Market Watch

09 Jul 2026

MMIX 770 +21,26%
JAST 93 +20,78%
SOCI 350 +14,38%
DEWA 340 +14,09%
LEAD 102 +9,68%
ENRG 1.270 +8,09%
ALII 740 +8,03%
VKTR 540 +8,00%
PJHB 167 +7,74%
YELO 74 +7,25%
POLA 61 +7,02%
WOWS 61 +7,02%
ELPI 1.110 +6,73%
LMAX 99 +6,45%
SOFA 236 +6,31%
PGLI 204 +6,25%
PPRO 17 +6,25%
RUIS 206 +6,19%
STAR 316 +6,04%
APEX 143 +5,93%
BUMI 144 +5,88%
MDIA 72 +5,88%
HADE 18 +5,88%
WMPP 18 +5,88%
MMIX 770 +21,26%
JAST 93 +20,78%
SOCI 350 +14,38%
DEWA 340 +14,09%
LEAD 102 +9,68%
ENRG 1.270 +8,09%
ALII 740 +8,03%
VKTR 540 +8,00%
PJHB 167 +7,74%
YELO 74 +7,25%
POLA 61 +7,02%
WOWS 61 +7,02%
ELPI 1.110 +6,73%
LMAX 99 +6,45%
SOFA 236 +6,31%
PGLI 204 +6,25%
PPRO 17 +6,25%
RUIS 206 +6,19%
STAR 316 +6,04%
APEX 143 +5,93%
BUMI 144 +5,88%
MDIA 72 +5,88%
HADE 18 +5,88%
WMPP 18 +5,88%
Market Hari Ini 09 Jul 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Hutama Prayoga

Resmi Melantai di BEI, Bos PRDL Sebut Peluang Bisnis Faskes Primer Sangat Besar

Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, mengatakan perseroan memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis

PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi IPO di BEI dan sahamnya langsung melonjak 32 persen.

PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia. (Foto: Dok. Kabarbursa.com/Desty)
PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia. (Foto: Dok. Kabarbursa.com/Desty)

Daftar Isi

  1. 01 Valuasi Cukup Murah
  2. 02 Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan
  3. 03 Layak Dipertimbangkan?

KABARBURSA.COM – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) resmi mencatatkan saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis, 9 Juli 2026 dengan kode saham PRDL. Perseroan menawarkan sebanyak 522,9 juta saham baru atau setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO dengan harga Rp120 per saham pasca pencatatan saham PRDL langsung naik 32 persen atau 42 poin ke 162 per lembarnya.

Melalui aksi korporasi tersebut, PRDL menghimpun dana sebesar Rp62,75 miliar dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp209,15 miliar. Sebanyak 1,74 miliar saham perseroan tercatat di BEI dengan kode saham PRDL dan masuk dalam Papan Pengembangan.

Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, mengatakan perseroan memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, serta memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.

"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan kualitas produk kami yang unggul, kapasitas produksi yang besar, jaringan distribusi yang luas serta nilai TKDN produk kami yang tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan pelayanan kesehatan nasional," ujar Cristina di Main Hall BEI, Jakarta pada Kamis, 9 Juli 2026.

PRDL merupakan bagian dari Prodia Group yang bergerak di bidang produksi dan perakitan alat kesehatan diagnostik in vitro. Perseroan menyediakan berbagai produk diagnostik, mulai dari kimia klinik, hematologi, imunologi, diagnostik molekuler, hingga point-of-care testing (POCT), serta didukung layanan purna jual berupa instalasi, pemeliharaan, dan kalibrasi instrumen.

Didirikan pada 16 April 2010, perseroan telah memproduksi reagen kimia sejak Agustus 2012. Hingga saat ini, PRDL memiliki lebih dari 1.083 stock keeping unit (SKU) aktif yang dipasarkan di 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota. Produk perseroan telah digunakan oleh lebih dari 7.600 pelanggan, termasuk sekitar 7.000 puskesmas, 300 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten/kota, serta berbagai institusi kesehatan lainnya.

