Logo
>

Tertekan ADRO Hingga UNTR, IHSG Sesi I Tumbang

IHSG melemah di sesi I di tengah tekanan saham industri, sementara sektor teknologi menguat dan bursa Asia bergerak positif di tengah reli emas dan pelemahan rupiah.

Ditulis oleh Yunila Wati
Tertekan ADRO Hingga UNTR, IHSG Sesi I Tumbang
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Selasa, 27 Januari 2026, dengan tekanan yang cukup nyata. Hingga penutupan sesi I, IHSG tercatat turun 53 poin atau 0,60 persen ke level 8.921.

Tekanan indeks terjadi di tengah aktivitas transaksi yang tetap ramai. Volume perdagangan mencapai 332,4 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp15,11 triliun. 

Di dalam indeks LQ45, pergerakan saham terlihat terfragmentasi. Sejumlah saham justru mencatatkan penguatan dan masuk jajaran top gainers, di antaranya Surya Citra Media (SCMA), Dian Swastika Sentosa (DSSA), Elang Mahkota Teknologi (EMTK).

Lalu ada GOTO Gojek Tokopedia (GOTO), XL Axiata (EXCL), Bumi Resources (BUMI), dan Indosat Ooredoo Hutchison (ISAT). Kinerja saham-saham ini membantu meredam tekanan IHSG agar tidak melemah lebih dalam.

Sebaliknya, tekanan paling besar datang dari saham-saham berbobot besar yang masuk top losers LQ45, seperti Adaro Energy Indonesia (ADRO), Astra International (ASII), United Tractors (UNTR), Merdeka Copper Gold (MDKA), AADI, NCKL, dan Perusahaan Gas Negara (PGAS). 

Pelemahan saham-saham ini memberikan kontribusi signifikan terhadap koreksi indeks secara keseluruhan.

Dari sisi sektoral, kontras pergerakan terlihat cukup tajam. Sektor teknologi tampil sebagai yang paling bertenaga dengan kenaikan 0,97 persen, didorong oleh reli EMTK yang menguat 3,47 persen, GOTO naik 3,33 persen, BUKA menguat 1,27 persen, dan KIOS naik 0,71 persen. 

Minat terhadap saham teknologi menunjukkan bahwa sebagian investor masih memburu saham berbasis pertumbuhan, meski pasar secara umum berada dalam fase koreksi.

Sebaliknya, sektor industri menjadi pemberat utama IHSG dengan penurunan 3,45 persen. Tekanan paling terasa pada ASII yang anjlok 5,02 persen dan UNTR yang melemah 5,68 persen, diikuti SMSM turun 1,12 persen dan HEXA melemah 0,58 persen. 

Pelemahan sektor ini mengindikasikan kekhawatiran pasar terhadap prospek siklikal dan sensitivitas terhadap kondisi global.

Nikkei 225 Menguat, Emas Melonjak Satu Persen

Dari kawasan regional, bursa saham Asia justru bergerak cenderung menguat. Sentimen positif datang dari ekspektasi pasar terhadap musim rilis laporan keuangan emiten-emiten besar Amerika Serikat, seperti Microsoft, Apple, dan Tesla, yang dijadwalkan diumumkan pada pekan ini. 

Hingga perdagangan siang hari, Nikkei 225 Jepang naik 0,58 persen, Topix menguat 0,18 persen, Shanghai Composite naik tipis 0,03 persen, sementara Shenzhen Component terkoreksi 0,37 persen. CSI300 China menguat 0,30 persen.

Hang Seng Hong Kong melonjak 1,08 persen, Kospi Korea Selatan naik signifikan 2,14 persen, Taiex Taiwan menguat 0,74 persen, dan ASX200 Australia naik 1,01 persen. Penguatan regional ini menunjukkan bahwa tekanan di IHSG lebih bersifat domestik dan sektoral, bukan bagian dari koreksi Asia secara luas.

Di pasar komoditas, sentimen risk-off kembali terlihat. Harga emas melonjak 1 persen ke level USD5.066 per ons, mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di USD5.110 per ons. Harga perak bahkan melesat 6,4 persen ke USD110,60 per ons, tak jauh dari rekor USD117,70 yang dicapai sehari sebelumnya. 

Lonjakan logam mulia mencerminkan meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Rupiah Merosot Lagi

Di pasar valuta asing Asia, dolar AS bergerak fluktuatif. Yen Jepang melemah 0,28 persen ke 154,61 per dolar AS, dolar Singapura turun tipis 0,02 persen, dolar Australia melemah 0,09 persen, dan rupiah terdepresiasi 0,15 persen ke level 16.807 per dolar AS. 

Sementara itu, yuan China turun 0,05 persen, baht Thailand melemah 0,05 persen, sedangkan ringgit Malaysia justru menguat 0,21 persen.

Kombinasi pelemahan IHSG, penguatan bursa Asia, reli logam mulia, serta pergerakan mata uang yang cenderung defensif menunjukkan bahwa pasar domestik tengah berada dalam fase penyesuaian, di tengah arus sentimen global yang masih sarat ketidakpastian.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79