KABARBURSA.COM – PT Niramas Utama Tbk (JELI) tetap melanjutkan rencana ekspansi usai resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), meski industri manufaktur tengah menghadapi tekanan.
Perseroan memilih memanfaatkan mayoritas dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO) untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat efisiensi operasional.
Direktur PT Niramas Utama Tbk, Adhi S. Lukman, mengatakan keputusan tersebut diambil karena perusahaan memandang investasi sebagai strategi jangka panjang, terlepas dari kondisi ekonomi yang berfluktuasi dalam jangka pendek.
"Kami beranggapan investasi itu jangka panjang. Meskipun jangka pendek ada gangguan, kami yakin industri makanan dan minuman masih memiliki potensi yang luar biasa," kata Adhi usai pencatatan saham perdana JELI di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Adhi, sekitar 70 persen dana IPO akan digunakan untuk belanja modal. Dari jumlah tersebut, sekitar 51 persen dialokasikan untuk investasi mesin baru guna meningkatkan kapasitas produksi, sementara sekitar 18 hingga 19 persen digunakan untuk memperkuat sistem logistik dan otomatisasi (automation).
"Sebanyak 51 persen benar-benar untuk investasi baru, sedangkan sekitar 18-19 persen untuk memperbaiki logistik dan automation supaya lebih efisien," ujarnya.
Ia menegaskan dana hasil IPO akan digunakan untuk memperkuat fundamental perusahaan melalui peningkatan kapasitas dan produktivitas. "Dana IPO ini benar-benar kami gunakan untuk meningkatkan kapasitas dan memperkuat fundamental perusahaan," katanya.
Saat ini, kapasitas produksi Niramas Utama telah mencapai hampir 2 miliar kemasan per tahun. Perseroan menargetkan kapasitas tersebut meningkat sekitar 25 hingga 26 persen sepanjang tahun ini.
Adhi menjelaskan peningkatan kapasitas yang lebih besar baru akan terealisasi setelah investasi mesin baru rampung pada akhir 2027.
"Kalau 2026 ini mungkin sekitar naik 26 persen. Investasi baru diperkirakan selesai pada akhir 2027, sehingga mulai 2028 peningkatannya akan lebih tinggi," ujarnya.
Selain meningkatkan kapasitas, perseroan juga memperluas portofolio produk, termasuk kategori gummy candy yang menjadi salah satu fokus pengembangan. Produk tersebut tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga pasar ekspor.
Menurut Adhi, peluang ekspor produk baru dinilai cukup besar sehingga diharapkan dapat meningkatkan kontribusi penjualan luar negeri. Saat ini, JELI telah mengekspor produknya ke sekitar 30 negara, meski kontribusi ekspor masih relatif kecil terhadap total penjualan.
"Kami yakin dengan produk baru nanti kontribusi ekspor akan meningkat," katanya.
Perseroan juga menargetkan penguatan pasar di sejumlah negara seperti India, Filipina, Jepang, Arab Saudi, hingga kawasan Eropa dan Amerika Latin.
Adhi menilai prospek industri makanan dan minuman masih positif, meski dihadapkan pada tantangan daya beli masyarakat dan ketidakpastian geopolitik global.
"Challenge-nya memang daya beli, kemudian kondisi geopolitik. Tapi kami yakin orang tetap membutuhkan makanan dan minuman," ujarnya.
Untuk tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan bisnis sekitar 26 persen dengan laba bersih diperkirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Target tersebut akan didorong melalui peningkatan kualitas produk, penambahan varian atau stock keeping unit (SKU), serta peluncuran sejumlah produk baru yang dijadwalkan pada September dan November 2026.
Persiapan IPO JELI
Adhi juga mengungkapkan proses IPO telah dipersiapkan sejak September tahun lalu. Meski sempat diwarnai meningkatnya ketegangan geopolitik global, perseroan memutuskan tetap melanjutkan pencatatan saham karena optimistis terhadap prospek bisnis jangka panjang.
"Kami masih yakin prospeknya bagus. Pada saat pencatatan saham perdana, IHSG juga menguat. Itu menjadi hal yang kami syukuri," kata Adhi.
Diketahui, JELI resmi melantai hari ini Dalam penawaran umum perdana saham, Niramas Utama melepas 266 juta saham baru atau setara 21,01 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Harga penawaran ditetapkan sebesar Rp900 per saham, berada di batas bawah kisaran harga penawaran awal Rp900 hingga Rp1.120 per saham.
Melalui aksi korporasi tersebut, Perseroan menghimpun dana sebesar Rp239,4 miliar sebelum dikurangi biaya emisi. Dengan total saham tercatat sebanyak 1,266 miliar lembar, kapitalisasi pasar Niramas Utama saat pencatatan mencapai Rp1,1394 triliun.
Minat investor terhadap IPO JELI terbilang tinggi. Hal itu tercermin dari kelebihan permintaan (oversubscription) pada porsi penjatahan terpusat (pooling) yang mencapai 273,37 kali dengan jumlah pemesan sebanyak 630.491 investor.
Bagaimana Performa Saham JELI?
Hingga pukul 11.58 WIB, saham emiten sektor makanan dan minuman ini menguat 25 persen atau bertambah 225 poin ke posisi Rp1.125 per saham. Kenaikan tersebut sekaligus membawa JELI menyentuh batas Auto Rejection Atas (ARA).
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan tingginya minat investor terhadap saham perdana perseroan. Sepanjang sesi perdagangan, harga pembukaan, posisi tertinggi, hingga harga terakhir sama-sama berada di level Rp1.125 per saham.
Volume transaksi tercatat mencapai 384.900 saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp433 juta. Di sisi lain, antrean beli (bid) masih mendominasi hingga 2,79 juta lot, sementara tidak terlihat tekanan jual yang berarti.
Dari sisi valuasi, JELI memiliki kapitalisasi pasar sekitar Rp1,42 triliun dengan jumlah saham beredar sebanyak 1,27 miliar saham. Berdasarkan data perdagangan, saham ini diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) annualised sebesar 36,50 kali, sedangkan price to book value (PBV) berada di kisaran 9,84 kali.
Kinerja fundamental perseroan juga menunjukkan tren yang membaik. PT Niramas Utama Tbk membukukan laba bersih Rp39 miliar pada 2025, meningkat dibandingkan Rp13 miliar pada 2024 dan Rp2 miliar pada 2023.
Dari sisi profitabilitas, perseroan mencatat gross profit margin sebesar 38,61 persen, operating profit margin 8,79 persen, serta net profit margin 5,18 persen. Capaian tersebut mencerminkan peningkatan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba seiring perkembangan usahanya. (*)