Market Watch

13 Jul 2026

ATAP 555 +24,44%
VKTR 635 +22,12%
LAND 73 +15,87%
BKDP 119 +15,53%
MPOW 101 +10,99%
SAGE 33 +10,00%
LMAX 123 +9,82%
CTBN 5.875 +9,81%
NANO 24 +9,09%
KREN 12 +9,09%
KKES 61 +8,93%
AGII 3.150 +8,62%
GPSO 308 +8,45%
TAMA 168 +8,39%
MORA 6.825 +8,33%
OILS 220 +7,84%
DATA 2.470 +6,93%
ALII 790 +6,76%
ASMI 16 +6,67%
RONY 1.000 +6,38%
SKRN 400 +6,38%
IKAI 17 +6,25%
PPRO 17 +6,25%
TOOL 69 +6,15%
ATAP 555 +24,44%
VKTR 635 +22,12%
LAND 73 +15,87%
BKDP 119 +15,53%
MPOW 101 +10,99%
SAGE 33 +10,00%
LMAX 123 +9,82%
CTBN 5.875 +9,81%
NANO 24 +9,09%
KREN 12 +9,09%
KKES 61 +8,93%
AGII 3.150 +8,62%
GPSO 308 +8,45%
TAMA 168 +8,39%
MORA 6.825 +8,33%
OILS 220 +7,84%
DATA 2.470 +6,93%
ALII 790 +6,76%
ASMI 16 +6,67%
RONY 1.000 +6,38%
SKRN 400 +6,38%
IKAI 17 +6,25%
PPRO 17 +6,25%
TOOL 69 +6,15%
Market Hari Ini 13 Jul 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Syahrianto

Saham LUCY Pimpin Kejatuhan Terdalam Sepekan

Emiten LUCY memimpin jajaran saham top losers dengan koreksi mingguan mencapai 39 persen disusul kejatuhan harga saham TRUS dan BAPA.

Saham LUCY pimpin daftar top losers bursa efek sepekan. Cek nilai penurunan return saham TRUS, BAPA, LFLO, hingga koreksi tahunan saham TIRA di sini.

Rekapitulasi transaksi sepekan mencatat arus keluar modal investor terkonsentrasi pada deretan saham lapis kedua yang mengalami koreksi return mingguan cukup dalam akibat aksi profit taking. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Rekapitulasi transaksi sepekan mencatat arus keluar modal investor terkonsentrasi pada deretan saham lapis kedua yang mengalami koreksi return mingguan cukup dalam akibat aksi profit taking. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk dengan kode emiten LUCY memimpin jajaran saham paling anjlok (top losers) di Bursa Efek Indonesia (BEI) setelah mencatatkan penurunan harga mingguan terdalam sebesar 39,58 persen pada periode perdagangan 6 hingga 10 Juli 2026. 

Penurunan tajam sepanjang pekan kemarin otomatis membuat saham LUCY menjadi pusat perhatian para pelaku pasar modal yang mengoleksi aset lapis kedua. Koreksi ini langsung memperburuk catatan performa jangka panjang korporasi pengelola bisnis hiburan tersebut. 

Data perdagangan mencatat kinerja tahun berjalan (year to date) dari saham LUCY kini ikut terseret ke area negatif di level minus 18,49 persen. Meskipun diterpa tekanan jual yang cukup hebat, nilai kapitalisasi pasar perusahaan tercatat masih bertahan di angka 654,38 miliar.

Peringkat kedua dalam daftar saham pembawa rugi ini ditempati oleh PT Trust Finance Indonesia Tbk (TRUS). Saham pembiayaan berkode TRUS ini terpaksa mendarat di zona merah setelah membukukan penurunan harga mingguan sebesar 26,67 persen. Koreksi beruntun tersebut memaksa posisi harga penutupan saham TRUS parkir di level 440,00 per lembar saham. 

Penurunan tajam dalam waktu singkat ini ikut menekan rapor performa tahun berjalan emiten ke posisi minus 3,51 persen dengan kapitalisasi pasar tersisa 352,00 miliar.

Fenomena menarik justru ditunjukkan oleh pergerakan saham PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA) yang bertengger di posisi ketiga. Saham properti berkode BAPA ini menderita kerugian mingguan yang cukup telak setelah ambles sebesar 25,40 persen hingga mendarat di harga 282,00 per lembar saham. 

Tekanan jual yang menerpa saham perumahan ini murni disebabkan oleh aksi realisasi keuntungan jangka pendek oleh para trader harian. Kapitalisasi pasar emiten berkode BAPA ini tercatat berada di level 186,62 miliar setelah melewati volatilitas tinggi.

Meskipun tertekan cukup dalam sepanjang pekan berjalan, performa jangka panjang dari saham BAPA sejatinya masih sangat kokoh di atas angin. Data historis pasar modal menunjukkan rapor pertumbuhan tahun berjalan untuk emiten ini masih meroket sangat impresif di level 203,23 persen. 