Perseroan juga menyatakan lini produk utamanya memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70 persen, seiring upaya pemerintah meningkatkan penggunaan produk alat kesehatan dalam negeri.

Dari sisi industri, PRDL menilai prospek sektor alat kesehatan masih terbuka lebar. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan sebesar Rp244 triliun pada 2026 serta menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau 140 juta penduduk. Didukung lebih dari 10.000 puskesmas di Indonesia dan meningkatnya fokus terhadap deteksi dini penyakit, kebutuhan terhadap produk diagnostik diperkirakan terus meningkat.

Menjelang pencatatan saham, perseroan juga mencatatkan perbaikan kinerja keuangan. Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit, pendapatan PRDL sepanjang 2025 mencapai Rp74,37 miliar atau meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, laba bersih naik 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar, sedangkan EBITDA meningkat 66,9 persen menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan peningkatan profitabilitas dan efisiensi operasional.

Mengacu pada laporan keuangan 2025, harga penawaran Rp120 per saham mencerminkan price to earnings ratio (PER) sebesar 8,61 kali.

Valuasi Cukup Murah

Diberitakan sebelumnya, dengan laba bersih 2025 sebesar Rp16,9 miliar dan jumlah saham pasca IPO sebanyak 1,742 miliar lembar, laba per saham (EPS) diperkirakan mencapai Rp9,70. Jika menggunakan harga IPO Rp100, maka PER berada di kisaran 10,31 kali.

Jika menggunakan harga Rp120, maka PER meningkat menjadi sekitar 12,38 kali. Sementara itu, PBV berada pada kisaran 1,29 kali hingga 1,44 kali. Untuk sektor healthcare dan alat laboratorium, valuasi tersebut dapat dikatakan cukup konservatif.

Banyak emiten rumah sakit dan laboratorium di Bursa Efek Indonesia diperdagangkan dengan PER di atas 20 kali bahkan 30 kali karena karakter bisnis kesehatan yang defensif dan memiliki pertumbuhan jangka panjang.

Dengan demikian, PRDL masuk ke pasar dengan valuasi yang relatif lebih murah dibanding rata-rata sektor.


Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan

Meskipun valuasi terlihat menarik, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko.

Pertama adalah ketergantungan terhadap belanja pemerintah di sektor kesehatan. Program Cek Kesehatan Gratis yang didukung anggaran kesehatan sekitar Rp244 triliun memang menjadi katalis positif, tetapi perubahan kebijakan atau perlambatan realisasi APBN dapat memengaruhi permintaan alat diagnostik.

Kedua adalah ukuran emisi IPO yang relatif kecil.

Dengan nilai emisi hanya sekitar Rp62 miliar, saham PRDL berpotensi memiliki likuiditas yang terbatas setelah tercatat di Bursa Efek Indonesia. Kondisi tersebut dapat membuat harga saham bergerak sangat volatil baik ketika naik maupun turun.

Layak Dipertimbangkan?

Perusahaan datang dengan pertumbuhan laba hampir 70 persen, posisi strategis dalam ekosistem Prodia Group, serta peluang memperoleh manfaat dari meningkatnya kebutuhan alat kesehatan nasional.

Dari sisi valuasi, PER 10,31–12,38 kali dan PBV 1,29–1,44 kali juga masih berada pada kisaran yang relatif murah untuk sektor healthcare.

Namun investor perlu memahami bahwa mayoritas dana IPO digunakan untuk memperbaiki struktur permodalan sehingga katalis pertumbuhan jangka pendek kemungkinan tidak akan seagresif perusahaan yang menggunakan seluruh dana untuk ekspansi.

Bagi investor jangka menengah hingga panjang yang mencari emiten healthcare dengan valuasi konservatif dan fundamental yang sedang bertumbuh, PRDL layak masuk daftar pantauan. Sementara bagi investor yang mengejar lonjakan harga cepat pasca IPO, faktor likuiditas dan ukuran emisi yang relatif kecil tetap menjadi risiko yang harus diperhitungkan sebelum mengambil keputusan investasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait