KABARBURSA.COM – PT Astra International Tbk mulai menyiapkan strategi baru menjelang perjalanan tujuh dekade operasionalnya. Strategi tersebut meliputi, pembagian dividen, investasi yang lebih selektif, dan pelaksanaan buyback saham pada valuasi yang dinilai tepat.
Presiden Direktur Astra, Rudy, mengatakan Astra akan memperkuat disiplin dalam alokasi modal untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan laba jangka pendek, menengah, dan panjang.
Rudy menjelaskan, secara historis, Astra memiliki bisnis yang terdiversifikasi yang menjadi nilai tambah bagi perusahaan hingga hari ini. Menurutnya, seiring dengan perkembangan dinamika pasar, Astra mereposisi strateginya dengan memberikan fokus pada portofolio bisnis utama yang selama ini memiliki kinerja yang kuat, yaitu Otomotif, Jasa Keuangan dan Alat Berat & Solusi Pertambangan, menjalankan strategi pengembangan portofolio bisnis yang terarah untuk bisnis lainnya, serta memperkuat disiplin dalam mengalokasikan modal.
“Secara keseluruhan, strategi ini diharapkan dapat memperkuat kualitas portofolio bisnis dan meningkatkan efisiensi modal yang menghasilkan pertumbuhan laba serta nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan,” ujar Rudy dalam keterangannya, dikutip Selasa, 26 Mei 2026.
Dalam strategi tersebut, Astra menyatakan akan tetap menjalankan belanja modal untuk pemeliharaan bisnis, membagikan dividen secara konsisten, melakukan investasi yang memberikan nilai tambah, serta menjalankan share buyback pada tingkat valuasi yang dianggap tepat.
Astra juga menyebut fokus utama perusahaan ke depan akan diarahkan pada tiga lini bisnis utama, yakni otomotif, jasa keuangan, serta alat berat dan solusi pertambangan yang saat ini berkontribusi sekitar 90 persen terhadap laba perusahaan.
Untuk bisnis otomotif, Astra akan terus mengembangkan ekosistem kendaraan yang mencakup penjualan mobil baru dan bekas, penjualan suku cadang, layanan purna jual, hingga jaringan pelanggan di berbagai wilayah Indonesia.
Sementara pada sektor jasa keuangan, Astra akan mengoptimalkan pengembangan ekosistem produk dan layanan untuk berbagai segmen pelanggan.
Adapun bisnis alat berat dan solusi pertambangan akan difokuskan pada penguatan rantai pasok pertambangan dan pengembangan sumber pertumbuhan baru.
Di luar tiga bisnis utama tersebut, Astra menyatakan akan menjalankan strategi pengembangan portofolio secara lebih terarah dengan menekankan keselarasan strategis terhadap ekosistem dan kapabilitas perusahaan.
Selama periode 2015 hingga 2025, Astra mencatat laba bersih meningkat lebih dari dua kali lipat dari Rp15 triliun menjadi Rp33 triliun atau tumbuh 126 persen.
Dalam periode yang sama, pembagian dividen kepada pemegang saham meningkat 245 persen, dari Rp113 per saham pada 2015 menjadi Rp390 per saham pada 2025.
Selain fokus bisnis, Astra juga menyoroti pengembangan sumber daya manusia dan kontribusi sosial perusahaan.
Saat ini Astra memiliki lebih dari 190 ribu karyawan dan menjalankan program Desa Sejahtera Astra yang telah tersebar di lebih dari 1.500 desa di 35 provinsi dengan jumlah penerima manfaat lebih dari 3 juta orang.
Saham ASII Turun 8 Persen
Di lantai bursa, saham ASII ditutup melemah 8,48 persen atau turun 475 poin ke level 5.125 pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026.
Berdasarkan data perdagangan, saham Astra bergerak di rentang 5.125 hingga 5.600 sepanjang hari dengan nilai transaksi mencapai Rp434,8 miliar dan volume perdagangan sebesar 82,65 juta saham.
Tekanan jual asing juga masih terlihat pada saham ASII. Nilai foreign sell tercatat mencapai Rp221,5 miliar, lebih tinggi dibanding foreign buy sebesar Rp193,4 miliar.
Secara valuasi, saham Astra diperdagangkan pada price to earnings ratio (PER) tahunan 8,87 kali dan PER trailing twelve months (TTM) 6,55 kali. Sementara dividend yield TTM tercatat sebesar 7,61 persen.
Dari sisi profitabilitas, Astra membukukan laba bersih kuartal I 2026 sebesar Rp5,85 triliun, turun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp6,93 triliun.
Secara tahunan, pertumbuhan pendapatan kuartalan Astra tercatat turun 5,63 persen, sementara laba bersih kuartalan turun 15,61 persen secara year on year.
Meski demikian, Astra masih mempertahankan pembagian dividen yang relatif tinggi. Dividend payout ratio tercatat sebesar 67,47 persen dengan dividen TTM sebesar Rp390 per saham.
Kinerja saham Astra juga masih berada dalam tekanan dalam beberapa periode perdagangan. Dalam satu bulan terakhir, saham ASII turun 18,97 persen dan terkoreksi 23,51 persen secara year to date. Namun, secara tahunan, saham Astra masih mencatat kenaikan 8,12 persen.(*)