KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia bergerak di zona merah pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, sementara harga minyak dunia justru melemah meski ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas lewat aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, kontrak berjangka (futures) saham Amerika Serikat masih mencatat kenaikan tipis.
Dilansir dari AP, Kamis, 16 Juli 2026, tekanan terbesar datang dari saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), yang menyeret indeks utama di Jepang dan Korea Selatan.
Di Korea Selatan, indeks Kospi anjlok 6,6 persen ke level 6.816,70 setelah Bank of Korea memutuskan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2023. Kebijakan tersebut ditempuh guna meredam tekanan inflasi yang dipicu konflik Iran.
Saham produsen cip memori SK Hynix merosot 11,2 persen, sedangkan Samsung Electronics terkoreksi 8,2 persen.
Di Taiwan, indeks Taiex turun 0,3 persen menjelang rilis laporan keuangan Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. (TSMC). Kinerja perusahaan tersebut kerap dijadikan acuan untuk membaca arah industri semikonduktor global sekaligus perkembangan bisnis kecerdasan buatan.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 melemah 2,9 persen ke level 66.767,64. Saham produsen cip memori Kioxia ambles 13,5 persen. Sementara itu, Tokyo Electron yang bergerak di bidang peralatan manufaktur semikonduktor turun 5,2 persen dan Advantest, produsen peralatan pengujian cip, terkoreksi 5,6 persen.
SoftBank Group juga ikut tertekan dengan penurunan saham sebesar 6,4 persen.
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat 1,7 persen ke level 25.111,22. Penguatan itu ditopang lonjakan saham Alibaba yang naik 4,4 persen setelah regulator dunia maya China mengumumkan telah menyetujui penggunaan fitur Apple Intelligence di negara tersebut.
Juru bicara Alibaba menyatakan model kecerdasan buatan Qwen milik perusahaan akan diintegrasikan ke dalam Apple Intelligence.
Sementara itu, indeks Shanghai Composite turun 0,9 persen ke level 3.921,20. Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,2 persen ke level 8.820,50, sedangkan indeks Sensex India masih mampu menguat 0,3 persen.
Di pasar energi, harga minyak dunia bergerak melemah meski masih berada pada level tinggi. Kondisi itu terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang menyasar Kuwait serta Bahrain.
Minyak mentah Brent turun 0,4 persen menjadi USD84,55 per barel atau sekitar Rp1,51 juta per barel. Sebelum perang pecah pada akhir Februari, harga Brent masih berada di kisaran USD72 per barel atau sekitar Rp1,29 juta per barel.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat turun 0,2 persen menjadi USD79,34 per barel atau sekitar Rp1,42 juta per barel.
Analis komoditas ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai kenaikan harga minyak masih bertahan karena belum ada tanda-tanda meredanya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
“Harga minyak berhasil mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut karena belum terlihat tanda-tanda meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran,” tulis Patterson dan Manthey dalam laporan riset yang dirilis Kamis.
Mereka juga menyebut meningkatnya ketegangan kedua negara mulai mengganggu arus pelayaran kapal tanker dari Teluk Persia.
“Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan dampak yang nyata terhadap arus pelayaran kapal dari Teluk Persia, sementara lalu lintas tanker yang melintasi Selat Hormuz, jalur penting pengangkutan minyak dunia, masih berada dalam tekanan,” tulis mereka.
Sementara itu, perdagangan di Wall Street pada Rabu ditutup menguat. Indeks S&P 500 naik 0,4 persen ke level 7.572,40. Dow Jones Industrial Average bertambah 0,3 persen menjadi 52.658,64, sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi naik 0,6 persen ke level 26.269,23.
Saham SpaceX milik Elon Musk sempat turun di bawah harga penawaran umum perdana (IPO) sebelum memangkas sebagian kerugiannya.
Sentimen positif juga datang dari data ekonomi Amerika Serikat serta laporan keuangan sejumlah perusahaan besar. BlackRock menjadi salah satu pendorong utama setelah membukukan pendapatan dan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar. Saham perusahaan investasi tersebut melonjak 6,6 persen.
Di pasar valuta asing, dolar Amerika Serikat melemah tipis menjadi 162,09 yen Jepang dari sebelumnya 162,19 yen. Sementara itu, euro diperdagangkan di level USD1,1467 atau sekitar Rp20.526, turun tipis dari posisi sebelumnya USD1,1464 atau sekitar Rp20.521.