Market Watch

13 Jul 2026

BKDP 137 +33,01%
TAMA 197 +27,10%
ATAP 555 +24,44%
VKTR 645 +24,04%
LAND 78 +23,81%
SMLE 128 +18,52%
RODA 68 +15,25%
BIPP 72 +14,29%
AGII 3.230 +11,38%
KICI 202 +10,99%
SAGE 33 +10,00%
KKES 67 +9,84%
GPSO 310 +9,15%
NANO 24 +9,09%
TAXI 13 +8,33%
TOOL 70 +7,69%
TNCA 145 +7,41%
FWCT 90 +7,14%
ISEA 77 +6,94%
DOSS 139 +6,92%
SKRN 402 +6,91%
BAPI 16 +6,67%
MPOW 97 +6,59%
IKAN 83 +6,41%
BKDP 137 +33,01%
TAMA 197 +27,10%
ATAP 555 +24,44%
VKTR 645 +24,04%
LAND 78 +23,81%
SMLE 128 +18,52%
RODA 68 +15,25%
BIPP 72 +14,29%
AGII 3.230 +11,38%
KICI 202 +10,99%
SAGE 33 +10,00%
KKES 67 +9,84%
GPSO 310 +9,15%
NANO 24 +9,09%
TAXI 13 +8,33%
TOOL 70 +7,69%
TNCA 145 +7,41%
FWCT 90 +7,14%
ISEA 77 +6,94%
DOSS 139 +6,92%
SKRN 402 +6,91%
BAPI 16 +6,67%
MPOW 97 +6,59%
IKAN 83 +6,41%
Market Hari Ini 13 Jul 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Syahrianto

Prediksi IHSG Pekan ini, Waspadai Geopolitik Timur Tengah dan Data AS

Indo Premier Sekuritas menyarankan investor mencermati strategi buy on pullback pada saham-saham berikut.

Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penantian pasar terhadap data inflasi CPI Amerik

PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen pendapatan tetap untuk dicermati investor pada perdagangan 13–17 Juli 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS). (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen pendapatan tetap untuk dicermati investor pada perdagangan 13–17 Juli 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS). (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

Daftar Isi

  1. 01 Daftar Saham Buy on Pullback

KABARBURSA.COM – PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen pendapatan tetap untuk dicermati investor pada perdagangan 13–17 Juli 2026 di tengah meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penantian pasar terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS).

Equity Analyst IPOT, David Kurniawan, mengatakan fokus investor pada pekan ini akan tertuju pada rilis data Consumer Price Index (CPI) AS periode Juni yang dijadwalkan pada Selasa. Data tersebut dinilai menjadi indikator penting dalam mengukur arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Selain itu, pelaku pasar juga akan mencermati pidato para pejabat The Fed serta rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura. Sementara dari dalam negeri, pergerakan rupiah dan pasar saham diperkirakan masih dibayangi dinamika konflik di Timur Tengah.

"Menghadapi tingginya ketidakpastian geopolitik ini, para investor global cenderung mengambil sikap risk-off dan bersikap jauh lebih konservatif dalam mengelola portofolio mereka. Mereka berbondong-bondong menarik modal dari instrumen berisiko tinggi seperti pasar saham dan aset kripto untuk mengamankan likuiditas," ujar David dalam risetnya, Senin, 13 Juli 2026.

Sebelum memasuki perdagangan pekan ini, IHSG menutup perdagangan Jumat, 10 Juli 2026 di level 6.177 atau menguat 2,82 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Di balik penguatan tersebut, investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp4,5 triliun di pasar reguler.

Pelaku pasar juga akan memperhatikan pidato sejumlah pejabat bank sentral AS serta rilis data pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Singapura.

Sementara dari dalam negeri, David menilai kondisi fiskal Indonesia masih berada dalam level yang terjaga. Pemerintah melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada semester I 2026 mencapai Rp196,5 triliun atau setara 0,76 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Secara regulasi, angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimal defisit APBN sebesar 3 persen.

Meski demikian, ia mengingatkan laju belanja negara yang lebih cepat dibandingkan penerimaan tetap perlu menjadi perhatian.

"Kondisi tersebut menuntut pemerintah untuk mengelola pembiayaan negara dengan jauh lebih ketat dan selektif di paruh kedua tahun ini. Langkah ini penting guna meminimalisir risiko penambahan utang baru yang tidak efisien, sekaligus memastikan stabilitas makroekonomi domestik tetap kokoh di tengah gejolak global," katanya.

Merespons kondisi tersebut, David mengimbau investor untuk tetap selektif dalam memilih saham, terutama pada sektor yang berpotensi diuntungkan oleh penguatan komoditas safe haven, serta tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin.

David menambahkan, sepanjang pekan ini pergerakan rupiah dan pasar saham domestik masih berpotensi dibayangi dinamika konflik di Timur Tengah. Oleh karena itu, investor perlu mencermati perkembangan sentimen global dan domestik tersebut dalam menyusun strategi investasi.

Daftar Saham Buy on Pullback

Untuk pekan ini, IPOT merekomendasikan strategi buy on pullback pada saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO). Saham tersebut diperdagangkan di level Rp1.005 dengan area masuk di Rp975, target harga Rp1.070 atau berpotensi naik 9,74 persen, serta batas kerugian (stop loss) di Rp945.

David menjelaskan, PGEO menunjukkan sinyal teknikal positif setelah berhasil keluar dari tren penurunan (downtrend channel), yang mengindikasikan potensi pembalikan arah menuju tren naik. Sinyal tersebut diperkuat oleh data Trade Flow AI Analytics yang mencatat adanya akumulasi smart money dalam sepekan terakhir.

Selain PGEO, IPOT juga merekomendasikan buy pada saham PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Saham ini diperdagangkan di level Rp1.295 dengan target harga Rp1.400 atau berpotensi menguat 8,11 persen dan stop loss di Rp1.255.

Menurut David, LSIP memiliki peluang keluar dari pola flag pattern yang tengah terbentuk. Potensi tersebut didukung indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) yang mulai menunjukkan sinyal bullish sehingga mengindikasikan momentum akumulasi beli kembali menguat.

Rekomendasi berikutnya adalah buy on pullback pada saham PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). Saham tersebut diperdagangkan di level Rp845 dengan area masuk Rp820–Rp830, target harga Rp900 atau berpotensi naik 9,76 persen, serta stop loss di Rp795.

David menilai BUVA saat ini bergerak konsolidatif di antara indikator Moving Average (MA) 5 dan MA20. Meski demikian, data perdagangan menunjukkan adanya akumulasi smart money secara konsisten dalam sepekan terakhir yang membuka peluang penguatan lanjutan.

Selain saham, IPOT juga merekomendasikan obligasi syariah seri PBS038 bagi investor yang mencari instrumen pendapatan tetap. Obligasi tersebut menawarkan kupon sebesar 6,87 persen per tahun dengan potensi yield mencapai 7,2 persen di tengah kondisi pasar yang masih dibayangi ketidakpastian global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait