KABARBURSA.COM - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) mengumumkan transaksi afiliasi berupa penyewaan aset kepada entitas anak langsung yakni PT Tri Adi Bersama (TAB).
Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), aset yang disewakan ASSA kepada TAB berupa tanah seluas 369 meter persegi dan bangunan seluas 135 meter persegi.
Corporate Secretary ASSA, Jerry Fandy Tunjungan mengatakan kedua belah pihak sepakat nilai transaksi sewa-menyewa ini berada di angka Rp100 juta.
"Biaya sewa ini sudah termasuk Pajak Penghasilan (PPh) dan belum termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN)," ujar dia.
Jerry mengatakan aksi penyewaan ini bertujuan guna mengoptimalkan aset yang dimiliki ASSA karena tanah dan bangunan Perseroan belum digunakan secara maksimal.
"Sedangkan TАВ membutuhkan lahan tersebut untuk menyelenggarakan kegiatan usahanya," tuturnya.
Jerry menyampaikan biaya sewa yang dikenakan kepada TAB adalah sebesar biaya sewa yang ada di pasaran.
Dengan disewakannya sebagian lahan yang tidak digunakan seluruhnya oleh Perseroan, kata dia, diharapkan TAB dapat memperluas jaringan usahanya dan memberikan manfaat finansial kepada Perseroan berupa pembayaran biaya sewa.
Sebagai informasi, TАВ merupakan entitas anak langsung dari ASSA yang dimiliki melalui kepemilikan saham sebesar 49,5 persen.
Kinerja Kuartal I 2026
Sebelumnya diberitakan, ASSA melaporkan kinerja keuangan kuartal pertama 2026 dengan pertumbuhan pendapatan di tengah peningkatan beban operasional seiring langkah investasi jangka panjang yang dilakukan perseroan.
ASSA mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,54 triliun pada kuartal I 2026, meningkat sekitar 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,39 triliun.
Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi dari pilar bisnis logistik serta kinerja yang relatif stabil dari lini rental korporasi dan ekosistem kendaraan bekas.
Direktur Utama PT Adi Sarana Armada Tbk, Prodjo Sunarjanto, menyampaikan bahwa penguatan beberapa lini bisnis menjadi faktor utama pertumbuhan pendapatan.
"Penguatan pilar bisnis logistik serta performa stabil di lini rental korporasi dan penjualan kendaraan bekas menjadi penggerak utama pertumbuhan pendapatan Perseroan periode ini," ujar dalam pernyataan tertulis dikutip Rabu, 29 April 2026.
Di sisi lain, kenaikan pendapatan tersebut diikuti oleh peningkatan beban biaya operasional. Beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp1,08 triliun, naik dari Rp967,21 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp225,05 miliar dari Rp182,45 miliar.
Seiring dengan kondisi tersebut, laba tahun berjalan tercatat sebesar Rp141,45 miliar, sedikit lebih rendah dibandingkan Rp143,76 miliar pada kuartal I 2025.
Perseroan menyatakan bahwa peningkatan biaya tersebut berkaitan dengan investasi infrastruktur jangka panjang, termasuk pengembangan proyek baru untuk mendukung keberlanjutan bisnis. Langkah ini mencakup penambahan kapasitas gudang, digitalisasi sistem pengiriman, serta penambahan sumber daya manusia untuk melayani klien bisnis.
Dalam menghadapi dinamika geopolitik global, ASSA mengambil pendekatan ekspansi yang lebih terukur dengan fokus pada efisiensi, peningkatan kapasitas, dan kualitas layanan. "Sekarang ini kami akan lebih fokus pada upaya untuk memenuhi permintaan yang ada sambil terus menata infrastruktur agar makin baik dan bisa tumbuh secara sehat di 2026," ujar Prodjo.
Pada lini logistik, perseroan memprioritaskan integrasi layanan end-to-end bagi klien B2B guna meningkatkan efisiensi operasional dalam jangka panjang. Sementara itu, pada pilar bisnis rental melalui ASSA Rent serta ekosistem kendaraan bekas seperti Caroline.id, JBA, dan MotoGadai, perusahaan berfokus pada penguatan sinergi antar lini bisnis.
ASSA Umumkan Tambah Kegiatan Usaha
Beberapa waktu lalu, ASSA mengumumkan akan menambah kegiatan usaha di tengah industri transportasi dan logistik yang terus mengalami perkembangan.
Prodjo mengatakan jika perseroan merencanakan pengembangan bisnis Transportation Management System (TMS) Integrated Solution.
"Yaitu suatu solusi berbasis teknologi yang dirancang untuk mengintegrasikan proses perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan penyelesaian administrasi transportasi dalam satu sistem terpadu," ujar Prodjo dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Senin, 11 Mei 2026.
Dalam implementasinya, layanan TMS tersebut didukung oleh Business Process Outsourcing (BPO) yang menunjukkan keterlibatan Perseroan secara langsung dalam menjalankan operasional harian pelanggan.
Layanan BPO mencakup aktivitas input order, pengaturan dan penugasan pengiriman (dispatching), pemantauan proses pengiriman, tindak lanjut operasional, hingga proses penagihan dan penyelesaian administrasi (billing dan settlement).
"Seluruh aktivitas BPO tersebut dijalankan melalui modul-modul yang terdapat di dalam TMS, sehingga TMS berperan sebagai sistem pengelolaan, sementara BPO berfungsi sebagai operator yang menjalankan proses operasional di dalam sistem tersebut," jelas Prodjo.
Selain itu, lanjut Prodjo, ASSA juga menyediakan layanan Control Tower sebagai pusat kendali operasional yang berfungsi untuk melakukan pemantauan pengiriman secara real-time, pengendalian tingkat layanan (Service Level Agreement - SLA) serta penanganan insiden operasional secara proaktif. (*)