Sektor industri mebel dan perlengkapan rumah tangga ikut menyumbang rapor merah lewat pergerakan PT Imago Mulia Persada Tbk (LFLO). Saham LFLO mengamankan posisi keempat dalam jajaran emiten pembawa rugi setelah mencatatkan penurunan mingguan sebesar 20,00 persen. Kejatuhan harga yang cukup konsisten tersebut membawa nilai pasar saham LFLO mendarat tepat pada level psikologis 500,00 per lembar saham. Penurunan ini memperlebar rapor merah tahun berjalan emiten ke angka minus 26,47 persen dengan nilai kapitalisasi pasar yang bertahan sebesar 653,87 miliar.

Selanjutnya, tekanan jual juga menghantam kinerja saham PT Panca Global Kapital Tbk dengan kode emiten PEGE di papan perdagangan bawah bursa. Saham investasi berkode PEGE ini harus rela kehilangan nilainya sebesar 17,46 persen dalam kurun waktu perdagangan sepekan terakhir. Koreksi ini menempatkan harga penutupan saham PEGE berada pada posisi yang cukup rendah di level 104,00 per lembar saham. Rapor akumulasi tahun berjalan emiten finansial ini menjadi salah satu yang terburuk karena anjlok hingga minus 54,39 persen dengan kapitalisasi pasar 294,68 miliar.

Kemiripan pola pergerakan dengan saham BAPA kembali berulang pada performa saham PT Graha Prima Mentari Tbk dengan kode emiten GRPM. Saham pengembang properti berkode GRPM ini mencatatkan nilai kerugian mingguan yang juga cukup signifikan yaitu sebesar 16,23 persen. 

Aksi jual yang melanda emiten ini memaksa harga sahamnya turun ke tingkat 258,00 per lembar saham pada penutupan sesi. Aksi penyesuaian harga ini menempatkan nilai kapitalisasi pasar perusahaan berada pada level 404,32 micro.

Sama seperti emiten properti sebelumnya, kejatuhan mingguan saham GRPM ini belum merusak struktur tren pertumbuhan jangka panjang perusahaan secara keseluruhan. Rapor akumulasi keuntungan tahun berjalan dari saham berkode GRPM ini tercatat masih melonjak sangat tinggi di angka 207,14 persen. 

Aksi bersih-bersih portofolio oleh para pelaku pasar modal juga ikut menyeret saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH). Saham pertambangan nikel berkode IFSH ini mencatatkan kejatuhan mingguan yang cukup terasa bagi para pemegang saham sebesar 15,36 persen. Koreksi ini memaksa harga saham premium IFSH mendarat pada level 1.130,00 per lembar saham. 

Emiten nikel ini mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar 2.401,25 miliar dengan porsi performa tahun berjalan yang untungnya masih terjaga positif di level 43,04 persen.

Tiga posisi terakhir dalam daftar sepuluh besar emiten berkinerja terburuk dihuni secara berurutan oleh saham WOOD, TCPI, dan TIRA yang bergerak kompak di zona merah. 

PT Integra Indocabinet Tbk dengan kode emiten WOOD mencetak kerugian mingguan sebesar 14,68 persen hingga harganya tersungkur di level 186,00 per lembar saham dengan kapitalisasi pasar 1.197,38 miliar. Kinerja emiten kayu ini masih tertekan berat dengan catatan tahun berjalan yang anjlok minus 50,79 persen akibat lesunya permintaan pasar ekspor global.

Sementara itu, saham pelayaran PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI) menempati peringkat sembilan setelah mencatatkan penurunan mingguan sebesar 13,67 persen. Kejatuhan ini membawa harga saham logistik tersebut berada di level 6.000,00 per lembar saham dengan nilai kapitalisasi pasar raksasa mencapai 30.000,00 miliar. Rapor tahun berjalan dari saham TCPI juga belum mampu keluar dari zona tekanan dengan mencatatkan penurunan minus 34,07 persen.

Menutup daftar emiten pembawa rugi pekan ini, PT Tira Austenite Tbk (TIRA) menempati posisi kesepuluh. Saham perdagangan baja berkode TIRA ini membukukan koreksi harga mingguan sebesar 12,71 persen hingga parkir di level 515,00 per lembar saham. 

Emiten ini mengamankan nilai kapitalisasi pasar sebesar 302,82 miliar meskipun kinerja jangka panjang tahun berjalannya hancur cukup dalam hingga minus 61,42 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
Syahrianto
Ass. Redaktur

Syahrianto

Jurnalis ekonomi dan pasar modal yang berpengalaman dalam menulis, menyunting, dan mengkurasi naskah harian serta konten analisis mendalam (in-depth analysis) seperti Insight Daily dan Insight Emiten yang berbasis data dan SEO. Secara reguler, mengarahkan reporter dan berkolaborasi dengan redaksi maupun lintas dividi, sekaligus bertindak sebagai penyusun, pengkonsep, dan host webinar mingguan KabarBursa Insight Emiten. Kini telah terverifikasi Wartawan Madya dari Dewan Pers (20183-LKBN ANTARA/Wdya/DP/II/2026/01/11/96).

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait