KABARBRUSA.COM – Investor asing mencatatkan aksi beli bersih (net foreign buy) tipis Rp54,47 miliar di pasar saham domestik pada penutupan sesi pertama, Rabu, 15 Juli 2026. Data pergerakan modal tengah hari memperlihatkan volume perdagangan dari pelaku pasar internasional cenderung berimbang. Nilai pembelian portofolio asing mencapai Rp1,78 triliun, sementara angka penjualan global membukukan jumlah Rp1,73 triliun.
Seluruh kalkulasi transaksi ini menggunakan basis harga rata-rata perdagangan pada paruh pertama hari ini. Peta pergerakan modal asing memperlihatkan konsentrasi akumulasi yang cukup terfokus pada saham sektor perbankan dan pertambangan. Pelaku pasar modal terlihat menyikapi dinamika pergerakan indeks dengan kalkulasi yang prudent dan hati-hati.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menempati posisi teratas saham pilihan yang paling banyak diburu oleh modal global. Nilai beli bersih investor luar negeri untuk saham perbankan berkapitalisasi besar ini menyentuh Rp149,98 miliar. Volume perdagangan saham bersandi BMRI tersebut dilaporkan mencapai angka 35,49 juta lembar saham.
Menempel ketat di urutan kedua, saham perusahaan tambang logam milik negara PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi target perburuan berikutnya. Angka akumulasi bersih asing untuk entitas bisnis komoditas ini bertengger pada level Rp130,96 miliar. Volume transaksi untuk saham ANTM sendiri tercatat sangat tinggi mencapai kuantitas 43,31 juta lembar saham.
Sektor perbankan kembali mengukuhkan dominasi pada peringkat ketiga melalui PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk dengan kode saham BBRI. Investor asing membukukan catatan transaksi beli bersih sebesar Rp72,53 miliar untuk kepemilikan saham bank tersebut. Kuantitas perdagangan untuk emiten spesialis kredit mikro ini ditutup pada volume 25,51 juta lembar saham.
Posisi keempat dalam jajaran saham buruan ditempati oleh perusahaan petrokimia papan atas PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Nilai transaksi beli bersih asing untuk saham TPIA tercatat sebesar Rp48,38 miliar hingga jeda siang perdagangan. Kuantitas perdagangan saham emiten industri dasar ini menyentuh volume 25,10 juta lembar saham.
Melengkapi susunan lima saham teratas yang paling banyak diakumulasi, PT RANS Entertainment Tbk (RANS) berada di urutan kelima. Nilai beli bersih pemodal internasional untuk saham berkode pasar RANS ini ditutup pada angka Rp17,84 miliar. Menariknya, RANS justru memimpin dari aspek kuantitas transaksi dengan volume mencapai 75,94 juta lembar saham.
Saham di Luar Lima Besar hingga Sesi I
Di luar kelompok lima besar, bursa merilis belasan emiten potensial lain yang ikut mengantongi aliran modal masuk. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan nilai beli bersih asing sebesar Rp11,10 miliar melalui volume 1,31 juta lembar saham. Selanjutnya, saham properti PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) meraih dana asing senilai Rp8,62 miliar.
Emiten sektor energi PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menyusul dengan perolehan akumulasi bersih asing sebesar Rp7,59 miliar. Saham farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) juga dibeli asing dengan catatan nilai Rp6,32 miliar. Sementara itu, dua emiten pertambangan, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) serta PT Petrosea Tbk (PTRO), masing-masing membukukan nilai Rp5,82 miliar dan Rp5,28 miliar.
Kelompok saham terbawah yang melengkapi daftar transaksi beli bersih asing memiliki nilai akumulasi di bawah Rp5,20 miliar. PT Bukit Darmo Property Tbk (BUVA) mencatatkan nilai Rp5,09 miliar, diikuti PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) sebesar Rp4,99 miliar. Saham konsumsi PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) meraih Rp4,59 miliar, dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat Rp3,91 miliar.
Tiga entitas bisnis penutup daftar akumulasi diduduki MMIX senilai Rp3,28 miliar, BBTN sebesar Rp3,21 miliar, dan MARK sebesar Rp2,88 miliar. Masuknya modal ke berbagai sektor ini mengindikasikan adanya diversifikasi portofolio mini yang dilakukan oleh pemodal luar negeri. Dua peringkat terbawah sisa diisi oleh ADRO senilai Rp2,72 miliar serta MBMA sebesar Rp2,45 miliar.
Sebaliknya, peta pelepas aset terbesar (top net foreign sell) dipimpin oleh perusahaan telekomunikasi milik negara, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM). Aksi jual bersih asing untuk saham TLKM menyentuh angka minus Rp68,44 miliar pada penutupan perdagangan sesi satu. Kuantitas pelepasan portofolio saham TLKM tersebut dilaporkan mencapai volume sebesar 27,09 juta lembar saham.
Posisi kedua saham yang paling banyak dilepas pihak asing ditempati oleh emiten mineral PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Nilai penjualan bersih asing pada saham komoditas tambang ini berada pada tingkat minus Rp54,71 miliar. Kuantitas volume transaksi keluar untuk saham BRMS terhitung tinggi karena menyentuh posisi 95,24 juta lembar saham.
Tekanan jual dari pemodal global berlanjut pada saham induk usaha komoditas energi fosil, PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Saham BUMI mencatatkan nilai transaksi penjualan bersih oleh asing sebesar minus Rp37,62 miliar. Walau nilai nominalnya berada di bawah TLKM and BRMS, saham BUMI mencatatkan volume pelepasan terbesar mencapai 250,72 juta lembar saham.
Koreksi portofolio sektor energi fosil juga menyeret saham anak perusahaan lainnya, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Nilai penjualan bersih asing pada saham ENRG ditutup pada posisi minus Rp32,73Presiden miliar dengan volume 23,29 juta lembar saham. Perusahaan retail emas PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS) ikut mencatatkan arus keluar senilai minus Rp28,26 miliar.
Pelepasan aset digital dan infrastruktur internet menimpa saham INET senilai minus Rp19,56 miliar dan WIFI senilai minus Rp14,38 miliar. Emiten transportasi logistik PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BIPI) juga mencatatkan arus modal keluar asing minus Rp15,10 miliar. Tiga saham tambang papan atas yakni MDKA, BULL, dan INCO masing-masing mencatatkan net sell minus Rp13,35 miliar, minus Rp12,44 miliar, dan minus Rp11,24 miliar.
Siapa Saja Aktor Utama Perdagangan Sesi I?
Sementara itu, bursa memetakan pergerakan para aktor utama perdagangan melalui daftar aktivitas perusahaan perantara efek (top broker). Stockbit Sekuritas Digital dengan kode broker XL memimpin transaksi pasar dengan total nilai perdagangan Rp1,82 triliun. Mandiri Sekuritas yang beroperasi dengan kode broker CC menyusul di urutan kedua lewat nilai transaksi total Rp1,41 triliun.
Aktor institusi asing UBS Sekuritas Indonesia (AK) menempati peringkat ketiga dengan raihan total nilai transaksi sebesar Rp1,22 triliun. Broker retail PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia (YP) berada pada urutan keempat dengan nilai aktivitas perdagangan Rp677,9 miliar. Posisi kelima diisi oleh Maybank Sekuritas Indonesia (ZP) dengan total nilai transaksi Rp659,3 miliar hingga jeda siang.(*)