KABARBURSA.COM – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam fase konsolidasi dengan bias hati-hati pada perdagangan 6-10 Juli 2026.
Tekanan jual investor asing, pelemahan data ekonomi domestik, dan ketidakpastian sentimen global dinilai masih membatasi ruang penguatan indeks.
Equity Analyst IPOT, Hari Rachmansyah, mengatakan secara fundamental maupun teknikal, IHSG belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Menurut dia, koreksi mingguan yang relatif terbatas mengindikasikan tekanan jual mulai mereda, namun penurunan nilai transaksi dan arus keluar dana asing secara year to date masih membayangi pergerakan pasar.
"Untuk pekan 6-10 Juli, area support terdekat IHSG berada di 5.800-5.760, dengan support lanjutan di 5.650 apabila tekanan Rupiah atau sentimen global kembali memburuk. Sementara itu, resistance terdekat berada di 5.950, lalu area psikologis 6.000-6.050 yang perlu ditembus dengan volume lebih solid dan konfirmasi foreign inflow agar tren pemulihan menjadi lebih valid," kata Hari dalam risetnya, Senin, 6 Juli 2026.
Hari mengutip data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menunjukkan IHSG bergerak konsolidatif sepanjang 29 Juni hingga 3 Juli 2026 dan ditutup melemah 0,35 persen ke level 5.875. Pelemahan tersebut, menurut dia, dipengaruhi aksi jual investor asing dan minimnya sentimen positif baru. Investor asing juga masih membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp2,9 triliun di pasar reguler sepanjang pekan lalu.
"Dari sisi foreign flow, investor asing masih mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp2,9 triliun dalam sepekan. Angka ini menunjukkan sentimen investor asing terhadap pasar saham domestik masih cenderung berhati-hati," ujarnya.
Data Indikator Makroekonomi Domestik dan Global
Selain tekanan dari arus modal asing, Hari juga mengutip sejumlah indikator makroekonomi domestik dan global yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Indeks PMI Manufaktur Indonesia pada Juni turun ke level 46,9 yang menandakan aktivitas manufaktur kembali berada di zona kontraksi. Sementara itu, inflasi tahunan meningkat menjadi 3,34 persen dari 3,08 persen pada Mei. Menurut dia, kenaikan inflasi tersebut membuat pelaku pasar mulai mencermati dampaknya terhadap daya beli masyarakat dan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Sementara dari dalam negeri, perhatian investor akan tertuju pada rilis cadangan devisa Juni pada Selasa, 7 Juli 2026, indeks keyakinan konsumen (consumer confidence) Juni pada Rabu, 8 Juli 2026, serta data penjualan ritel (retail sales) Mei pada Kamis, 9 Juli 2026.
"Data tersebut penting karena inflasi Juni sudah meningkat ke 3,34 persen yoy dari 3,08 persen yoy pada Mei, sementara core inflation juga naik ke 2,76 persen, menandakan tekanan harga mulai lebih sensitif terhadap pelemahan Rupiah dan biaya logistik," ujar Hari.
Ia menambahkan, defisit neraca perdagangan Mei sebesar USD1,61 miliar yang merupakan defisit pertama dalam enam tahun juga menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi ketahanan transaksi berjalan dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas setelah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni.
"Oleh karena itu, pergerakan Rupiah di sekitar area Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS, arah yield SBN/SRBI, serta kelanjutan arus dana asing akan menjadi indikator utama untuk menilai apakah tekanan domestik mulai mereda atau kembali membebani risk appetite investor," kata Hari. IPOT menilai investor perlu lebih selektif dalam mengambil posisi di pasar.
Selama belum ada konfirmasi penguatan tren yang didukung peningkatan volume transaksi dan kembali masuknya dana asing, strategi averaging down secara agresif dinilai masih perlu dihindari.
Dari eksternal, Hari mencatat perdagangan Wall Street pada sesi terakhir sebelum libur Independence Day ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 1,1 persen dan mencetak rekor penutupan di level 52.900,07. Sebaliknya, S&P 500 bergerak relatif datar di level 7.483,24, sedangkan Nasdaq Composite turun 0,8 persen ke level 25.832,67 akibat aksi jual yang berlanjut pada saham-saham semikonduktor dan emiten berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ia menjelaskan, sentimen utama berasal dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Juni yang berada di bawah ekspektasi. Nonfarm payrolls hanya bertambah 57.000 pekerjaan, lebih rendah dibandingkan proyeksi 110.000 pekerjaan, sementara tingkat pengangguran bertahan di level 4,2 persen.
Menurut Hari, data tersebut meredam kekhawatiran pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, dalam waktu dekat.
Meski sesi terakhir Wall Street bergerak bervariasi, kinerja mingguan indeks utama Amerika Serikat masih berada di zona positif. Dow Jones menguat 2,0 persen, S&P 500 naik 1,8 persen, dan Nasdaq Composite menguat 2,1 persen. Di pasar komoditas, harga emas kembali naik ke kisaran USD4.174 per ons seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga.
Sementara itu, harga minyak relatif stabil dengan Brent di kisaran USD71,94 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar USD68,78 per barel, didukung membaiknya arus kapal tanker melalui Selat Hormuz serta sinyal peningkatan pasokan dari OPEC.
Memasuki perdagangan pekan ini, Hari mengatakan pasar global akan mencermati sejumlah agenda penting, antara lain rilis final S&P Global Services PMI, data neraca perdagangan Amerika Serikat, risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu, data jobless claims, hingga dimulainya musim laporan keuangan emiten seperti PepsiCo.
Pandangan Teknikal MNC Sekuritas dan Rekomendasi Saham
Senada dengan pendekatan hati-hati tersebut, Head of Retail Research MNC Sekuritas, T. Herditya Wicaksana, dalam laporan Daily Scope Wave tertanggal 6 Juli 2026, memproyeksikan IHSG masih rawan terkoreksi.
Dalam skenario best case, posisi IHSG diperkirakan masih berada pada bagian dari wave (b) dari wave [iv], sehingga ada potensi uji support di rentang 5.472-5.540.
Kendati demikian, Herditya meminta investor mencermati skenario alternatif di mana IHSG saat ini sedang membentuk bagian awal dari wave [v] dari wave 3. Berdasarkan analisis tersebut, MNC Sekuritas menetapkan area support di level 5.486 dan 5.317, serta resistance di level 6.007 dan 6.286.
MNC Sekuritas menyarankan strategi Buy on Weakness untuk sejumlah saham pilihan (Top Picks of the Day) berikut:
- AVIA: Rekomendasi Buy on Weakness pada harga 320. Saham ini diperkirakan berada pada bagian dari wave (3) dari wave [C].
- JPFA: Rekomendasi Buy on Weakness pada harga 2.030. Posisi saat ini dinilai berada pada bagian dari wave 4 dari wave (C).
- MLPL: Rekomendasi Buy on Weakness pada harga 82. Saham ini diperkirakan berada pada bagian awal dari wave 1 dari wave (1).
- PSAB: Rekomendasi Buy on Weakness pada harga 408. Saham ini dinilai berada pada bagian awal dari wave [iv] dari wave C.(*)