KABARBURSA.COM – PT Astra International Tbk (ASII) mulai menggeser arah pengelolaan bisnisnya dengan memfokuskan perusahaan pada tiga sektor utama yang selama ini menjadi penyumbang terbesar laba perseroan, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan.
Reposisi strategi tersebut diumumkan Astra dalam momentum menuju tujuh dekade perusahaan melalui hasil tinjauan strategis menyeluruh yang disampaikan pada Senin, 25 Mei 2026.
Dalam strategi barunya, Astra menyatakan akan lebih fokus pada portofolio bisnis utama yang memiliki kinerja kuat, menjalankan pengembangan yang lebih terarah untuk bisnis lain, serta memperketat disiplin alokasi modal.
Presiden Direktur ASII, Rudy, mengungkapkan secara historis ASII memiliki bisnis yang terdiversifikasi yang menjadi nilai tambah bagi perusahaan hingga hari ini.
Seiring dengan perkembangan dinamika pasar, Astra mereposisi strateginya dengan memberikan fokus pada portofolio bisnis utama yang selama ini memiliki kinerja yang kuat, yaitu otomotif, jasa keuangan dan alat berat dan solusi pertambangan.
“Secara keseluruhan, strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rudy dalam keterbukaan informasi publik, dikutip Rabu, 27 Mei 2026.
Perseroan menyebut ketiga bisnis inti tersebut saat ini menyumbang sekitar 90 persen terhadap laba Astra.
Di sektor otomotif, Astra tidak hanya akan berfokus pada penjualan kendaraan baru, tetapi juga memperkuat seluruh ekosistem otomotif Grup Astra yang telah dibangun selama beberapa dekade.
Ekosistem tersebut mencakup penjualan kendaraan baru dan bekas, penjualan suku cadang, layanan purna jual, hingga jaringan pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara itu, bisnis jasa keuangan akan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi ekosistem melalui berbagai produk dan layanan untuk beragam segmen pelanggan.
Adapun pada bisnis alat berat dan solusi pertambangan, Astra akan memperkuat rantai pasok pertambangan sekaligus mengembangkan sumber pertumbuhan baru untuk mendukung daya saing jangka panjang.
Dalam menjalankan reposisi tersebut, Astra menyatakan telah mengevaluasi setiap unit bisnis berdasarkan tantangan pasar, posisi strategis di dalam portofolio grup, potensi laba masa depan, dan tingkat imbal hasil investasi.
Untuk portofolio bisnis di luar tiga sektor utama, Astra menyebut akan menjalankan strategi pengembangan yang lebih terarah dengan menitikberatkan pada keselarasan dengan ekosistem dan kapabilitas perusahaan, termasuk melalui kemitraan strategis.
Selain itu, Astra juga menyatakan akan memperkuat disiplin alokasi modal melalui belanja modal pemeliharaan, pembayaran dividen yang konsisten, investasi yang dinilai memberikan nilai tambah, serta pelaksanaan share buyback pada tingkat valuasi tertentu.
Selama periode 2015–2025, Astra mencatat laba bersih tumbuh lebih dari dua kali lipat dari Rp15 triliun menjadi Rp33 triliun atau meningkat 126 persen. Sementara itu, dividen kepada pemegang saham meningkat 245 persen dari Rp113 per saham pada 2015 menjadi Rp390 per saham pada 2025.
Di luar bisnis inti, Astra juga menyoroti pengembangan sumber daya manusia dan kontribusi sosial perusahaan. Astra menyebut saat ini memiliki lebih dari 190 ribu karyawan dan menjalankan program Desa Sejahtera Astra yang tersebar di lebih dari 1.500 desa di 35 provinsi dengan lebih dari 3 juta penerima manfaat.(*)