KABARBURSA.COM – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menuntaskan salah satu aksi korporasi penting pada pertengahan 2026 dengan menyelesaikan pengalihan seluruh saham hasil pembelian kembali (treasury stock) kepada karyawan melalui skema Employee Stock Ownership Program (ESOP).
Langkah ini sekaligus mengakhiri kepemilikan saham treasury perseroan yang selama beberapa waktu menjadi perhatian pelaku pasar.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan perseroan, sebanyak 91,75 juta saham treasury telah dialihkan secara bertahap sepanjang 24 hingga 29 Juni 2026. Dengan rampungnya proses tersebut, saldo saham treasury Bank Mandiri per 30 Juni 2026 tercatat menjadi nihil.
Penyelesaian pengalihan ini menandai berakhirnya salah satu tahapan aksi korporasi yang telah memperoleh persetujuan pemegang saham sejak Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 dan dilaksanakan sesuai ketentuan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 29 Tahun 2023 mengenai pembelian kembali saham perusahaan terbuka.
Distribusi Saham Buyback
Seluruh saham tersebut sebelumnya merupakan hasil program buyback dengan harga perolehan rata-rata Rp4.816 per saham. Dalam pelaksanaan ESOP, saham kemudian dialihkan kepada karyawan dengan harga pelaksanaan Rp4.130 per saham, sehingga nilai transaksi pengalihan mencapai sekitar Rp378,92 miliar.
Distribusi dilakukan dalam empat tahap. Pada 24 Juni 2026, perseroan mengalihkan 73,36 juta saham. Sehari kemudian sebanyak 281.100 saham kembali dialihkan, disusul 532.600 saham pada 26 Juni.
Tahap terakhir dilakukan pada 29 Juni melalui pengalihan 17,57 juta saham sehingga seluruh saham treasury berhasil didistribusikan.
Dari sisi struktur permodalan, aksi tersebut tidak mengubah jumlah saham beredar di pasar karena saham yang dialihkan berasal dari treasury stock yang telah dimiliki perseroan sebelumnya. Dengan demikian, tidak terdapat penerbitan saham baru yang dapat mengurangi kepemilikan atau menekan laba per saham (earnings per share/EPS) pemegang saham publik.
Karakteristik tersebut menjadikan aksi korporasi ini berbeda dengan penerbitan saham baru yang umumnya menambah jumlah saham beredar. Dalam skema ESOP Bank Mandiri, perpindahan kepemilikan hanya terjadi dari rekening saham treasury perseroan kepada karyawan tanpa mengubah struktur modal yang telah ada.
Saham Berhasil Rebound?
Selama proses distribusi berlangsung pada akhir Juni, pergerakan saham BMRI sempat mengalami tekanan. Harga saham bergerak turun dari kisaran Rp4.120 hingga mencapai level Rp3.810 pada awal Juli.
Pelemahan tersebut terjadi bertepatan dengan berlangsungnya proses pengalihan saham kepada peserta ESOP.
Namun setelah perseroan mengumumkan bahwa seluruh saham treasury telah selesai dialihkan dan saldo treasury menjadi nihil per 30 Juni, tekanan tersebut mulai mereda. Kepastian bahwa tidak terdapat lagi saham treasury yang tersisa menghilangkan salah satu faktor ketidakpastian yang sebelumnya menjadi perhatian investor.
Perubahan sentimen tersebut tercermin pada pergerakan saham sepanjang Juli. Hingga perdagangan 15 Juli 2026 pukul 14.40 WIB, saham BMRI berada di level Rp4.210 per saham atau meningkat sekitar 10,50 persen dibandingkan posisi pada 1 Juli.
Pada perdagangan tersebut, harga saham bergerak di kisaran Rp4.170 hingga Rp4.270 dengan harga pembukaan Rp4.220. Kapitalisasi pasar Bank Mandiri tercatat sekitar Rp389 triliun, sementara rasio price to earnings (P/E) berada di level 6,70 kali dengan dividend yield sekitar 11,36 persen.
Pemulihan harga saham setelah penyelesaian ESOP menunjukkan bahwa perhatian pasar mulai bergeser dari aksi korporasi menuju faktor fundamental perusahaan. Berakhirnya distribusi treasury stock membuat pelaku pasar kembali mencermati prospek kinerja operasional Bank Mandiri menjelang publikasi laporan keuangan kuartal II 2026.
Program ESOP sendiri juga menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat keterlibatan sumber daya manusia. Melalui kepemilikan saham, kepentingan karyawan dan manajemen diharapkan semakin selaras dengan pertumbuhan nilai perusahaan dalam jangka panjang.
Di sisi lain, aktivitas investor institusi juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar selama periode tersebut. Sejumlah arus dana masuk dari investor institusi tercatat berlangsung bersamaan dengan proses transisi penyelesaian treasury stock, sehingga memberikan tambahan likuiditas pada perdagangan saham BMRI.
Dengan berakhirnya seluruh proses pengalihan saham treasury, Bank Mandiri kini tidak lagi memiliki saham hasil buyback yang tersimpan di neraca perusahaan. Kondisi tersebut menandai selesainya satu rangkaian aksi korporasi yang telah berlangsung sejak program buyback sebelumnya dilaksanakan.
Ke depan, fokus pelaku pasar diperkirakan akan lebih banyak tertuju pada perkembangan bisnis inti perseroan, termasuk pertumbuhan kredit, kualitas aset, efisiensi operasional, penghimpunan dana murah (CASA), serta kinerja laba bersih yang akan tercermin dalam laporan keuangan kuartal II 2026.
Faktor-faktor tersebut akan menjadi indikator utama dalam menilai arah pergerakan saham BMRI setelah penyelesaian aksi korporasi ESOP.(*)