KABARBURSA.COM - Lonjakan suku bunga acuan serta meroketnya imbal hasil (yield) surat utang pemerintah memicu pergeseran strategi pendanaan korporasi di Tanah Air pada paruh kedua tahun 2026.
PT Sucor Sekuritas menilai situasi tersebut mendorong minat perusahaan untuk menggelar penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) sebagai alternatif utama demi mengamankan modal kerja dengan biaya dana (cost of fund) yang jauh lebih miring.
Kondisi pasar modal pada semester kedua tahun ini diproyeksikan bakal jauh lebih bergairah dibandingkan paruh pertama lalu. Kehadiran nakhoda baru di jajaran regulator pasar modal dinilai berhasil mengembalikan kepercayaan diri para pelaku usaha yang memiliki fundamental solid untuk segera melantai di bursa.
CEO PT Sucor Sekuritas, Bernardus Wijaya, mengungkapkan bahwa mahalnya beban penerbitan obligasi korporasi saat ini menjadi berkah tersendiri bagi pasar ekuitas domestik.
"Kaitan mengenai iklim IPO saat ini terutama di pasar ekuitas, tentu saja minatnya cenderung meningkat. Apalagi dikarenakan kita bisa melihat suku bunga yang meningkat, kemudian government bond yield yang meroket, sehingga mau enggak mau corporate bond issuance juga kuponnya naik. Sehingga IPO equity atau IPO saham itu menjadi salah satu alternatif yang menarik bagi para emiten untuk mendapatkan pendanaan dengan cost of fund yang rendah," kata Bernardus Wijaya, Selasa, 7 Juli 2026.
Bagaimana Prospek pada Semester II-2026?
Berbeda dengan penerbitan obligasi yang menambah beban bunga dan kewajiban pembayaran pokok saat jatuh tempo, dana hasil IPO merupakan pendanaan berbasis ekuitas sehingga tidak membebani arus kas perusahaan dengan pembayaran kupon.
Karena itu, ketika biaya utang meningkat, perusahaan cenderung lebih terbuka mempertimbangkan pasar saham sebagai sumber pendanaan jangka panjang.
Bernardus memproyeksikan aktivitas pasar perdana pada semester II tahun 2026 ini akan berjalan lebih menarik dan agresif. Keberhasilan sejumlah emiten baru yang melantai dengan rapor fundamental yang sehat di bawah pengawasan ketat OJK menjadi stimulus kuat bagi korporasi lain untuk ikut mengantre di pasar modal.
Sucor Sekuritas sendiri tengah bersiap mengawal pencatatan saham perdana emiten PRDL pada Juli 2026 ini. Selain itu, perusahaan penjamin emisi ini telah mengantongi dua draf perusahaan baru di dalam pipeline penjaminan mereka untuk sisa akhir tahun ini.
"Kalau Sukor Sekuritas nanti kan kita ada PRDL di bulan Juli, di awal semester II ini. Nah, kemudian di pipeline di second half, kita ada beberapa pipeline di sektor teknologi dan juga sektor media. Di dalam pipeline dua, cuma kita masih consider untuk akhir tahun ini di semester II atau semester I tahun depan. Kalau Sukor Sekuritas, kita market cap kita minimal di angka 200 miliar ke atas, tapi ya potentially bisa 1 T ke atas juga," urai Bernardus.
Mengenai prospek sektoral, Sucor Sekuritas melihat industri barang konskonsum dan ritel masih menjadi primadona yang tidak ada matinya karena memiliki kedekatan langsung dengan kebutuhan harian masyarakat. Kedekatan produk ini secara otomatis mempermudah sekuritas untuk menjaring pembeli siaga (standby buyer) maupun investor ritel.
Di sisi lain, sektor layanan kesehatan (healthcare) juga mencatatkan lonjakan minat yang luar biasa di awal semester II tahun 2026 ini sebagai dampak dari meningkatnya kesadaran kesehatan publik. Fenomena tersebut tecermin dari pemesanan saham PRDL yang mencatatkan kelebihan permintaan (oversubscribed) dalam jumlah besar.
Bernardus menegaskan, kunci utama kesuksesan eksekusi IPO di tengah pasar yang dinamis terletak pada rasionalitas valuasi dan keunggulan kompetitif emiten tersebut dibanding para pesaingnya.
"Kita harus lihat fundamental ya, apakah fundamental itu udah cukup bersaing atau tidak. Kalau tidak bersaing kan tentu saja minat dari investor sendiri akan kurang. Kita harus cek secara valuasi dan juga peers comparison, itu penting banget," jelas Bernardus.
Sebaliknya, Bernardus memberikan catatan merah bagi sektor teknologi yang diprediksi masih harus menghadapi tantangan berat akibat tren kebijakan moneter ketat.
Di era suku bunga tinggi, pelaku pasar cenderung bersikap menghindari risiko (risk-off) dan lebih memilih memarkirkan modal mereka pada sektor industri yang mampu memberikan kepastian keuntungan.
"Kalau yang masih challenging menurut saya di era suku bunga tinggi ini mungkin sektor teknologi. Makanya seperti saya bilang tadi, kita wait and see minat investor seperti apa. Karena tentu saja teknologi ini ketika suku bunga naik, yang dicari itu pasti sektor yang memberikan kepastian, yang lebih certain. Salah satunya adalah sektor consumer goods tadi itu," pungkas Bernardus Wijaya.(*)