KABARBURSA.COM – Ketika pelaku pasar mulai bernapas lega karena perang Iran sempat mereda, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru membuat suasana kembali panas. Ucapannya yang meragukan kelanjutan gencatan senjata langsung memicu kepanikan di Wall Street. Harga minyak melesat, sementara bursa saham di berbagai negara kompak terseret ke zona merah.
Sentimen negatif itu muncul setelah Trump menyatakan kesepakatan penghentian sementara pertempuran praktis sudah berakhir. Meski begitu, ia masih membuka ruang bagi proses diplomasi untuk terus berjalan.
Dilansir dari AP, Kamis, 9 Juli 2026, Indeks S&P 500 turun 0,3 persen. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 562 poin atau sekitar 1 persen pada perdagangan Rabu siang waktu Amerika Serikat. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru masih mampu naik tipis 0,1 persen berkat penguatan saham-saham kecerdasan buatan atau AI, termasuk Nvidia.
Gejolak paling terasa terjadi di pasar energi. Harga minyak mentah Brent melonjak 5,8 persen menjadi USD78,43 per barel atau sekitar Rp1.333.310 per barel. Angka itu memang masih jauh dari puncak perang sebelumnya yang sempat mendekati USD120 per barel atau sekitar Rp2.040.000 per barel. Namun lonjakan ini tetap memicu kekhawatiran karena sebelumnya harga minyak baru saja kembali ke level sebelum konflik pecah.
Pasar menilai eskalasi perang berpotensi mengganggu lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dari Teluk Persia ke berbagai negara. Jika jalur itu terganggu, pasokan minyak dunia bisa tersendat sehingga inflasi berisiko kembali naik.
Kondisi tersebut juga berpotensi mempersulit langkah bank sentral, termasuk Federal Reserve. Jika inflasi kembali memanas, suku bunga kemungkinan harus dinaikkan lagi. Kebijakan itu memang bisa meredam inflasi, tetapi di sisi lain berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan harga berbagai instrumen investasi.
Tekanan di pasar semakin besar setelah Trump menyampaikan pandangannya mengenai gencatan senjata. “Bagi saya, saya rasa semuanya sudah berakhir,” kata Trump.
Meski demikian, ia mengatakan perwakilan Amerika Serikat masih bisa melanjutkan proses negosiasi. “Tetapi saya rasa mereka hanya membuang-buang waktu,” ujarnya.
Tak lama kemudian, Trump kembali membuat pasar waswas setelah mengatakan Amerika Serikat tengah bersiap melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran pada malam berikutnya.
Di Wall Street, saham perusahaan yang memiliki biaya bahan bakar besar langsung menjadi korban. Saham American Airlines turun 3,3 persen, sedangkan United Airlines terkoreksi 2,1 persen.
Sektor properti juga ikut tertekan. Investor khawatir kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat akan mendorong bunga kredit pemilikan rumah semakin mahal sehingga permintaan properti berpotensi melambat.
Builders FirstSource, perusahaan pemasok material bangunan seperti meja dapur dan jendela, merosot 3,6 persen. PulteGroup kehilangan 4,1 persen, sedangkan D.R. Horton terkoreksi 4 persen.
Saham Sherwin-Williams yang turun 3,4 persen dan Home Depot yang melemah 2,5 persen menjadi dua kontributor utama pelemahan Dow Jones, yang mencatat kinerja terburuknya dalam hampir satu bulan.
Di tengah tekanan tersebut, saham-saham AI justru menjadi penahan kejatuhan pasar. Dalam beberapa pekan terakhir, sektor ini memang sempat ditekan kekhawatiran bahwa valuasinya sudah terlalu mahal dan investasi besar di chip maupun pusat data belum tentu menghasilkan keuntungan sesuai harapan.
Meski begitu, bobot kapitalisasi saham AI yang sangat besar membuat pergerakannya mampu memberi pengaruh signifikan terhadap indeks Wall Street.
Nvidia melesat 3 persen dan menjadi penyumbang terbesar kenaikan S&P 500. Sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Wall Street, pergerakan saham Nvidia memiliki dampak besar terhadap arah indeks.
Penguatan juga datang dari Broadcom yang melonjak 5,9 persen setelah Apple mengumumkan kerja sama jangka panjang untuk merancang sekaligus memproduksi komponen khusus bagi berbagai produknya. Apple menyebut nilai kerja sama tersebut berpotensi melampaui USD30 miliar atau sekitar Rp510 triliun.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury Amerika Serikat ikut naik mengikuti lonjakan harga minyak. Yield obligasi tenor 10 tahun meningkat menjadi 4,58 persen dari sebelumnya 4,55 persen. Sebelum perang Iran pecah, imbal hasil obligasi tersebut masih berada di level 3,97 persen.
Bursa saham Eropa juga memperdalam pelemahannya setelah komentar Trump. Indeks DAX Jerman tercatat turun 2,2 persen. Di kawasan Asia, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 5,3 persen. Volatilitas tinggi masih dipengaruhi tarik ulur optimisme dan kekhawatiran terhadap saham-saham AI yang mendominasi pasar negara tersebut.
Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, indeks Hang Seng Hong Kong justru menguat 3 persen. Salah satu penopangnya adalah saham perusahaan rintisan AI asal China, Zhipu atau Z.ai yang diperdagangkan dengan nama Knowledge Atlas Technology. Sahamnya melesat 13,4 persen.
Kenaikan itu terjadi menjelang berakhirnya masa penguncian kepemilikan saham selama enam bulan bagi investor utama sejak perusahaan melantai di Bursa Hong Kong pada Januari lalu.
China National Radio melaporkan hampir 70 persen investor utama Zhipu memilih tetap mempertahankan kepemilikannya, meski sebelumnya sempat muncul kekhawatiran bahwa berakhirnya masa penguncian saham akan memicu aksi jual besar-besaran. Sejak resmi diperdagangkan di Bursa Hong Kong, harga saham Zhipu telah melonjak lebih dari 1.300 persen.(*)