KABARBURSA.COM – PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) telah menyiapkan strategi taktis untuk memitigasi dampak negatif dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap biaya produksi perseroan.
Langkah antisipasi ini dinilai krusial mengingat sektor industri alat kesehatan domestik saat ini masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap beberapa komponen bahan baku impor.
Direktur Utama Prodia Diagnostic Line, Cristina Sandjaja, menjelaskan bahwa pihaknya telah memperkuat ketahanan operasional perusahaan melalui pengelolaan manajemen persediaan yang ketat.
Langkah tersebut diambil guna memastikan bahwa fluktuasi nilai tukar mata uang asing tidak akan mengganggu stabilitas proses manufaktur maupun margin profitabilitas emiten yang baru melantai di bursa ini.
"Di tengah ketergantungan terhadap bahan baku impor, kami mengakui pelemahan nilai tukar rupiah tetap memberikan tekanan terhadap biaya produksi. Namun, perseroan telah menyiapkan langkah mitigasi melalui cadangan persediaan bahan baku, produk antara, hingga produk jadi selama sekitar tiga bulan," ujar Cristina usai pencatatan saham perdana perseroan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
Adanya bantalan persediaan atau buffer stock selama tiga bulan tersebut diyakini mampu meredam guncangan harga di tingkat hulu sebelum masuk ke lini perakitan. Strategi ini memberikan ruang bagi manajemen untuk melakukan penyesuaian biaya tanpa harus melakukan perubahan harga jual produk secara mendadak di pasar domestik.
Selain mengandalkan cadangan pasokan, senjata utama PRDL dalam menghadapi volatilitas kurs makroekonomi adalah tingginya tingkat lokalisasi produk.
Sebagian besar portofolio reagen kimia yang menjadi tulang punggung bisnis perusahaan saat ini sudah diproduksi secara mandiri di dalam negeri, sehingga memotong rantai pasok global yang berisiko tinggi.
"Tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) reagen kimia produksi Proline telah mencapai lebih dari 70 persen sehingga ketergantungan terhadap mata uang asing relatif tidak signifikan," jelas Cristina di hadapan media.
Dengan struktur biaya yang didominasi oleh komponen lokal, PRDL optimistis dapat mempertahankan target pertumbuhan laba bersih dan pendapatan di level dua digit pada tahun ini.
Target tersebut berkaca pada capaian performa keuangan audit sepanjang tahun lalu, di mana perseroan berhasil membukukan pertumbuhan bisnis di atas 20 persen secara tahunan.
Manajemen memandang bahwa prospek industri alat kesehatan diagnostik in vitro di Indonesia masih berada dalam tren yang sangat positif. Faktor pendorong utamanya bersumber dari peningkatan alokasi anggaran kesehatan nasional yang disiapkan pemerintah serta komitmen peningkatan fasilitas kesehatan primer.
"Prospek industri alat kesehatan diagnostik masih positif seiring meningkatnya anggaran kesehatan nasional. Karena itu, dalam beberapa tahun ke depan perseroan masih akan memprioritaskan pengembangan pasar domestik sebelum berekspansi ke luar negeri," tutur Cristina memaparkan peta jalan bisnis jangka pendek perusahaan.
Fokus pada ceruk pasar domestik ini dinilai sangat realistis mengingat serapan belanja pemerintah terhadap produk alat kesehatan bermutu tinggi terus meningkat.
Terlebih lagi, regulasi dari pemerintah saat ini mewajibkan fasilitas kesehatan untuk mengutamakan produk yang memiliki nilai TKDN tinggi, sebuah keunggulan kompetitif yang telah dimiliki oleh PRDL.
Sebagai informasi teknis operasional, PRDL resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia dengan menawarkan sebanyak 522,9 million saham baru atau setara dengan 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan.
Dari hasil penawaran umum perdana tersebut, emiten anak usaha Prodia Group ini sukses mengantongi dana segar sebesar Rp62,75 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan audit, pendapatan perseroan sepanjang tahun 2025 tercatat melesat mencapai Rp74,37 milar atau tumbuh sebesar 27 persen.
Sejalan dengan itu, torehan laba bersih perusahaan ikut terkerek naik sebesar 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar, yang mencerminkan tingkat efisiensi manajemen manufaktur yang sangat sehat menjelang pelaksanaan go public.
Seleksi Ketat Sebelum Melantai di BEI
Cristina menyampaikan, perusahaan harus mematuhi berbagai ketentuan baru, termasuk pemenuhan aturan free float sebesar 15 persen yang menjadi perhatian para investor global serta isu terkait MSCI.
"Susah sekali IPO tahun ini karena Bursa dan OJK menerapkan seleksi yang sangat ketat. Ada isu dari MSCI, kami juga harus menjaga free float dan itu sudah kami penuhi. Dinamikanya banyak, tetapi akhirnya kami berhasil IPO," ujarnya.
Meski menghadapi pengetatan regulasi dari fase awal persiapan, fundamental keuangan perusahaan menjadi modal utama dalam menarik minat pasar. Selama tiga tahun terakhir, PRDL secara konsisten membukukan laba bersih dengan tingkat net profit margin yang stabil.
Saat masa penawaran, saham anak usaha Grup Prodia ini mencatatkan tingkat pemesanan hingga 709 kali, sekaligus menempatkannya sebagai emiten dengan pesanan investor ritel terbanyak dalam sejarah pasar modal Indonesia.
Pada hari pertama perdagangan di Main Hall BEI, saham PRDL yang dibuka pada harga awal Rp120 per lembar langsung bergerak naik 35 persen atau bertambah 42 poin hingga mencapai level Rp162 per lembar. Dari aksi korporasi ini, perusahaan berhasil mengamankan dana segar senilai Rp62,75 miliar.
"Kami sangat mengapresiasi animo investor Indonesia. Menurut saya, investor ritel Indonesia masih bergairah dan mencari perusahaan yang fundamentalnya bagus. Kami senang bisa menjadi salah satu pilihan investasi mereka," tuturnya.
Manajemen menegaskan bahwa langkah go public ini tidak hanya bertujuan untuk menghimpun pendanaan dari pasar modal. Fokus utama perseroan sejak awal perancangan IPO adalah menjaga keberlanjutan bisnis jangka panjang melalui penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan prinsip Good Corporate Governance (GCG).
"Pertimbangan utama kami bukan mencari dana, tetapi sustainability. Kami ingin memiliki tata kelola perusahaan yang lebih baik, menjalankan prinsip GCG, dan membangun perusahaan yang berkelanjutan," pungkas Cristina.
Setelah resmi menyandang status sebagai perusahaan terbuka, PRDL memproyeksikan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tetap berada di level double digit. Target tersebut akan ditopang oleh rencana peluncuran sejumlah produk diagnostik baru pada semester II 2026, perluasan jaringan distribusi, serta peningkatan kualitas layanan kepada seluruh pelanggan. (*)