi MEDC saat ini sedang berada pada bagian dari wave A dari wave (B),” kata Herditya.
Berbeda dengan ketiga saham tersebut, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) justru masih berada dalam tekanan. DEWA terkoreksi 3,87 persen ke level 298 dan masih didominasi aksi jual. Herditya menilai secara teknikal DEWA masih berpotensi melanjutkan pelemahannya.
“Kami memperkirakan, posisi DEWA saat ini sedang berada pada bagian dari wave 5 dari wave (C), sehingga DEWA masih rawan melanjutkan koreksinya ke rentang 198 hingga 224,” katanya.
Bagaimana Kondisi Dana Asing saat ini?
Peluang IHSG untuk melanjutkan penguatan secara teknikal masih terbuka. Namun, sejumlah indikator menunjukkan pergerakan pasar saham domestik masih dibayangi tekanan dari faktor eksternal, mulai dari arus dana asing yang belum stabil, memanasnya konflik geopolitik, hingga sentimen pasar global.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp12,53 miliar di pasar reguler pada perdagangan 8 Juli 2026. Pada hari yang sama, nilai transaksi saham mencapai sekitar Rp9,54 triliun dengan volume perdagangan sekitar 20,88 miliar saham. IHSG ditutup melemah 1,79 persen ke level 5.879,08. Data tersebut menunjukkan arus modal asing belum sepenuhnya kembali menopang pasar saham domestik.
Meski demikian, aktivitas investor asing belum sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia. Berdasarkan data Infovesta, saham-saham yang paling banyak dikoleksi investor asing berdasarkan volume pada 8 Juli antara lain GOTO, BNBR, BBRI, BRPT, dan ANTM. Kondisi ini mengindikasikan investor masih melakukan seleksi terhadap saham-saham tertentu di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Tekanan terhadap IHSG juga tidak terjadi secara terpisah dari dinamika global. Meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Sentimen tersebut turut memengaruhi bursa saham di kawasan Asia yang bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan perlambatan aktivitas ekonomi global.
Di sisi lain, konflik di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia. Harga minyak Brent sempat bergerak dari sekitar USD71,99 per barel menjadi USD73,17 per barel sebelum kembali mendekati USD80 per barel setelah Amerika Serikat melancarkan serangan baru ke Iran.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun naik ke kisaran 4,55 persen, sementara dolar Amerika Serikat tetap bertahan kuat karena investor memburu aset yang dianggap lebih aman. Kombinasi faktor tersebut biasanya memberikan tekanan terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski tekanan eksternal masih tinggi, valuasi pasar saham Indonesia dinilai mulai lebih menarik. Berdasarkan kajian BCA Wealth Management, forward price to earnings ratio (PER) IHSG berada di kisaran 14,22 kali, mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir.
Sementara itu, valuasi indeks LQ45 tercatat sekitar 12,04 kali. Menurut BCA Wealth Management, kondisi tersebut menunjukkan koreksi pasar dalam beberapa bulan terakhir telah membuat valuasi saham Indonesia lebih murah dibandingkan rata-rata historisnya.
Dengan kondisi tersebut, prospek IHSG dalam jangka pendek diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan sentimen global. Di satu sisi, valuasi yang semakin menarik dapat menjadi daya tarik bagi investor jangka panjang. Namun di sisi lain, selama ketegangan geopolitik dan arus modal asing belum menunjukkan perbaikan yang konsisten, volatilitas pasar diperkirakan masih akan tetap tinggi.(*)